Kisah tentang Hidup, Seminar, Entrepreneur

Sunday, November 11th, 2018 - Bisnis Media

Ada yang WA saya begini: “Mas, pernah ikutan public lecture yang mengubah hidup gak?” Saya tanya: “Maksudnya?” Terus saya dikirimi video yang isinya tentang entrepreneur (wirausaha). Kalimatnya — seperti biasa —- dari SD sampai kuliah kita tidak pernah diajari entrepreneurship. Berat betul perbincangan, pikir saya. Semacam ditanya, “Sudahkah Anda lahir baru?”

Intinya, mungkin saya mau diajak seminar.

Apa itu perubahan? Perpindahan dari satu titik ke titik lain. Hijrah. Perubahan yang seperti apa? Apakah perubahan selalu baik? Apa itu baik? Bagaimana kita sadar bahwa kita berubah? Filsuf Herakleitos bilang, kita tidak bisa masuk ke sungai yang sama untuk kedua kali. Tidak ada yang tetap di dalam alam semesta. Semua berproses menjadi. Semua mengalir. Jadi hidup pasti selalu berubah. 

Nah, jadi ribet kan urusan. Tapi mari bicara perubahan.

Saya hampir tidak pernah ikut seminar motivasi, pengembangan diri, dsb yang konon bisa mengubah hidup. Tapi saya menghargai orang-orang yang rajin mengikuti kegiatan semacam itu. Saya merasa saya ini pemalas. Malas membaca buku-buku tips pengembangan diri, salah satunya. Waktu kuliah malah saya ikutan kelompok nyinyir yang menyebarkan pamflet sindiran: A Chicken Soup for The Chicken Soul. 

Karena saya pemalas, saya lalu berpikir, mencari jawaban, cara hidup apakah yang paling ringkas untuk mencapai tujuan hidup yang bahagia. Cara yang legal. Cara yang tidak melawan Tuhan dan nurani. Alhasil, dalam pengembaraan pikiran itu, saya justru kerepotan sendiri. Dari yang seharusnya aman digaji oleh perusahaan media yang mapan, berubah menjadi jantungan karena bekerja untuk yayasan yang tahu sendiri deh, dan berujung malah tidak ada yang menggaji sama sekali, dan dalam keadaan seperti itu malah harus menggaji orang. Mampuslah.

Kenapa bisa “kacau” begitu? Itu konsekuensi dari jawaban atas pertanyaan dalam pikiran saya. Satu-satunya cara cepat menjadi CEO suatu perusahaan adalah mendirikan perusahaan sendiri. Maka, banyaklah saya mendirikan perusahaan. Persoalan untung atau tidak, soal lain. Yang terpenting, saya pikir, bagaimana mau kaya kalau kapalnya tidak ada. Ya, saya buat kapalnya dulu dan pelan-pelan mengarungi samudera. Ndlalah, teman-teman saya yang advokat cerdas juga pikirannya. Kata mereka, apa buktinya kalau kamu pengusaha? Punya PT? Punya karyawan? Punya hasil produksi? Punya utang. Kurang itu, kata mereka. Kalau belum digugat, belum sah secara hukum kalau kamu pengusaha. Belum diakui pengadilan. Mantap. Ujung-ujungnya, adalah saya digugat dalam status sebagai pemilik dan direktur.  

Dalam situasi sulit semacam itu, saya pernah terlintas: “Mungkin, kita perlu seminar,” kata saya ke salah seorang rekan. Cari deh seminar yang menurut kami bukan sejenis Chicken Soup for The Chicken Soul. Seminar yang konkret. Yang spesifik. Misal: bagaimana cara mewarisi aset konglomerat tanpa harus menjadi anak/keturunan konglomerat. Alhasil berlabuhlah kami ke sebuah seminar akuisisi aset properti yang awalnya gratis, kemudian diminta bayar Rp100 ribu, Rp7,5 juta, dan berakhir Rp35 juta/orang. Nyerah. Ternyata seminar tidak memecahkan persoalan saya. Meskipun lumayan ada gunanya juga beberapa ilmunya. Masih setengah matang itu ilmu saya terima, langsung saya terapkan di lapangan. Ada yang hasil, ada yang tidak. Yah, kira-kira hasil diperoleh 25% dari ilmu seminar, sisanya kebesaran Tuhan dan kenekatan yang luar biasa. 

Ternyata, tanpa seminar pun, hidup saya berubah cepat. Gak karu-karuan maksudnya. Seperti pesawat low-cost yang alami turbulensi. Kalau seminar saja sudah tidak bisa memecahkan persoalan kebahagiaan hidup, kemana lagi harus bertumpu? Saya bilang ke rekan, “Banyak doa deh. Minta ke Tuhan supaya dijauhkan dari blunder.” Mulailah eling meningkat, waspada menguat, kejelian terasah, ketekunan diuji.

Saya pikir-pikir, saya harus fokus mengeksploitasi keahlian saya yang paling utama: bermimpi dan mengkhayal. Mulailah bermimpi, dicatat, tawarkan, lobi…Terus-menerus. Ketemu banyak orang, banyak rintangan, macam-macam. Untuk mengenali orang — terutama para politisi, pebisnis, dan sejenisnya —- saya terbantu sekali dengan hobi saya: membaca. Membaca salinan putusan pengadilan. Dari dulu saya suka mencari nama orang-orang besar (konglomerat, tokoh, politisi) di putusan-putusan pengadilan. Saya mau tahu siapa mereka-mereka ini dalam dirinya sendiri sebagai manusia biasa. Terutama dalam putusan perkara cerai. Ternyata ya sama saja kayak kita-kita ini mereka. Ribet juga hidupnya. Jadi, saya buang jauh-jauh itu pikiran ada orang yang duitnya tidak berseri. Orang seterlihat kaya apapun pasti ada caranya kumpulin duit. Saya pernah geli sendiri. Ada orang yang kalau di media koar-koar tentang entrepreneurship, kemandirian, tapi yah kalau butuh duit cepat sekolahin surat ke bank juga. 

Jadi intinya soal seminar dan entrepreneurship ini harus kritis juga. Kalau sudah dari sononya keturunan konglomerat ya wangi banget; kalau cuma caplok-caplok perusahaan tanpa pikirkan proses kreatif mencipta, ya beda urusan; kalau goreng-goreng isu di market lantas nyopet di bursa, juga lain ceritanya; apalagi kalau cuma jual kekuasaan birokrasi terus bisik-bisik sama pelaku usaha dan dapat komisi, ya jauhlah; kalau dari zaman krismon 1998 sudah ngolah BLBI, Century, dsb yang ujungnya dipakai untuk menguasai aset yang nilainya melambung sekarang, beda kisah itu…

So, apa itu entrepreneurship yang cocok buat orang-orang seperti saya ini, yang terlalu banyak perubahan hidup, kurang yakin pada kekuatan seminar, dan tidak punya orang tua seperti Perdana Menteri Kamboja Hun Sen yang memberikan jabatan tinggi kemiliteran dan politik kepada tiga anak laki-lakinya — yang bergelar doktor dan master —- dengan alasan, “Saya harus mencarikan pekerjaan buat mereka.”

Catatan: saya mengucapkan terima kasih dan hormat kepada relasi-relasi saya yang sampai hari ini masih mau mendengarkan mimpi-mimpi saya dan membantu saya dalam keadaan apapun. Kiranya persahabatan, kebaikan, kejujuran, dan kerendahan hati satu sama lain, adalah anugerah terbesar yang Tuhan kasih buat kita. 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Kisah tentang Hidup, Seminar, Entrepreneur | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: