The Guardian Soal Likes Facebook dan Selfie Bencana

Wednesday, December 26th, 2018 - Opini Publik

Foto: Theguardian.com

Kalau saya pemrednya, saya arahkan redaksi untuk masukkan berita ini ke halaman/kanal politik. Berita ini sarat muatan kritik ‘ideologis’ jika dilihat dari secara utuh (teks, gambar, konteks, diksi, narasi bertutur, momentum etc): perempuan berhijab (ada dua frame foto), dari sebuah kelompok pengajian di Cilegon, melakukan selfie di lokasi bencana Banten di sela-sela pemberian bantuan bagi korban yang dimaksudkan untuk diunggah di Facebook sebagai bukti bahwa bantuan sudah tersalurkan dan mengingatkan orang di luar lokasi bencana bahwa mereka harus bersyukur kepada Allah karena hidup lebih nyaman.

’Destruction gets more likes’: Indonesia’s tsunami selfie-seekers

Guardian tidak bodoh dan cuma berpikir traffic. Media kawakan Inggris (ada sejak 1830-an) seperti ini punya agenda setting yang kuat. Secara politik editorial, media ini cenderung ‘sayap kiri’ (tahun 2017 condong ke Partai Buruh). Ketika Perang Gulf dan konflik Israel-Palestina mereka berpengaruh dalam menentukan opini dunia terutama tentang bias anti-Semitisme. Secara ekonomi, media ini menyatakan keuntungan perusahaan akan dikembalikan bagi kepentingan jurnalisme, bukan pemilik. Mereka kembangkan program donasi untuk liputan isu perubahan iklim dan perbudakan dunia. Donaturnya antara lain Bill Gates, Ford, etc. 

Krakatau itu isu dunia. Simon Winchester menulis buku Krakatoa yang melegenda itu. Paus pada pesan Natal menyatakan ia bersama para korban dan mendoakan. Guardian tahu bencana Anyer ini disorot miliaran pemirsa dunia. Soal mempengaruhi opini dunia lewat media itu sangat penting. Lihat ISIS ketika pertama muncul lewat video menampilkan jihadis Chili (non-Arab) Bastian Vazquez/Abu Safiyya dengan Bahasa Arab terbata-bata untuk menunjukkan ISIS adalah gerakan Islam yang menyasar ekspansi global, bukan cuma kawasan Arab. ISIS maupun musuhnya kerap memanfaatkan BBC atau Al Jazeera untuk saling memantau/mengelabui. 

Menurut saya, Guardian memperkarakan dua hal pokok. Pertama, orang Indonesia memanfaatkan teknologi (internet) tanpa empati (KBBI: empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain). Kegagalan memanfaatkan Facebook, contohnya, untuk menghubungkan orang dalam relasi saling berbagi antarmanusia beradab. Ada kesenjangan sangat lebar antara teknologi yang maju dan rasa kemanusiaan yang paling mendasar. Ini persoalan besar.

Kedua, religi. Bagaimana keyakinan spiritual orang Indonesia merespons bencana. Lihat saja, beragam tanggapan orang Indonesia: ada yang menganggapnya ujian dari Tuhan, ajakan untuk kembali ke agama, statistik berkaitan dengan berapa kali bencana selama periode presiden, monyet sendirian yang menghadap pantai yang rusak, hingga yang seperti di berita, untuk mengingatkan bahwa kita lebih beruntung dari para korban etc. ‘Keragaman’ respons inilah yang menjelaskan mengapa di negara ini sebuah bencana bisa menjadi isu yang dimainkan sebagai nartu (narasi tunggal) harian untuk menyerang lawan politik masing-masing atau untuk menaikkan elektabilitas (dalam rangkaian evolusi manusia, memanfaatkan bencana untuk tujuan politik adalah perilaku yang dua tingkat lebih rendah dari primata paling purba).

Setiap keyakinan/agama tentu punya ajaran masing-masing tentang bencana — secara umum kejahatan/buruk. Apakah bencana/kejahatan berasal dari Tuhan? Apa pikiran Tuhan ketika mengirimkan bencana/kejahatan itu? Apa makna teologisnya? Apa pesan sosial-kemanusiaannya? Apa itu ujian dan mengapa Tuhan Yang Maha Segala perlu menguji manusia? Jika Tuhan adalah sumber kebaikan yang absolut, bagaimana pula Dia bisa mengirimkan bencana/kejahatan buat ciptaan-Nya? Konsekuensinya, apakah Tuhan ‘diskriminatif’ mengirimkan kebaikan untuk mereka yang benar dan bencana untuk mereka yang salah? Atau apakah Tuhan mengirimkan kebaikan baik bagi mereka yang baik maupun yang jahat nan tak tahu berterima kasih, semacam hujan turun bagi siapapun orang?

Itu semua diskusi panjang. Orang — apalagi media online —- biasanya malas ribet membahasnya. Tapi, apapun juga, likes di Facebook untuk sebuah sikap tanpa empati dalam sebuah kehancuran karena bencana alam adalah memalukan dan tidak patut. Likes di Facebook adalah produk pemikiran seorang Yahudi, yang bahkan dalam kepercayaan Yahudi sekalipun, tidak punya makna spiritual apapun, baik ketika masa sebelum maupun sesudah Bait Allah dihancurkan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

The Guardian Soal Likes Facebook dan Selfie Bencana | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: