Perang Isu yang Syahdu dan Lucu

Tuesday, October 9th, 2018 - Dapur Berita, Opini Publik

Kata sejumlah periset, Facebook adalah sarangnya hoax. Bisa jadi hasil riset itu benar. Apalagi pada musim pemilu. Tapi pengamatan saya begini.

Kalau pun terjadi perang isu antara kubu nomor 1 dan 2, sejauh ini masih “wajar” dan “terkontrol”. Isu-isu seperti dolar naik, tenaga kerja asing, kekayaan alam dirampok, hidup makin susah karena harga kebutuhan pokok mahal, kepemimpinan yang lemah, kasus-kasus korupsi, dan sedikit-sedikit nyerempet soal perilaku beragama (semacam alfateka), masihlah bisa “ditolerir”. Jika pun isu penganiayaan RS yang lalu mau dibentuk menjadi isu kekerasan, HAM, represivitas kekuasaan, masih bisa dipahami sebagai “perang yang wajar”. Tapi kan ternyata kenyataannya kita sudah tahu semua. 

Artinya kedua kubu masih dalam ring tinju yang sepatutnya. Namanya juga politik. Kemasan dan siasat adalah kunci. Kalau media massa dan penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, advokat) relatif independen, sebetuknya tata sosial dan kehidupan warga sehari-hari akan aman. Berisik-berisik sedikit adalah lumrah. Yang ngibul bakal segera dikuliti oleh netizen, tak peduli dari kubu mana pun. Itulah mengapa hoax-hoax saat ini banyak juga yang tidak laku. Apalagi yang dibentuk secara serampangan oleh tim amatir.

Kendati begitu, kita tetap harus cermat dan waspada. Perang isu bukanlah perang fisik melainkan perang psikologis. Yang disasar bukan cuma opini publik melainkan jiwa masyarakat itu sendiri secara keseluruhan. Ahmad Naufal dalam Al-Isya’ah menyebut isu adalah mimpi yang dikunyah oleh mulut. Syarat isu yang terpenting ada dua: 1) merupakan sesuatu yang penting bagi masyarakat; 2) sifatnya kabur. Isu akan cepat tersebar kalau ia melibatkan nilai-nilai perasaan yang mendorong orang untuk mempergunjingkan sekaligus memviralkannya. Jadi sesuatu yang sifatnya masih samar-samar (atau berusaha dikaburkan) tapi penting bagi kehidupan masyarakat adalah sesuatu yang ideal dijadikan isu. Apalagi dalam masyarakat yang literasinya kurang dan malas melakukan cek dan ricek informasi.

Isu tentang konflik SARA dan rasa aman keluarga per keluarga bagi saya adalah yang harus kita jaga dan waspadai mulai sekarang. Di tangan pemain isu dan tukang pelintir yang tengik, kedua isu itu benar-benar akan dimainkan dalam kerangka teori yang tengik pula: 1) pecah belah masyarakat untuk menguasai; 2) tanamkan kecemasan. Isu-isu semacam bentrok antar-SARA, leceh-melecehkan, penculikan anak, kekerasan di jalanan, dan sejenisnya adalah beberapa contoh yang harus diantisipasi permainannya oleh pemerintah, media massa, penegak hukum, dan kita semua.

Jadi, perang isu antara kedua kubu, pasti akan terjadi. Kita nikmati saja secara riang namun kritis. Begitulah politik. Asal jangan sampai kelewat batas: memecah belah dengan kecemasan, onar, makar, kasar! Saya kira kedua pasangan capres-cawapres beserta mesin perang isunya sepakat untuk hal-hal mendasar dan penting semacam itu. Bukan begitu masbro dan mbakbro?

Politik itu indah dan bisa dinikmati secara syahdu dan lucu kok. 

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Perang Isu yang Syahdu dan Lucu | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: