Frekuensi Publik Televisi untuk Tayangan Sampah

Tuesday, November 20th, 2018 - Bisnis Media, Opini Publik

“Wartawan-wartawan” infotainment gak usah terlalu “kreatif”. Goreng sana-sini gosip Angel-Vicky buat cari rating. Pemilik PH dan televisi jangan cengar-cengir raup untung dari frekuensi publik televisi. Enak aja.

Kalau emang seleranya “berita” macam begitu, jangan pakai frekuensi umum. Bikin sendiri sana di Merkurius atau Pluto. Frekuensi umum —- punya bangsa Indonesia —- dipakai seenaknya: buat makan (iklan), buat aksi market, buat promosi lagu bini, buat penyaluran hobi anak, buat kampanye, buat misi agama sendiri, buat gerebek istri, buat klarifikasi zina, buat ngolah kasus…Keterlaluan bener.

Topiknya gak penting. Pelakunya bukan penyelenggara negara. Apa ngaruhnya buat hidup kita? Kalau artis, apa karyanya? Kalau tokoh, apa hebatnya? Kalau berbakat, apa jenisnya? Kalau cakep, apa cakepnya?

Pakai frekuensi publik untuk urusan kebaikan publik. Tayangkan: belajar Iqra, siraman rohani yang sejuk, lomba band pelajar, kompetisi bola anak kecil, sosialisasi kebijakan dan hukum, pentas seni, pembelajaran bahasa, film bermutu, konser yang epik, kuliah umum, belajar bisnis, pokok dan tokoh inspiratif, wisata nusantara, kekayaan adat…

Berlebihan menayangkan aib rumah tangga juga berpotensi orang-orang merasa “puas” bahwa di tengah hidup mereka yang sebenarnya tidak bahagia-bahagia amat, ternyata ada contoh lain yang lebih bapuk. Sesat pikir yang luar biasa. Bukan karena hidup kita beneran bermutu melainkan karena contoh yang dikasih televisi umum itu yang berkadar sampah.

Pe-ak betul.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Frekuensi Publik Televisi untuk Tayangan Sampah | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: