Debat Capres: Fenomena Masyarakat Tanggung

Monday, February 18th, 2019 - Opini Publik

Kalau Anda/perusahaan (harus WNI, asing gak bisa!) punya HGU lahan minimal 5 hektare selama 25 tahun + 35 tahun (perpanjangan 1) + 25 tahun (perpanjangan “khusus”) terus Anda tanami sawit dan mulai memanennya 4-6 tahun berikutnya, begini cara mikirnya.

Modal sawit 1 hektare kira-kira Rp80 juta (udah semuanya mulai bibit, pupuk, biaya buruh tani, etc). Keuntungan per bulan bisa Rp20 juta (25%). Untuk modal, pinjam bank (karena HGU bisa jadi jaminan). Bunga kredit korporasi 9,5%-11%. Jadi masih ada selisih 15%. Kalikan saja 15% x Rp80 juta x jumlah lahan HGU Anda.

Salah gak secara hukum? Gak. Ini bisnis. Masih mending ada HGU daripada liar (banyak tuh di daerah-daerah). 

Masalahnya tiga: 1) Anda orang biasa, rakyat jelata, jadi susah dikasih HGU sama pemerintah; 2) Anda orang biasa, rakyat jelata, jadi bank mana percaya Anda mau main sawit; 3) Anda orang biasa, rakyat jelata, mana punya power kalau mau nekat main kebun liar di daerah.

Sekarang coba cek rekening di ATM dan catatan tagihan. Bungan cicilan rumah 9%-14%, bunga cicilan mobil di leasing 9%-12%, bunga cicilan kartu kredit 24%, bunga KTA 20%-30%, bunga cicilan HP… bayar asuransi…bayar utang waktu nikahan.

Anda naik gaji 5%/tahun dan gaji Anda pun belum tentu dua atau tiga digit. Itu pun kalau perusahaan Anda gak tutup. 

Ini namanya fenomena masyarakat nanggung: revolusi ogah, kapitalisme ogah, religius juga gak. Maka dari itu pas sekali kalau senjata satu-satunya yang kita miliki adalah: JEMPOL di medsos untuk nyinyir dan galak.

Hihihi.

  

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Debat Capres: Fenomena Masyarakat Tanggung | Agustinus Edy Kristianto | 4.5