Pemotongan Nisan Salib Yogyakarta dan Minoritas yang Mengalah

Tuesday, December 18th, 2018 - Opini Publik

Secara jurnalistik, berita di bawah ini layak. Informasi mencakup semua pihak. Penulisannya tidak tendensius. Judul proporsional. Jadi, patut sebagai acuan untuk berkomentar.

Baca: Duduk Perkara Pemotongan Nisan Salib di Makam Purbayan Yogyakarta

Keterangan penting adalah wawancara eksklusif terhadap Ketua Lingkungan Gregorius Agung Sanjaya (GAS). Lingkungan adalah unit bawah dalam struktur kehidupan umat Katolik. Di atas Lingkungan ada Wilayah. Di atas Wilayah ada Stasi/Paroki. Di atas Paroki ada Keuskupan, dst. Sikap Ketua Lingkungan jelas: “… karena minoritas kami mengalah.” Sikap keluarga: no comment. Opini masyarakat muslim pun tidak seragam. Yang moderat bilang intoleran, yang sebagian lain bilang sudah cukup toleran, dsb. 

Saya Katolik. Saya bisa memahami sikap Ketua Lingkungan. 3 KK dari 150 KK adalah komposisi keluarga Katolik berbanding Islam di situ. Saya pribadi sudah terbiasa menghadapi situasi seperti itu (belasan tahun sejak kecil, pengeras suara mesjid mengarah ke kamar saya, sampai saya hafal beberapa bacaan Islam, selama SD saya ikut pelajaran agama Islam). Kenyataannya mirip dengan yang terjadi di tempat saya tinggal sekarang (Jagakarsa, Jaksel). Sulit bersikap menang-kalah. Ngotot-ngototan tiada guna. Harus pandai berdamai dengan keadaan: ibadah boleh diadakan tapi tanpa nyanyian; mau memakamkan ditanya palang apa bukan, noni apa bukan; simbol-simbol macam salib dan sejenisnya tidak terlalu ditonjol-tonjolkan; bangun gereja ada syarat-syaratnya…

Saya mengerti, setiap muslim punya sikap berbeda-beda terhadap non-muslim. Wajar saja. Tapi, diakui atau tidak, sejak kasus Pilkada DKI lalu, tensi agak meningkat. Meskipun gejala peningkatan tensi sudah saya amati menguat sejak awal masa reformasi. Ada sedikit banyak pengaruh dari dinamika politik nasional. Bahasa Gus Dur (alm), ada tendensi ke arah watak sektarian. Sektarian itu sendiri bukan cuma ada di Islam. Lihat perkembangan internasional, ada aktivis keagamaan Yahudi, Kristen, Sikh, Hindu, Buddha, Zoroaster/Parsi, dsb yang bergerak dengan cara sektarian pula. Ini pembahasan yang panjang.

Lalu mengapa bisa terjadi ini semua, padahal Konstitusi bilang kebebasan beragama dan beribadah dijamin? Idealnya begitu. Tapi di Amerika Serikat saja diskriminasi ras dan agama masih ada. Terakhir ada video seorang pendukung Donald Trump bersikap rasis di kereta. Bagaimana di Indonesia? Sejarahnya panjang. Portugis yang Katolik dan Belanda yang Kristen saja saling sikut saat mendarat di sini. Tapi ada juga seperti Romo Van Lith yang nge-blend banget di Muntilan, Magelang. Sarekat Islam saja pecah jadi merah dan putih. Semaun, tokoh komunis Indonesia, sejak 14 tahun jadi aktivis Sarekat Islam dan memimpin pemogokan petani; belum lagi Haji Misbach, sang haji merah (baca Zaman Bergerak, Takashi Shiraishi). Jadi Indonesia ini beragam dan sejarah dinamika beragamanya kaya, tidak tunggal.

Apa akar dari permasalahan seperti di Yogya, pilkada DKI, dsb? Apa yang harus dijadikan pelajaran? PENDIDIKAN POLITIK. Masyarakat harus dicerdaskan sehingga tidak terombang-ambing perilaku elite yang — ada juga — menggunakan isu agama untuk meraih kekuasaan dan uang pribadi/kelompok. Harus dipahami bahwa Indonesia adalah medan terbuka untuk perang ideologi, perlombaan massa, rivalitas ‘agama’ (dalam beberapa kasus). Ini bukan hanya monopoli Islam, seperti saya sebut di atas, Katolik/Portugis, Belanda/Protestan, dan sebagainya juga ada — meskipun dalam kadar dan cara yang tidak serupa, dalam bentuk misi atau zending. Keseluruhan sejarah panjang itulah yang mempengaruhi bentuk dan watak masyarakat Indonesia saat ini, terutama dalam hubungan antarumat beragama. 

Tapi kita perpendek saja, istilah ‘mengalah’ dalam kasus Yogya ini harus ditafsirkan secara positif, bukan dalam konteks dominasi mayoritas-minoritas. Kita tidak sedang berperang! Ada kebaikan umum, kestabilan ekosistem sosial, kesatuan bangsa/NKRI, Pancasila, pencaharian ekonomi, ketenteraman/kedamaian, yang harus dijaga. 

Dinamika politik biarkanlah berkembang asal tak melenceng dari Konstitusi, karena itu esensi demokrasi. Merespons yang — kerap disebut —- kebangkitan Islam saat ini, umat non-muslim harus cerdas dan proporsional. Saya berkawan dengan teman-teman HMI, PMII, KAMMI, bahkan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia, sejak kuliah. Saya juga menyantap literatur yang mereka baca: buku-buku Taqiyyuddin An Nabhani (ulama Yerusalem pendiri Hizbut Tahrir), revivalis Islam seperti Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthb, Muhammad Abduh, Hasan al-Banna… Banyak diskusi juga tentang gerakan Islam baru seperti dengan gerakan Tarbiyah/PKS, Dakwah Salafi, dsb. Bagaimana perang isu dalam Islam, saya pelajari dari Ahmad Naufal. Semakin memahami, semakin belajar untuk mengerti. Akrab. Bahkan kalau bercanda dengan teman-teman PMII, saya menyebut diri saya seorang kafir yang kaffah. Hehehe.

Soal gesekan seperti di Yogya, jangan dibawa melebar dulu, apalagi sampai ditunggangi politik jelang pemilu. Fokus saja pada soal teknis dulu. Kita sama-sama berpikiran baik. Jika memang pemakaman umum itu akan dijadikan pemakaman muslim, ada baiknya menyiapkan lahan baru untuk pemakaman non-muslim yang diadakan oleh gereja. Tokoh muslim setempat agar membantu pengadaan dan lokasinya. Di Katolik sudah ada namanya kardiwilasa untuk iuran kematian warganya. Soal palang salib model kayu begitu, memang sudah ketinggalan zaman, kurang keren. Ganti nisan batu yang bagus, ada lukisan salibnya, tapi khusus di pemakaman non-muslim. Soal misa/ibadah, oke jika tak memungkinkan di rumah, diadakan di kapel/gereja, dengan penjagaan bersama-sama (Banser boleh, FPI boleh, asal rukun).  Pelayanan kekristenan boleh dilakukan tapi jangan asal masuk, koordinasi dulu dengan tokoh masyarakat setempat. Yesus dan para rasul agaknya dulu juga santun bersosial seperti itu ketika mengajar.

Ya, kira-kira seperti itu yang minimal bisa kita mulai supaya kita semua selalu rukun.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Pemotongan Nisan Salib Yogyakarta dan Minoritas yang Mengalah | Agustinus Edy Kristianto | 4.5