Gay di Depok yang Bisa Mengelabui Kita

Sunday, November 4th, 2018 - Dapur Berita, Teknik Liputan

Kalau dimintakan saran bagaimana menyikapi berita semacam ini sekaligus memberantas gay di Kota Depok, saya sederhana saja: sarankan reporter/redaktur berita ini untuk alih profesi. 

https://www.viva.co.id/berita/metro/1090136-dinas-kesehatan-ada-1-418-pria-gay-di-depok

Untuk isu sesensitif ini, tidak layak sajian beritanya sementah dan sedangkal ini. Bayangkan. Jika suatu kali (amit-amit) Depok terhempas bencana, dengan santai akan ada yang bilang penyebabnya adalah kerusakan moral yang semakin menjangkiti Depok, buktinya gay makin banyak. Ingat kisah zaman Nabi Luth (Lot dalam Perjanjian Lama). Atau, jika foto ibu Kepala Dinas itu diganti dengan diagram, bagan, ilustrasi gambar, dsb yang dibuat dramatis dan “menakutkan”, orang Depok bisa saling mencurigai di antara mereka adalah gay. Tampang orang Depok tampang gay. Orang akan mudah merasa bersih sendiri dengan beranggapan, Puji Tuhan saya tidak gay, beda dengan yang sebelah. 

Ini contoh kasus dimana media massa justru menjadi bagian dari persoalan. Masyarakat harus kritis ketika membaca yang seperti ini. Ibu ini, yang digaji dari pajak rakyat, menyebut angka persis 1.418. Bukan kisaran angka. Angka itu berarti 0,13% dari jumlah pria Depok berdasarkan data BPS Depok tahun 2016. Karena yang berbicara adalah otoritas pemerintah (Dinkes) wartawannya berpikir pasti tepat. Padahal belum tentu.

Data seperti ini sangat mungkin bisa mengelabui kita. Dengan berlindung di balik otoritas Dinkes. Dinkes punya kepentingan, Kepala Dinkes punya kepentingan. Biar dianggap kerja, biar terlihat ada kepedulian terhadap moral masyarakat, biar didukung program HIV/AIDS-nya, biar muncul anggaran baru, biar mendapat muka di hadapan atasan, dsb adalah beberapa kemungkinannya.

Tak dipikir dulu, bagaimana dia tahu angka itu, bagaimana cara memperolehnya, bagaimana memetakannya: kuesioner? (Berapa dibagikan, berapa yang kembali, berapa yang tidak kembali, dsb), wawancara? (Bagaimana caranya, apa semudah itu orang mengaku gay, bagaimana membedakan orang berkata bahwa dia gay dan bahwa dia gay, dsb), laporan dari RT/RW/Kelurahan/LSM? (Bagaimana metodenya), berdasarkan izin kegiatan LGBT? (Memangnya semua yang ikut kegiatan LGBT adalah LGBT), berdasarkan kasus di kepolisian? (Polisinya aja tidak melansir data resmi), pengamatan/observasi? (Bagaimana caranya), berdasarkan apa coba?

Definisi tidak jelas. Waktunya tidak jelas. Sampelnya tidak jelas. Kasusnya tidak jelas. Metodenya tidak jelas. Tempatnya tidak jelas. Di tengah ketidakjelasan itu semua, malah ditanya kondisi tahun sebelumnya bagaimana. Yang jelas adalah barang ini tidak kredibel. Tidak layak dijadikan pegangan. Kalau tujuannya adalah pencegahan HIV/AIDS dengan cara edukasi, cara begini justru kontraproduktif dan tidak mendidik. Persoalan pokoknya kabur. Bedakan antara jumlah gay sebagai topik berita dan program penanggulangan HIV/AIDS sebagai kebijakan pemerintah. 

Makanya, sedini mungkin, kita ajari diri sendiri, anak, keluarga kita untuk kritis dan tidak gampang dibodohi oleh informasi.  

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Gay di Depok yang Bisa Mengelabui Kita | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: