Tentang Unicorn yang Lagi Ramai

Monday, February 18th, 2019 - Opini Publik

Unicorn itu perusahaan perintis (start-up) yang valuasinya mencapai US$1 miliar (Rp14 triliun). Apa itu valuasi dan kenapa nol-nya banyak banget, sebaiknya diketahui sekilas saja, ketimbang bikin Anda pusing. Valuasi itu nilai bisnis Anda, berapa duit usaha Anda nilainya. Menghitungnya banyak cara (yang pasti istilahnya rumit): bisa dilihat dari kapitalisasi pasar di bursa efek (jumlah saham beredar kali harga satuan), metode arus kas (pemasukan-pengeluaran), dsb. Valuasi itu, selain urusan angka, juga urusan psikologis, karena ini masalah prospek usaha. 

Perusahaan start-up unicorn yang ada di Indonesia sekarang mayoritas sahamnya milik pihak asing. Ya, gak apa-apa. Tidak ada aturan yang dilanggar sesuai aturan pemerintah tentang ambang batas kepemilikan saham asing di perusahaan digital. Kalau pun nanti dibatasi/dilarang, tenang saja, masih banyak orang ber-KTP Indonesia yang dengan senang hati meminjamkan nama untuk dicantumkan di akta PT. 

Bangun infrastruktur digital, memperluas dan mempercepat jaringan internet, serat optik dsb, penting. CEO Facebook dan CEO Google tentu sumringah mendengar 01 dan 02 mendukung penuh pembangunan infrastruktur digital itu. Setelah selama ini diuntungkan dengan percakapan sengit cebong-kampret di media sosial, serta penyebaran konten masing-masing yang memanfaatkan layanan iklan (ads) berbayar, Over The Top (OTT) semacam Facebook dan Google, juga Whatsapp, tentu senang “menumpang” di jaringan internet kencang orang Indonesia yang jumlahnya lebih dari 100 juta. Kalau dulu tiang listrik dibangun pakai duit PLN (negara) dan dipakai untuk menempelkan layanan TV kabel perusahaan tertentu secara gratis, apalagi OTT yang tidak perlu keluar biaya bangun infrastruktur tapi bisa menikmati tumpangan internet kencang. 

Kembali ke soal Unicorn. Kenapa bisa triliunan? Karena bisnisnya prospektif. Transaksinya aktif. Kalau transaksi kebanyakan orang Indonesia terlalu teratur: duit gaji masuk tanggal 1, keluar tanggal 2; masuk lagi tanggal 1 bulan berikutnya. Teratur sekali. 

Bayangkan Marketplace dan Ojol. Taruhlah sehari ada 1 juta transaksi di marketplace (transaksi apa aja, mulai dari peniti sampai karet gelang). Setiap transaksi ada biaya jasa Rp100 aja sudah 100 juta/hari, 3 miliar/bulan, 36 miliar/tahun. Kalau ada investor mau masuk, berapa pengalinya. Kalikan saja misalnya 20, bisa dijadikan ukuran valuasi perusahaan itu sebesar Rp720 miliar. Duitnya keluar segitu? Ya, gak lah. Jangan polos-polos amat. Tapi bisa dilansir ke media bahwa valuasinya mencapai sekian ratus miliar, sekian triliun, mendapat pendanaan asing (Seri A, B, C, dsb). 

Tapi bagaimana bisa ada transaksi 1 juta kali per hari itu. Ya, platformnya bagus dan paling penting promosi. Di mana promosi? Ya, di FB, Google, WA dan OTT dong. Bayar gak? Ya, bayar lah. Kalau gak bayar, darimana valuasi Google bisa US$155 miliar dan Facebook US$45 miliar per 2018. Emang duit dari doa. Mahal gak pasang iklan di Facebook dan Google? Coba aja sendiri. Tapi, punya kartu kredit gak? Kalau belum punya, bikin dulu sana. 

Jadi, Unicorn itu terjadi karena banyak hal. Platformnya ada, SDM-nya ada, regulasinya mendukung, pasarnya ada, investasinya ada. Siapa yang untung paling banyak? Kalau Zaky (BL) dan Nadiem (Gojek) pasti dapat lah, sebagai pendiri ada sahamnya, minoritas tapi. 

Yang menang banyak itu OTT (celakanya ini yang gak disinggung di debat). Makanya ini yang perlu diatur, termasuk pajaknya. Operator seluler untung gak? Untung, tapi kan mereka investasi untuk bangun infrastruktur. Pemasukan dari layanan data, voice, SMS, konten, dsb. 

Gambaran ke depan, OTT akan mendapatkan pemasukan lebih banyak di Indonesia seiring makin bagusnya infrastruktur digital dan membanyaknya pengguna internet nasional yang aktif, tidak hanya pada musim pemilu.

Bagusnya jadi bagaimana? Tidak tahu saya. Coba deh tanya sama caleg-caleg yang posternya pada nempel di tiang listrik sama kandang ayam itu. 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Tentang Unicorn yang Lagi Ramai | Agustinus Edy Kristianto | 4.5