Model Orang Indonesia Berhadapan dengan Uang

Thursday, December 6th, 2018 - Keluarga

Menarik juga ternyata “eksperimen sosial” saya selama  jualan properti pribadi kami setahunan terakhir ini. Macam-macam orang datang dan pergi. Beragam profesi. Aneka mental: lucu, songong, picik, pemalas, sombong, birokratis, fatalis, religius, serakah, dsb (kecuali komunis belum ada karena mungkin mereka tunggu revolusi untuk menghapus kepemilikan pribadi). Semuanya orang Indonesia.

Lama jualan properti? Betul. Tapi tetap ada logic-nya. Saya sudah baca laporan dari beberapa kantor jasa penilai, rentang waktu penjualan barang model begini memang lebih dari enam bulan. Perlu kesabaran lebih. Nilainya besar, setara orang bergaji minimal manajer menengah perusahaan non-UMKM yang bekerja 15 tahunan (dengan asumsi keadaan tetap, tidak peduli inflasi dll). Yang jelas, di atas batas minimal uang dalam perkara korupsi yang secara undang-undang bisa ditangani KPK. 

Tapi sebetulnya yang terpenting perkara kemurahan Tuhan dan mindset saja. Selama ini banyak yang terperangkap pada model berpikir yang kurang tepat soal uang.

Orang berpikir dan menjalani hidup sebatas isi dompet/rekeningnya. Karyawan/PNS berpikir sebatas gaji. Pengusaha berpikir sebatas aset. Padahal Tuhan kasih hidup manusia itu luas dan indah. Tuhan tak menciptakan manusia berdasarkan cetakan kantong. Pekerjaan boleh hanya buruh tapi berpikir dan bermimpi besar tidaklah dilarang. Bukan pidana juga. Berpikir dan bermimpi besar adalah kunci kemajuan dan kreativitas. Pintu perubahan hidup yang lebih baik. Siapa pun bisa jadi lebih bermartabat, tak peduli isi kantongnya berapa.

Warisan lama: birokratis, ribet, dan banyak curiga tidak jelas. Budaya yang gampang dibikin susah adalah basis makelarisme. Karena susah, ada nilai yang harus dibayar. Di situ birokrasi dan makelarisme tumbuh subur. Kalau terlalu simpel dan apa adanya, orang malah curiga ada apa-apanya. Padahal itu yang betul. Kalau di peradilan istilahnya cepat dan murah. Banyak orang yang kaya raya dari kegiatan nyusahin orang ini. Celakanya pejabat — yang nyusahin orang ini — biasanya malah didaulat jadi tokoh masyarakat di lingkungan, padahal ini aneh. Gaji pejabat berapa sih, siapa yang gaji? Harusnya pejabat itu adalah yang paling rendah “kastanya” karena dia pelayan kita.

Kebanyakan orang berpikir seperti bank berpikir. Bank berpikir dua hal: apa agunannya? Berapa penghasilan bulanannya? Bank tidak mau berbisnis dengan orang miskin. Kalau mau disetujui kredit untuk properti di atas, penghasilan minimal Rp30 juta dan harus bayar biaya provisi dll plus pajak. Rp100-an juta di muka wajib ada. Belum DP. Padahal ada banyak cara selain bank. Tak harus tunai di muka semua juga. Kalau berpikirnya seperti bank, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. (Kadang saya heran, kalau ada orang yang sombong sekali kerja di bank. Padahal gaji dia dari bunga nasabah. Harusnya justru malu. Yang boleh bangga itu orang yang sering dan banyak nitip uang di bank, karena berarti jadi majikan si sombong itu).

Frekuensi hasrat tidak nyambung. Kerja di Kuningan, rumah jangan jauh dari Kuningan, sementara gaji pedalaman. Dikasih yang dekat, kemahalan; dikasih yang jauh, tempat jin buang anak katanya. Kelar cerita;

Secara psikologis kalah duluan. Lalu minder. Menyalahkan orang lain atau meratapi nasib, mohon dikasihani orang. Gampang banget sebut orang duitnya tidak berseri, taipan, duitnya gak habis tujuh turunan tanpa kritis pada hitungan konkretnya. Sekaya-kayanya orang, sumber bisa dilacak. Seorang pengusaha yang perusahaannya lumayan banyak dan bagus pernah bilang ke saya, duit banyak gak ada di pengusaha, yang punya duit itu negara. 2.000 triliun tuh APBN;

Kaitan sama psikologis, alhasil mudah dikelabui. 1 caleg Rp5 miliar. 300 caleg DPR berarti 1,5 triliun. Berbondong-bondonglah orang daftar itu ormas sambil sukarela serahkan KTP. Terus ormas itu lolos verifikasi parpol dan ikut pemilu. Rp5 miliarnya mana? Ya gak ada. Kan sudah pecah kongsi, tapi kan lolos verifikasi yang penting. Begitu. Padahal modalnya cuma konpers sama penganan kecil buat wartawan; kalau pemilu, dijanjikan olah 1 TPS 3 juta per 30 suara. Terus ada yang janjikan lagi 5 juta, janjikan lagi 10 juta. Namanya janji bebas. Pas hari H kabur, kasih 1 juta juga masyarakat kepepet akhirnya kegiring juga;

Penuh trik. Terlalu banyak gocek. Lihat saja mengapa kafe-kafe Jakarta penuh selalu. Ya, buat gocek-gocek itu. Kadang tidak fokus pada tujuan, hasilnya gak jelas. Ngolah terus. “Kalau di bawah udah beres urusan pembagiannya, baru bisa jalan tuh barang.” Seorang mantan jaksa agung aja pernah saya lihat bawa berkas-berkas dan ngolah perkara di kafe.

Terlalu serius dan berpikir bahwa komisi adalah satu-satunya dan segalanya. Pikirannya komisi 2,5% terus. 2,5% kali sekian, lumayan buat liburan akhir tahun. Kenapa tidak berpikir bahwa anda sendiri bisa jadi pemilik? Jadi pemilik kan tidak harus melek-melek tunai di muka. Pemegang hak siar liga Indonesia bayar DP 5%, terus perjanjian hak siarnya dijaminkan buat unduh uang. Saham goreng bawah, serok, beli, goreng lagi, jual atas. Bikin surat utang, lalu jaminkan (kertas doang itu). Banyak trik. Bukan begitu permainan pencopetan kelas atas?

Kalau jualan, stress duluan darimana modal dan siapa pembelinya. Padahal modal gak harus uang. Nyari pembeli lebih mudah ketimbang cari penjual yang jujur dan fleksibel bayarnya. Coba dipikir.

Terlalu yakin bahwa Power Point dan seminar adalah solusi. Padahal persahabatan, kejujuran, reputasi, dan ketekunan jauh lebih penting. Power Point masuk tong sampah, tapi keluhuran abadi. Ini yang harus dilatih sebenarnya.

Kesimpulan kerap aneh. Kalau teman jualan, dianggapnya lagi kepepet dan butuh uang. Padahal semakin sering transaksi, orang semakin terlatih menghasilkan uang. Karyawan/PNS yang pemasukan sebulan sekali, biasanya beda cara pandangnya dengan orang usaha yang setiap hari transaksi. Orang beli rumah karena sudah cinta banget tentu beda dengan orang yang beli rumah sebagai alat investasi jual-beli. 

Terakhir, ribet banget sama capres. Padahal Jokowi atau Prabowo gak tanggung jawab kalau debt collector datang ke rumah kita.

OK. Segitu dulu yang bisa saya catat. Salam hangat.

NB: Properti saya ini memang beneran dipasarkan. Jadi saya ini jualan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Model Orang Indonesia Berhadapan dengan Uang | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: