Bosan Polemik Selamat Natal

Monday, December 24th, 2018 - Opini Publik

Saya tidak tertarik komentar soal polemik Selamat Natal. Apalagi soal terompet dan tahun baru. Biarlah yang lain saja. Bagi saya, Natal punya makna lain yang lebih penting bagi sejarah umat manusia lintas agama. Sayangnya, ini jarang dibicarakan.

Natal itu politik. Kehadiran agama Kristen juga politik. Tapi politik yang seperti apa dulu? Darimana kita tahu kisah kelahiran Yesus? Dari Injil, terutama sinoptik (Matius, Markus, Lukas), secara umum Perjanjian Baru. Asal tahu saja, injil itu istilah Arab, euaggelion Bahasa Yunani,  evangelium Bahasa Latin. Artinya kabar baik. Yang aneh justru orang Inggris, sebutnya gospel (Godspell). Kapan injil itu ditulis? Kurun 40-120 Masehi (kurang lebih 80 tahun). Siapa saja mereka yang menulis? Tidak bisa dipastikan. Para ahli kitab suci masih berdebat. Dari mana bahan penulisan? Dari kisah yang disebarkan mulut ke mulut lalu dicatat. Kok banyak yang percaya kisah Yesus atau Nabi Isa (Alquran)? Orangnya betul ada atau fiksi? 

Orang sering lupa konteks dan sejarah. Dipikirnya kalau bicara Yesus/nabi itu seperti bicara makhluk dari dunia lain. Hanya ‘kesaktian-kesaktiannya’ saja yang disorot. Padahal mereka adalah orang yang hidup dalam sejarah duniawi, sama seperti kita. Bagaimana mereka bisa memperoleh keistimewaan, terpilih, juga terjadi dalam ruang dan waktu sejarah. 

Yesus lahir semasa Herodes Agung berkuasa di Palestina. Orang ini ganas dan galak, berkuasa sejak 37 SM-4 Masehi. Nama Herodes bin Antipater. Bukan orang Yahudi asli seperti Yesus tapi keturunan Idumea. Herodes politisi ulung juga seorang pembangun ‘infrastruktur’ Bait Allah mulai 20 SM. Herodes ini bukan nama satu orang saja. Bedakan dengan Herodes Agrippa I yang menguasai Yudea 41-22 M. Yudea ini sendiri nama wilayah sebelum akhirnya dikenal sebagai Palestina. Setelah pemberontakan terhadap Roma gagal, Bait Allah dibakar 70 M, Yudea berganti Palestina dan Yerusalem berganti Aelia Capitolina. Sejak itu agama Yahudi dilarang di kota suci. 

Yesus sendiri orang Yahudi dan tidak pernah berniat mendirikan agama. Dia cuma ingin agar bangsanya yakni bangsa Israel bertobat dan mengikuti ajaran para nabi terdahulu. Tapi pengikutnya yang menyebarkan ajaran Yesus ke luar orang Yahudi, terutama dimulai dari Antiokhia. Ini orang Kristen namanya. Dimulai sekitar 100 M. Orang Kristen yang mana? Adakah perpecahan? 

Pada masa Islam muncul, era Nabi Muhammad SAW, tahun 600-an M, orang Kristen sudah ada, tapi bukan Kristen seperti yang dikenal sekarang: Kristen Bizantium (lihat QS 30: 2-6), Nestorian, Monofisit, Koptik, dan Kristen Abessinia. Apa yang tertulis dalam Alquran tentang Nabi Isa/Yesus mirip dengan keyakinan Kristen Nestorian, yang dipimpin Katholikos, tinggal di tepi Sungai Tigris (Baghdad) yang menjadi ibukota Sassania. Isa berbeda dengan Tuhan yang tidak mengalami penderitaan seperti dialami oleh tubuh manusia. Tapi Nestorian ini dikeluarkan dari kekristenan oleh Dewan Ephesus (431).

Begitulah sekelumit kisahnya kalau mau lihat sejarah. Susahnya sekarang, orang mudah mengotak-otakkan: kalau Arab pasti Islam, kalau Barat pasti Kristen. Jadi tidak asyik diskusinya. Perlu tahu juga, terjemahan Injil Matius pertama di Indonesia tahun 1629 oleh Albert Cornelisz Ruyl, mencantumkan doa Bapa Kami yang mungkin kalau dilansir sekarang jadi perdebatan karena memakai istilah mukmin: Bappa kita, jang berdudok kadalam surga: bermumin menjadi akan nammamu

Jadi intinya sebenarnya kita ini manusia yang hidup bersama dalam sejarah. Politik, suka, benci, sedih, gembira, ambisi, menang, kalah… adalah dinamika manusiawi. Yang penting bagaimana kita semua bisa saling mengasihi dalam damai. Makin ke sini makin harus penuh cinta dan beradab.

Selamat Natal.

(Referensi sebagian besar saya ambil dari tulisan C. Groenen, Karel Steenbrink, dan Daud Soesilo)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bosan Polemik Selamat Natal | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: