Peringatan dari Meikarta dan DP 0%

Monday, October 15th, 2018 - Opini Publik

Meixxrta posisinya sulit. Kasusnya pidana. Tangkap tangan pula. Sekarang baru pejabatnya yang diurus, kemungkinan besar pihak swastanya menyusul. Kasihan pembeli. Izin belum lengkap. Pembangunan lambat. Surat kepemilikan belum tentu beres. Duit nyangkut. Niatnya investasi, malah asin.

Klxxpa View DP 0% juga harus hati-hati saudara-saudara. Jangan mudah terpikat jargon. Bagaimana repotnya ke depan, bayangkan. 

Lahan punya perusahaan/PT (HGB). Dikerjasamakan dengan Pemda. DP 20% dibayar pakai APBD. Cicilan ringan katanya: Rp2,1 juta. Syarat penghasilan Rp7 juta.

Harga: Rp213 juta (tipe 21) dan Rp310 juta (tipe 36). Total ada 780 unit. Luas lahan 1,5 hektare. Jenis bangunan: rumah susun, bukan rumah tapak!

Sudahlah. Kita sama-sama tahu. Semua mau cuan: pemilik lahan, pengembang, bank, pemda. Ini bisnis. Bukan amal lho.

Izin ada harganya (KDB 40%, KLB 7, lantai 21, hitungan kasar saya). Bank (dalam hal ini Bank DKI) butuh untung dari bunga (13%, tenor 15 tahun, hitungan kasar saya), pengembang butuh modal awal (20% total DP sekitar 40 Miliar, hitungan saya). Maksudnya kan biar semua happy: pemda tetap ada muka di publik, pengembang gak keluar uang buat modal, bank tetap untung, masyarakat senang karena cicilan ringan (padahal 13% itu ya gak ringan juga, sami mawon sama yang lain). Cuma bedanya ini ada politik-politiknya aja.

Ujung-ujungnya bisa begini nanti: surat milik bermasalah, pembangunan lambat, kualitas bangunan kurang layak, fasum fasos abal-abal, masyarakat pembeli terjerat utang macet, kinerja bank jadi jelek…

Dan ingat. Dalam situasi seperti itu pun bakal tetap ada spekulan yang memaksa Bank DKI IPO karena prospek bisnis DP 0% itu bagus katanya. Namanya IPO itu yang untung duluan adalah yang modalnya gede, bukan kita-kita ini. IPO itu bukan cuma urusan fundamental bisnis perusahaan melainkan juga soal polesan cantik dengan blocking media massa arahan konsultan.

Jadi bagaimana bagusnya? Sabar. Jangan grasa-grusu. Jangan mudah terpikat janji-janji manis siapa pun saat membeli properti. Banding-bandingkan dulu izinnya, lokasinya, harganya, bunga dan tenornya, reputasi pengembangnya, kualitas bangunannya, fasilitasnya, dsb.

Ingat. Debt collector tidak peduli Anda cebong atau kampret ketika menagih dan bikin tenda di depan rumah Anda. Kemampuan Anda bikin meme dan koar-koar politik tidak akan banyak membantu ketika saat itu tiba.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Peringatan dari Meikarta dan DP 0% | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: