Analisis Isu dan Logistik Jokowi-Prabowo

Thursday, October 25th, 2018 - Opini Publik

Kalau membaca hasil survei Litbang Kompas ini, menurut saya, isu SARA sudah relatif basi untuk dipakai dalam kampanye. 

Isu jual-beli kasus hukum dan fakta bahwa sebagian pelaku korupsi justru dari “orang dalam” pemerintahan adalah hal yang paling membuat apresiasi publik terhadap pemerintahan Jokowi terkoreksi (turun). Malah isu price and jobs yang dilancarkan kubu 02 untuk menyerang 01 kalah pengaruhnya untuk melemahkan basis politik 01.

Di lain sisi, membangun pertahanan dengan data-data statistik kinerja kesuksesan 01 dibandingkan dengan 02 yang baru sebatas janji juga bukan satu-satunya faktor penguat 01. Ada kata bijak, “Temanmu tidak butuh data itu dan lawanmu tidak akan percaya itu.”

Tak bisa dipungkiri, 01 dan 02 punya basis pemilih yang fanatik masing-masing. Tidak tergoyahkan mau dicekoki apapun juga, kasarnya begitu. 02 misalnya di kelas menengah Jabar, Sumbar, Riau, Banten, DKI Jakarta. Tapi ada juga pemilih bimbang yang belum mau ungkap siapa pilihannya, dan persentasenya relatif besar.

Jadi masuk di akal jika selanjutnya 02 mulai serius pada isu jual-beli hukum “orang-orang pemerintahan” dan 01 mulai memberikan porsi seimbang antara isu data/angka dan kepemimpinan (leadership) yang sifatnya lebih abstrak-simbolik (karena 01 butuh penguatan di citra diri itu).

Tapi minimal, dari survei itu tergambar, seharusnya bangsa ini bisa naik kelas menjadi bangsa yang lebih beradab dengan tidak menggoreng isu SARA.

Semua ini penting saya kemukakan karena menurut hitungan saya, “logistik” dari bohir masing-masing baru akan cair pada bulan-bulan November/Desember atau malah bisa meleset pada awal tahun depan. Dan saat itulah isu akan makin mengental karena bensin sudah tersedia; pun barisan saksi dan sel penggerak pemilih di TPS-TPS akan disolidkan.

Kalau sekarang masih pemanasan. Paket hemat. Masih pada modal sendiri.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Analisis Isu dan Logistik Jokowi-Prabowo | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: