Bisnis Sepakbola yang Berlumur Darah

Tuesday, September 25th, 2018 - Opini Publik

Ini yang gak banyak dibahas.

Fanatisme bola itu bercabang artinya. Bisa berarti cinta suku, cinta permainan klub, cinta pemain, cinta sejarah, cinta dan sebagainya. Namun apapun bentuk cintanya, yang jelas ini bisnis besar. Fanatisme bola adalah lautan uang buat para pebisnis. Jangan heran banyak pebisnis yang gak suka bola sekalipun terjun ke lautan itu. Karena di bola banyak uangnya.

Orang anggap rivalitas Persib vs Persija. The Jakmania vs Viking. Tapi bagi pemburu uang, ini cuma persoalan perputaran modal bin profit PT Persib Bandung Bermartabat dan PT Persija Indonesia Hebat. Namanya bisnis harus untung. Maka selama ada fanatisme berarti ada market, berarti ada uang: tiket masuk, hak siar, merchandise, iklan, sponsorship, dll.

Bisnis bola menghidupi banyak orang. Mantan pemain yang mengurusi urusan keamanan dan sewa stadion saja masih bisa ambil margin.

Maka bisnis perlu langgeng. Supaya langgeng perlu ditata. Karena perlu ditata maka perlu strategi bisnis. Namanya juga perseroan terbatas.

Jujur sajalah. Pemegang saham atau pengurus perseroan terbatas bisa jadi macam-macam jelmaannya: jadi pengurus federasi, jadi pemilik media massa, jadi ketua kelompok supporter, jadi komisi disiplin, jadi pemilik agensi iklan, jadi pimpinan militer dan polisi, bahkan jadi kepala daerah, anggota parlemen. Jadi, apapun namanya, uangnya putar-putar di situ juga. 

Siapa yang untung? Perusahaan. Pebisnis. Sepakbola adalah olahraga favorit masyarakat tapi industrinya dikuasai oleh segelintir kalangan. Mereka menguasai federasinya, menguasai pula industrinya. Bahkan perkumpulan kesukuan pun bisa jadi mereka ketuanya. Hulu ke hilir.

Sepakbola sejatinya sport tapi industri ini berlumuran darah, ambisi, uang, kekuasaan, keserakahan, monopoli, politik…Kemajuan yang lambat dalam hal prestasi timnas dan kekacauan pelaksanaan pertandingan yang berujung korban  jiwa adalah kesimpulannya.

Orang bisnis bilang, profit banyak tapi risiko juga besar di industri ini. High risk high return. Tapi penguasaan industri dan federasi oleh segelintir kalangan sudah lestari puluhan tahun. Akal pendek saja: berarti masih untung ni barang. Profit masih menang dari risiko.

Saya pikir perusahaan dan/atau pelaku bisnis sepakbola di Indonesia bertanggung jawab juga atas korban-korban jiwa dalam ekosistem bisnis sepakbola nasional. Bentuknya apa, terserah. Yang jelas, kalian tak bisa cuci tangan dan balik badan. Jengah juga saya lihat pernyataan-pernyataan retoris di media massa soal ini. 

Hukum semata tidaklah cukup. Memangnya ada yang tahu apa putusan inkracht dari pengadilan terhadap terdakwa pengeroyokan selama ini? Siapa tahu kasusnya mengambang? SP3? Dll. 

Hari ini asosiasi pemain mendesak dibuat nota damai supporter seluruh Indonesia. Imbauan moral yang bagus. Tapi apalah artinya pemain di negara ini? Saya dengar, masih ada kontrak-kontrak pemain yang diteken cuma oleh asisten pelatih. Posisi pemain tidaklah kuat dalam industri ini. Mereka karyawan semata. Mereka tunduk pada perusahaan: owner, direksi, komisaris, federasi. Berani melawan? Dijamin gak dapat klub, dapat klub pun gak dapat menit main. Mampus karier kau!

Sampai hari ini saya belum dengar ada pertanggungjawaban dari perusahaan-perusahaan yang menjadi badan hukum klub terhadap kasus-kasus tewasnya para “konsumen” mereka sendiri.

Saya pikir, dari sisi hukum, perlu dibahas oleh para advokat/praktisi hukum tentang kemungkinan menggugat perusahaan dan pengurusnya dalam kasus-kasus kematian dalam sepakbola nasional.

Sekian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Bisnis Sepakbola yang Berlumur Darah | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: