Via Vallen, SID, Pelacur

Monday, November 12th, 2018 - Opini Publik

Di satu sisi, saya bisa memahami perasaan J dari SID yang merasa karyanya dipakai orang lain tanpa izin. Saya juga pernah mengalami. Gondoknya bukan main. Lalu saya mengadu ke polisi berdasar UU ITE. Dalam gelar perkara, pihak yang saya adukan, lebih jumawa, bilang saya: bodoh. Hasilnya: polisi kasih SP-3 setelah perkara berjalan 2,5 tahun.

Semangatnya mungkin juga mirip: melindungi kesucian karya, menghargai jerih payah pembuat, berharap karya yang bagus menghasilkan pendapatan yang bagus supaya karyawan bisa gajian, syukur-syukur tulisan yang kita buat bisa menggerakkan sebuah perubahan sosial, keadilan, pembelaan buat orang lemah. Tapi, ujungnya, yang diadukan memajukan advokat yang —- kata dia sendiri —- dibayar US$2.700 untuk menghadapi saya.

Daftar kata-kata makian lengkap tersimpan dalam hati saya. Kalau pun keluar, sedikit, paling saat dalam pengaruh Martell di kamar-kamar nyanyian. Hahaha.  Mau bagaimana lagi: hidup seringkali berlangsung tidak seperti yang kita mau. Saya harus bisa “berdamai” dengan kenyataan. 

Tapi ada yang beda. Apa yang saya simpan, dikeluarkan oleh J dari SID. Dan itu ada konsekuensi hukum. Tudingan “pelacur” berpotensi penghinaan/pencemaran nama baik. Apa betul J dari SID sedang berjuang untuk kepentingan umum atau membela diri? Menurut Pasal 27 Ayat (3) UU ITE ancaman maksimal 4 tahun penjara, denda maksimal Rp750 juta. Kalau KUHP di Pasal 310. Syaratnya: Via Vallen mengadu ke polisi (delik aduan).    

Hingga saat ini saya lihat tak banyak media memberitakan soal hukum dalam berita itu. Apa berarti kita ini bangsa yang senang maaf-memaafkan? Tidak percaya pada proses hukum? Senang bermasai-masai tanpa membahas substansi? Menganggap benar begitu saja karena SID adalah potret ideal seniman pembela kepentingan rakyat? Menganggap pedangdut semacam Vallen memang layak dibegitukan? Atau memang begini cara promosi karya atau panjat sosial? 

Mungkin tak akan lama lagi fakultas-fakultas hukum bakal sepi peminat karena  pertanyaan soal hukum bukan lagi “terbukti atau tidak?” Melainkan “viral atau tidak?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Via Vallen, SID, Pelacur | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: