Milenial dan Politik, Apa yang Terpenting?

Tuesday, October 30th, 2018 - Opini Publik

Saya khawatir perbincangan masyarakat mengenai milenial dalam kampanye pemilu kali ini justru akan membawa kita pada kesesatan berpikir yang menjerumuskan dalam perjalanan hidup generasi milenial itu sendiri. Saya takut ini cuma heboh-hebohan politik saja. Saya cemas pokok persoalan justru luput. Saya ngeri kalau cuma permukaannya saja yang ditangkap. Terbukti dalam debat di Mata Najwa pekan lalu, kebahagiaan milenial oleh kedua timses capres disebut “sebatas” ketersediaan internet, wifi kencang, tidak jomblo, jalan-jalan, dsb. 

Kategori milenial yang umum diterima adalah mereka yang lahir 1980-an, 1990-an, awal 2000. CSIS memakai kategori 17-29 tahun. Litbang Kompas 17-37 tahun. Mereka adalah Y Generation, Generation Me, Echo Boomers, yang pada 2016 diteliti perilaku  konsumsinya secara khusus oleh produsen gawai dan teknologi, Ericsson. Mereka adalah orang-orang yang, menurut KPU, 35-40% terdaftar dalam DPT Pemilu 2019.

Saya kurang simpati terhadap politisi yang bersilat lidah tentang nasib milenial. Sok tahu pula. Memberikan sanjungan selangit, harapan segunung, tapi nir-program konkret. Di tangan milenial yang sebetulnya kalangan yang emosinya belum stabil, jam terbang belum begitu banyak, penuh kecemasan akan hidup dan masa depan, ambisi yang meluap tapi blok mesin masih kurang, dsb, janji dan retorika politisi bisa membuat milenial ini jadi generasi frustrasi. Generasi mangkrak. Generasi misuh-misuh!

Lihat hasil survei CSIS (2017). Kebahagiaan utama milenial adalah sehat, ada waktu luang untuk keluarga/kerabat, pekerjaan/karier yang mapan, cukup uang. Hal-hal semacam kehidupan agama, kontribusi untuk masyarakat, (apalagi) menolong orang lain adalah tiga terbawah (artinya bukan hal “utama” yang bikin mereka bahagia). 

Lihat survei Kompas kemarin. Milenial ini kalangan yang hampir tidak puas terhadap seluruh hasil kerja pemerintah, tapi mereka juga yang paling besar harapannya bahwa negara ini akan lebih baik ke depannya. Persoalan mereka cebong atau kampret, tidak penting. Yang jelas, terlihat ada kecemasan akan hidup yang dijalani, sembari berharap masa depan bakal cerah.

Ada kecenderungan solusi disederhanakan. Asal sebut istilah start-up, fintech, high-tech, enterpreneur, unicorn; lihat itu Nadiem Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dsb, dikira masalah milenial bisa kelar. Padahal tidak sepenuhnya benar. 

Nyatanya, kebutuhan dasariah manusia tetaplah hulu dan hilir kebahagiaan. Milenial atau bukan milenial, sama. Jasmani yang sehat, perasaan yang sehat dengan berkumpul bersama keluarga/sesama, pengakuan dalam bidang profesional, dan kecukupan uang untuk menikmati hidup ini adalah penting. Seharusnya, ini yang harus dikejar kepada pengelola negara. Yang harus ditagih kepada capres-capres. Bagaimana caranya supaya semua kebahagiaan itu bisa kita cecap bersama. Jangan cuma oleh keturunan orang kaya lama saja. Apa programnya? Bagaimana rekam jejak para calon selama ini? Apakah masuk akal dengan janji-janji manisnya?

Yang berikutnya adalah bisnis. Mau mikro, kecil, menengah, kakap, sama saja prinsipnya: kapitalisme! Misal start-up. Jangan dipikir Anda membangun start-up hebat lantas duit ngucur langsung dari langit. Sama saja. Bisnis perlu uang, perlu jaringan, perlu reputasi, perlu tekun, dan yang terpenting mau melayani dan berbagi. Makan batagor waktu sekolah aja ngumpet-ngumpet biar gak diminta teman kok mau berbagi untung dan menggaji orang. Begitu kasarnya. Saya untung duluan, yang lain kecipratan saja udah syukur. Saya pernah jika ditotal memiliki 100-an karyawan, dan sejujurnya saya tidak berharap banyak pada mereka dalam kinerja. Bisa senang dan tidak bersungut-sungut dalam bekerja saja sudah luar biasa. Saya coba realistis terhadap keadaan dan mental orang.

Bukan cuma produk an sich yang penting tetapi niat baik dan proses dan kerja keras di balik itu. Mental orang-orangnya. Pun, satu lagi, ekosistem bisnisnya seperti apa yang ada sekarang. Anda buat start-up, anda ngos-ngosan gaji orang, anda dibantu malaikat investor, produk anda besar dan mulai kelihatan untung, anda dicaplok, anda jadi karyawan malaikat anda. Begitulah kapitalisme. Anda mau melawan bandar-bandar kakap itu? Perusahaan kapital itu? Memangnya dipikir yang modali Gojek, Grab, Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, Mataharimall, dsb, itu koperasi yang disusun sebagai usaha bersama atas dasar kekeluargaan.

Saya juga tidak berharap banyak presiden mendatang bisa 100% membalikkan keadaan dan memberikan kebahagiaan paripurna buat milenial. Tapi setidaknya kita bisa reka-reka dan timbang-timbang upayanya. Langkah-langkahnya. Program-programnya. 

Mungkin 02 betul menyatakan segelintir orang menguasai sebagian besar kekayaan alam. Mungkin 01 betul menyatakan winter is coming. Terus milenial mau apa? 

Ingat saja. Lawan dari sehat adalah sakit. Sakit butuh biaya berobat. Supaya tidak menggerus harta anda ketika sakit, butuh proteksi semacam asuransi. Untuk punya asuransi anda harus menyiapkan dana; untuk berkumpul bahagia bersama keluarga, anda perlu rumah. Kalau tidak ada warisan, anda perlu membeli atau menyewa. Untuk itu perlu uang. Kalau uang tidak cukup, anda perlu waktu. Nyicil maksudnya. Untuk nyicil, anda harus punya penghasilan 3 kali lipat dari nominal cicilan anda; untuk punya karier bagus, anda harus punya pekerjaan. Untuk bekerja anda perlu perusahaan. Agar gaji anda terjamin dan naik, perusahaan perlu untung. Agar perusahaan untung, anda perlu memberikan nilai lebih dalam kinerja; jika wiraswasta, anda perlu kesemua hal dan tambahan lain-lainnya dari yang disebutkan sebelumnya, tak cukup hanya pintar teori dan sekolah tinggi: sehat, kuat, kreatif, semangat, reputasi, lobi, kecerdikan keuangan, jaringan investor/partner, wawasan pengetahuan, dan belas kasih Tuhan. 

Dalam perjuangan hidup sehari-hari yang keras seperti tergambar di atas itu, saya heran setengah mati kalau ada milenial yang masih ribut politik tidak karuan, caci maki sana-sini, bikin/sebarkan hoax, saling cemooh SARA, dan hal-hal sejenis yang menjijikkan. Termasuk terpapar omong kosong busuk politisi.

Milenial bukan cuma persoalan generasi melek IT. Milenial itu cara hidup menuju bahagia secara cerdas dan beradab. 

 

  

  

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Milenial dan Politik, Apa yang Terpenting? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: