Meikarta, Denny Indrayana, #advokatkorup

Thursday, October 18th, 2018 - Opini Publik

Mas Denny Indrayana (DI) pernah saya serang secara terbuka lewat status FB ini. Pangkalnya adalah kicauan berserinya di Twitter dengan tagar #advokatkorup. 

Advokat koruptor adalah koruptor itu sendiri. Yaitu advokat yang membela kliennya yg nyata2 korupsi, menerima bayaran dari uang hasil korupsi,” kicaunya demikian.

“Lawan korupsi sejak pikiran. Pikiran normatif di tengah penegakan hukum koruptif adalah jebakan batman yg membuat koruptor tertawa suka cita.”

“Anda salah paham. Saya tidak anti advokat. Saya hanya kritik advokat yg asal bela kasus korupsi demi uang & popularitas semata. RT @_Haidary_?        Saya pernah advokat, menolak klien kasus korupsi. Sudah sewajibnya. #Advokat Koruptor adalah Koruptor. Penerima bayaran dari hasil Korupsi#.”

Seingat saya, beberapa waktu sebelumnya, ketika baru diangkat menjadi Staf Presiden, saya main ke kantornya di Istana. Di sana, saya dikasih makan nasi padang. Ngobrol sebentar. Terus pulang. Udah, begitu aja. Tiada yang terlalu berkesan. Malah yang saya ingat, kecenderungan sehabis makan nasi padang bagi saya adalah cepat sekali lapar lagi. Entah kenapa. 

Sehabis status muncul, saya di-BBM. Panjang juga. Intinya 1) ditanya kenapa status saya begitu; 2) merendah/menyindir, katanya, memang “saya gak sehebat Agus.” Begitu. Saya baca. Tapi gak saya balas. Mau balas apa coba? Mau saya balas minta maaf dan berbaik-baik, takut malah dikasih proyek APBN. Mau bertahan, berdebat, saya paling malas berantem di chat. Bikin jempol sakit, leher pegel.

Dasar status saya sederhana sebenarnya: 1) secara hukum, UU Advokat kan bilang advokat tidak identik dengan klien; 2) secara subjektif, ya saya merasa gak sreg aja kalau ada yang merasa paling bersih sendiri dan menggeneralisir yang lain kotor. Maksud saya, kita bicara yang wajar-wajar saja, kalau mau menuding, bukti harus jelas.

Pak OC. Kaligis seingat saya melaporkan Mas DI ke polisi. Pencemaran nama baik. 

Lalu topik #advokatkorup muncul di ILC TV One. Saya hadir. Di situ saya tunjuk langsung Mas Firman Wijaya sebagai “advokatkoruptor”. Tapi bukan karena mas itu koruptor maksudnya. Mas itu adalah advokat pertama dalam sejarah KPK yang menjadi penasihat hukum dari seorang advokat yang berstatus tersangka korupsi, yaitu Ibu Harini Wiyoso. Mas Firman ketawa saya begitukan. Emang begitu faktanya.

Nah, saat ini ada berita Mas DI menjadi penasihat hukum (PH) para pihak yang di antaranya menjadi tersangka korupsi dalam kasus dugaan suap pada proyek Meikarta, yang nilai proyeknya Rp200-an triliun dan nilai suapnya Rp7-Rp13 miliar, itu. Dilansir media, alasannya mau menerima kuasa adalah untuk membantu KPK mengungkap kasus ini (Entah bagaimana caranya yang demikian bisa terjadi. Kalau mau bantu ya jadi pelapor aja bagusnya atau selemah-lemahnya iman menulis status gak karuan kayak saya ini). Alasan lainnya adalah dia hanya pegang kuasa dari perusahaan bukan tersangka korupsi; dia juga mau bantu hak-hak konsumen. 

Ya, alasan boleh-boleh saja. Tapi alangkah lebih baik jika invoice dan tanda terima fee dan operasional juga di-capture dan diunggah di medsos. Hehehe. Kan biar transparan. 

PT MSU adalah perusahaan pengembang proyek yang mana dalam kegiatan usahanya membutuhkan izin pemerintah daerah yang mana dalam proses perizinan itu terjadi dugaan suap yang diungkap KPK melalui tangkap tangan. Sulit memisahkan antara korporasi dan person yang bertindak atas nama korporasi. Ngapain juga karyawan menyuap pejabat kalau bukan untuk kepentingan korporasi. Nah, korporasi itu yang sekarang jadi kliennya. Jika pun kuasa yang diberikan tidak khusus untuk urusan pidana tetapi hal lain semacam urusan kontrak-kontrak, gugatan konsumen, atau keperdataan lainnya, ngapain juga memberikan syarat kepada klien sebelum menerima kuasa agar fullycooperative dan tidak konfrontatif terhadap KPK. Itu kan urusannya pidana. 

Kejadian yang saya tulis di atas berlangsung pada 2012. Sekarang 2018. Butuh waktu hanya 6 tahun untuk semua berubah. Uang bicara, money talks? Hmmmm…Tak tahulah saya. 

Mungkin betul, saya lebih hebat dari Mas DI. Sampai mati saya tidak akan menjadi penasihat hukum koruptor! Tidak akan pernah saya jadi advokat yang asal bela kasus korupsi demi uang dan popularitas!

Soalnya, saya memang bukan advokat. Hahaha.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Meikarta, Denny Indrayana, #advokatkorup | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: