Betapa Kasihan Penonton Bola Indonesia

Tuesday, December 4th, 2018 - Opini Publik

Tirto betul mengupas siapa saja bos di belakang PT Liga Indonesia dan klub-klub yang menjadi pemegang sahamnya. Basisnya tepat: akta PT yang resmi dari Ditjen AHU Kemenkumham. Kelihatan jelas sekarang siapa ‘penikmat’ sepakbola nasional yang sebenarnya.

Baca selengkapnya di sini.

Rochy Putiray di channel Asumsi juga kurang lebih tepat dengan bilang, buang-buang waktu nonton sepakbola Indonesia. Poinnya adalah kalau mau perubahan, jangan ditonton itu liga-liga Indonesia karena yang mereguk untung besar adalah para bos. Dalam bahasa bisnis, Rochy bicara tentang pasar.

Orang mendirikan PT tujuannya jelas: untung! Dilihat ada pasar (pembeli), berinvestasi di situ, dapatlah selisih (imbal hasil). 88% penggemar sepakbola di Indonesia adalah penggemar kompetisi sepakbola nasional. 168 juta penduduk Indonesia adalah penggemar fanatik kompetisi nasional. Pertumbuhan fansnya naik 17% setiap tahun. Itu angka dari VIVA (Bakrie) per 2014 yang dulu kuasai hak komersial ISL. Ada badan hukum lain yakni BV Sports ketika itu yang membuat perikatan dengan PT Liga Indonesia untuk penayangan hak komersial ISL selama 10 tahun (diteken 2013). Nilanya Rp1,5 triliun alias Rp150 miliar/musim. Bagaimana bayarnya? Tunai? Tentu bodoh kalau tunai. Cicil dong. Termin. Tapi kalau di luar orang memandangnya bahwa bos ini tidak berseri duitnya. Lucu aja.

Kalkulator di Balik Kisruh PSSI-Menpora

Badan hukum macam PT itu kan benda mati. Isinya yang makhluk hidup. Dulu 99% saham PT Liga Indonesia dikuasai PSSI dan 1% dikuasai Yayasan Sepakbola Indonesia yang dipimpin NDB. RUPS 2011 berubah 99% dipegang klub peserta ISL dan 1% milik PSSI. Sekarang pemilik PT Liga Indonesia Baru (LIB) silakan baca di Tirto. 

Sampai di sini jelas: hak komersial adalah kunci selain pemasukan tiket (mencakup hak siar, branding, sponsorship, merchandise, dsb). Kalau sekarang pemegangnya adalah grup SCTV. Indosiar 99%-nya milik SCTV (hasil penggabungan dengan PT Indosiar Karya Media). Perusahaan induk SCTV adalah EMTEK. Tak ada banyak informasi dari laporan keuangan emiten ini soal Liga Indonesia. Hanya tercantum pendapatan iklan perusahaan ini per Maret 2018 sebesar Rp1,3 triliun. Nanti akan beroperasi juga PT Surya Citra Gelora, anak usaha, yang bergerak di bidang jasa manajemen sepakbola, hiburan, dan iklan.

Kalau liga semarak, berarti PT Liga Indonesia untung? Kalau perusahaan untung, klub sebagai pemegang saham dapat banyak dividen dong? Lantas mengapa bayar gaji pemain dan pelatih aja pada ngap-ngapan? Sederhana saja: saham itu kan ibaratnya sehelai kertas saja. Pegang banyak belum tentu untung. Masalahnya adalah siapa sebenarnya pengendali operasional harian perusahaan itu. Laporan keuangan dibuat rugi pun lumrah. Karena rugi yang pemegang saham tidak dapat dividen. Nanggung utang malah bisa. Tapi karena badan hukumnya PT, utang ini tidak bisa dikejar pribadi per pribadi. Secara hukum dipisah antara kekayaan pribadi pemilik dan kekayaan perusahaan. 

Federasi ada, badan hukum usaha ada, mitra penyiaran ada, sponsor ada, klub ada, jalan lah barang ini dengan semarak. Yang terpenting penonton ada, pemirsa ada. Main congklak dimulai. DP dari pemegang hak siar, bayarkan dulu sebagian buat utang, sisanya subsidi klub. Masuk pembayaran termin 2 dari sponsor, bayarkan utang ini-itu. Hak siar sekian tahun jaminkan dulu buat utang ke kreditur. Begitu seterusnya. 

Klub-klub pun harus ‘kreatif’ cari uang buat gaji dan operasional bulanan. Contoh dalam perkara Vigit Waluyo (Deltras Sidoarjo). Pinjam Rp3 miliar ke PDAM dengan bunga 6% setahun. Urusan apa PDAM yang bukan lembaga pembiayaan bisa pinjamkan uang ke klub. Alasan sederhana: karena Deltras ikon Sidoarjo. Lihat salinan putusan kasasi 318 K/Pidsus/2014. 

Jadi sebenarnya kecintaan dan kegilaan kita terhadap sepakbola Indonesia dan timnas itu rawan dimanfaatkan untuk kemakmuran para bos. PSSI itu ibarat negara di dalam negara. Konstitusinya adalah Statuta (artinya hanya mengikat internal mereka saja, kalau di LSM itu seperti Walhi). Putusan Badan Yudisialnya tidak dapat dibawa ke peradilan umum (Pasal 142 Kode Disiplin PSSI 2018). Dibekukan ngadu ke FIFA (yang belum tentu bersih juga). Tapi cari uangnya di Indonesia, bikin PT-nya di Indonesia. Pasar/konsumennya orang Indonesia. 

Soal Timnas? Statuta PSSI itu tidak mengatur bahwa timnas Indonesia harus berprestasi. Cuma diatur tentang Badan Pengelola Timnas Indonesia yang targetnya cuma “melakukan pengelolaan dan pendayagunaan Timnas Indonesia”. Ngambang banget kan? Ketum PSSI juga tidak ada kewajiban memajukan sepakbola Indonesia menurut Statuta. Tanggung jawab utama ketum PSSI itu cuma melaksanakan keputusan Kongres, mengawasi Sekjen, memelihara hubungan baik antara PSSI dan anggotanya, FIFA, AFC, AFF, serta badan pemerintahan dan organisasi lainnya (Pasal 40 Statuta PSSI). 

Jadi mungkin benar juga kata Pak Ketum: “Kalau wartawannya baik, Timnasnya juga baik.” Soalnya tugas utamanya memelihara hubungan baik!

Kalau mafia judi bagaimana? Ada sih pasti. Tapi judi bola itu punya logika dan hukumnya sendiri: hukum bandar. Orang yang paham sedikit tentang teori peluang dalam matematika pasti tahu bahwa bagaimana pun hasilnya bandar pasti untung. Tapi kok ada yang repot-repot atur-atur hasil pertandingan? 

Kalau itu sih namanya bisnis jasa/makelar. Selama ekosistemnya korup, jasa begini pasti subur. Pasarnya jelas: pejabat yang memanfaatkan reputasi klub, klub yang takut terdegradasi, pemain yang takut tidak dapat klub, sponsor yang takut kekurangan pemirsa/penonton, penonton yang takut tidak punya hiburan selain nonton bola (padahal kalau dipikir katanya bola itu hiburan di tengah sumpeknya hidup. Harusnya hidup orang-orang Indonesia lah yang harus diperbaiki biar tidak sumpek, biar nonton bola bukan cuma hiburan tapi menuntut prestasi kan?). 

Korupsi dan ketakutan itu adalah teman sepermainan. Kalau dua hal itu lenyap, baru kita bisa berharap timnas bisa berprestasi internasional.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Betapa Kasihan Penonton Bola Indonesia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: