Katolik, RUU Pesantren, Bahasa Arab

Tuesday, October 30th, 2018 - Opini Publik

Sikap KWI terhadap RUU Pesantren dan Pendidikan. Tautannya di sini: Rilis KWI.

Soal syarat minimal 15 peserta sekolah minggu (pendidikan nonformal) dan izin Kanwil Kemenag tidak disebut. Katolik lebih jauh berpendapat pendidikan nonformal dan informal tak usah diatur sama sekali di UU ini karena merupakan bagian dari peribadatan gereja yang bersifat mandiri.

Selebihnya persoalan peristilahan/bahasa yang kurang teliti. Penggunaan beberapa lema Arab dalam bab tentang tujuan UU diminta untuk dikaji ulang karena tidak dikenal dalam Katolik dan agama non-Islam padahal UU ini mengatur tidak hanya Islam, misal istilah diniyah, ta’awun, tawazun, dan tawasut. Ini berbeda dengan istilah asing yang sudah diserap dalam Bahasa Indonesia. Misal: Allah, Nabi, Rasul, Injil (Bahasa Arab); sengsara/samsara, dosa (Bahasa Pali/Buddha); manusia, dharma (Hindu). 

Soal istilah/bahasa perlu teliti. Sebab istilah Arab tidak selalu Islam (tampak dalam ungkapan dukacita di negara-negara Arab contohnya).

Orang-orang Kristen Timur misalnya sampai saat ini pun memakai Bahasa Arab dalam doa dan peribadatannya. Namun, bagi yang mengerti, Bahasa Arab yang digunakan oleh orang Islam memiliki formula teologis yang berbeda dengan Kristen, meskipun sama-sama Bahasa Arab dan semua berlangsung baik-baik saja di sana (Lihat contoh dalam gambar yang saya kutip dari buku Bambang Noorsena. Doa syukur orang Kristen dalam Bahasa Arab).

Lalu soal sumber ajaran untuk pendidikan Katolik tidak hanya dari Alkitab (tulisan) tapi juga Tradisi Suci. Orang Katolik mengenal apa yang disebut Wewenang Mengajar Gereja dalam doktrinnya.

Ya, RUU ini memang masih mentah. Perlu banyak masukan dari semua pihak. Jangan buru-buru diketok. Nanti malah ribet diuji materi sana-sini di MK.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Katolik, RUU Pesantren, Bahasa Arab | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: