Isu LGBT dan Bencana Alam

Wednesday, October 10th, 2018 - Opini Publik

Sungguh terlalu. Ada yang memajang isu bahwasannya gempa di kota A, B, C, dst terjadi karena seturut persentase jumlah LGBT-nya. Lantas disama-samakan secara serampangan dengan apa yang terjadi pada Sodom dan Gomora yang sezaman dengan Lot (Luth). Stop. Berhenti beranggapan seperti itu. Jangan dengan mudah menyebut azab pada sesuatu. Terhadap saudara-saudara kita sesama manusia.

Tapi bisa jadi begini menurut saya.

Berpegang pada keyakinan pribadi tentu tidak mengapa. Meyakini sesuatu sah-sah saja. Tapi untuk area-area publik semacam media massa haruslah masak-masak dipikir ketika ingin melansir sesuatu. Medsos pun demikian juga bagusnya.

Tak elok menyebarkan logika jika-maka untuk kekuasaan Tuhan yang nir-batas. Jika banyak LGBT maka bersiap dikasih gempa bumi, jika banyak nenggak Martell bersiap mati kelelep di rawa-rawa, jika banyak selingkuh maka siaplah mati tragis ditampar kelelawar. Menyeru kepada kebaikan itu baik, menyeru untuk jauhi dosa pun baik juga. Tapi tak secetek itu juga caranya. Mungkin saking sudah terpaparnya logika cetek-cetek macam begitu menyebabkan ada guru sekolah yang mengajarkan nilai moral dengan mengaitkannya pada pilihan coblosan pemilu.

Banyak-banyaklah media massa dan medsos diisi dengan hal yang waras dan mencerdaskan. Tahulah dulu kisah Sodom dan Gomora itu ada di mana (Taurat-Kitab Kejadian), Lot itu siapa (keturunan Nuh dari garis Sem, Terah, Haran pun keponakan Abram), kisahnya ditulis oleh siapa, kapan, untuk siapa (tidak bisa dipastikan penulisnya, kurun ratusan SM, untuk bangsa Israel), Sodom dan Gomora ada di mana dan apa sebenarnya (Lembah Sungai Yordan, disebutnya Taman Tuhan), Sodom dan Gomora hancur dihujani belerang itu fakta sejarah atau perumpamaan (bisa dua-duanya), apakah memang berkaitan langsung antara hujan belerang itu dengan kerusakan moral dan pencabulan (perlu penelitian sejarah, arkeologi, teologi dan ilmu lainnya, tapi yang jelas ribuan tahun sampai sekarang kisah itu menjadi fundamental iman dan moralitas agama Yahudi, Kristen, Islam), apakah dengan demikian kita harus beragama dalam kondisi diliputi ketakutan akan azab Tuhan (tidak juga, sebab dalam kisah di kitab-kitab suci kalimat pertama Tuhan ketika menampakkan diri kepada Musa adalah: “Jangan takut. Aku Tuhan. Allahmu).

Kepada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi bencana alam, marilah kita cukup berdoa: Tuhan, kasihanilah kami orang berdosa. Ampuni kami. 

Itulah esensi dari tobat. Bukan menghakimi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Isu LGBT dan Bencana Alam | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: