Milenials Harus Punya Rumah

Sunday, November 25th, 2018 - Opini Publik

Poin berita ini bagus: orang sulit punya rumah. Meskipun itu bukan cuma perkara milenials. Yang tua juga sama masalahnya. Berita selengkapnya di sini.

Kita kesampingkan dulu mengeluh pada pemerintah, DPR, capres, caleg/politisi, dsb. Sederhana saja: mereka semua itu tidak punya kewajiban untuk membelikan Anda rumah, seloyal apapun Anda sama mereka. Rumah ya urusan Anda masing-masing.

Masalahnya memang rumit sekali. Alasan pertama dalam berita ini adalah “terlalu jauh”. Ya, ini umum terjadi. Ditawari yang murah, bilangnya terlalu jauh. Ditawari yang di Jakarta, bilangnya mahal, gak sanggup beli. Kantong sama hasrat gak ketemu. Ujung-ujungnya pilih gaya (experiences bahasa milenialnya): tinggal di kost eksklusif >5 jutaan, makan di Kempinski, nge-wine di Vin+, goyang di Dragonfly, nyambung ke Kota.

Alasan kedua, gak masuk syarat bank. Milenial banyak yang freelance, anti-kantoran, anti-mainstream, gaji gak rutin. Sementara bank senang kalangan pensiunan, PNS, dan karyawan, karena fixed income, tinggal potong tiap bulan. PNS gaji kecil tapi tunjangannya besar, kata orang bank. Usaha sampingannya juga maju, apalagi kalau gak ada KPK. 

Alasan ketiga, gak kuat DP. Apalagi plusnya banyak: provisi, sinking fund, notaris, hak tanggungan, asuransi jiwa, asuransi kebakaran, appraisal, pajak pembeli, dsb. Kalau DP 30% + biaya lain-lain itu 15 % sudah hampir separuh harga propertinya. Anda cicil 5 tahun paling pokok utang ngurang 20 juta. 90% cicilan awal pasti untuk bunga. Mana ada bank  mau untung di belakang.

Tapi, mumpung lagi ada property expo, minimal ada kemauan dulu, yang penting. Ajak pacar/pasangan lihat-lihat barang, ambil brosur, mainkan kalkulator sambil pikir sabetan apa yang bisa diolah. Kalau tunggu nabung dari gaji, berat. Gak kekejar. 

Kalau nekat, mainkan barang yang remang-remang (rumah murah tapi surat samar-samar atau barang sengketa sekalian tapi kita rapikan lagi), yang penting latihan transaksi dulu, jadi makelar buat ngumpulin modal (seorang petinggi perusahaan konglomerat pernah menasihati saya: “Mulailah dengan jadi calo.”). Berteman dengan advokat, kurator, orang lelang juga bagus buat cari-cari celah properti miring. Intinya berhubungan baik dengan sebanyak-banyak orang dari beragam kalangan itu penting, seringkali kita tidak pernah tahu siapa “malaikat” yang dikirimkan Tuhan kepada kita.

Lakukan sampai darah kita habis demi punya rumah  (rumah keringat sendiri, bukan warisan) buat keluarga. Kecil atau gedongan, gak penting. Lokasi gak harus di Menteng, gak penting juga. Nyicil atau tunai, bebas, itu cuma masalah cara. Yang penting, tulis Theodore KS, “Rumah kita sendiri.”

Akal harus panjang. Bergerak perlu strategis dan cerdas. Doa jangan putus (dalam hati aja gak perlu dilihat-lihatin). Kenapa harus begitu? Karena sebagian besar kita adalah orang-orang biasa, pasangan kita orang biasa, orang tua kita orang biasa. Tapi kita harus merdeka dan bertindak luar biasa, salah satunya dengan memiliki rumah sendiri.

NB:

Status ini bukan iklan acara property expo, bukan juga pesanan bank yang lagi gencar promo KPR, bukan pula kampanye gerakan masyarakat penikmat riba dan segala manifestasinya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Milenials Harus Punya Rumah | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: