Media dan Industri Kreatif Kunci Kemajuan Sepakbola

Friday, October 26th, 2018 - Opini Publik

Ebuset. Irak dimakan 0-5 sama lawan kita Minggu nanti di perempat final AFC u-19 2018. Seberapa gregetnya Jepang?

Sebetulnya kalau dari bakat sih sama aja. Postur juga relatif mirip sama orang kita. Semangat bertanding pun demikian agaknya Bisa jadi anak-anak Indonesia (U-16 dan U-19 terutama) lebih unggul malah. Cuma bedanya menurut saya satu: lingkungan. Timnas Jepang tidak sekali jadi langsung jago begini. Mereka dibentuk. Mereka direncanakan dengan baik. 

Ngomong soal PSSI, capek. Saya sampai berpikir mungkin cuma umur yang bisa menyelesaikan persoalan. Generasi tua berganti generasi muda. Nanti. Sementara ini kita kasih dulu kesempatan lebih banyak lagi buat generasi tua memimpin. Biar puas.  

Di Jepang, ada orang namanya Tom Byer asal USA. Mantan pemain yang tidak terlalu sukses di lapangan tapi sukses bikin sepakbola di Jepang maju filosofinya. Pelaku media massa dan industri kreatifnya adalah kunci kemajuan di sana.

Biar bergairah, diciptakanlah tokoh Captain Tsubasa. Lalu ada program Oha Suta dan komik KoroKoro. Coaching clinic sepakbola rutin di televisi yang ditonton sampai 5 juta anak setiap tayang. Byer yang gagas itu dengan paduan Coerver Method yang diadaptasi dari metode Belanda. Nestle adalah perusahaan yang konsisten menyokong program pelatihan Byer ini. 

Anak-anak Jepang latihan taktik dan passing belakangan. Nomor satu adalah penguasaan bola. Mereka disuruh latihan sendirian, menguasai bola, yang mungkin membosankan dibandingkan dengan cara umum langsung main barengan di lapangan. Banyak latihan sendiri meningkatkan percaya diri. Jadi mereka punya dua hal penting: imajinasi sepakbola mereka berkembang lewat produksi kreatif media dan kepercayaan diri tumbuh karena metode kepelatihan yang spesifik dan tepat. 

Pendeknya: anak-anak Jepang paham siapa itu superbintang dalam sepakbola dan hal itu menginspirasi mereka untuk latihan keras.

Di Indonesia kan tidak. Imajinasi sepakbola anak-anak kita terbatas. Apa yang mau dicontoh dari federasi yang acak-acakan, liga yang sejarahnya sarat darah dan suap, masa tua pesepakbola yang hidup pas-pasan tak tentu nasib? Apa pula yang mau dicontoh dari televisi yang menayangkan terus debat politik rendahan, sinetron yang menakut-nakuti anak-anak tentang kehidupan setelah mati, dan gosip-gosip artis yang tidak jelas itu?  

Untung saja anak-anak U-19 ini istimewa. Dalam lingkungan sosial yang jauh dibandingkan dengan negara seperti Jepang itu, mereka bisa melangkah sampai perempat final, mengalahkan UEA, yang justru didukung sebagian orang kita pula!

Waktu 4 hari memang tidak sebanding untuk mengejar cara dan metode yang sudah dilakukan Jepang. Tapi beruntunglah sepakbola itu adil dalam dirinya sendiri: pemain sama-sama sebelas, gawang ukurannya sama, waktu main sama-sama 2×45 menit, dsb. Kejutan bisa datang diam-diam. 

Jika berkenan, Tuhan bisa kasih Indonesia kesempatan minimal dua kali ikut piala dunia: sekali waktu masih dijajah, sekali lagi waktu sudah merdeka. Sekarang! 

  

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Media dan Industri Kreatif Kunci Kemajuan Sepakbola | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: