Mati Karena Persija vs Persib

Monday, September 24th, 2018 - Opini Publik

Sejak 2012, tujuh orang meninggal karena urusan Persija vs Persib. Enam dikeroyok (satu lawan banyak). Satu jatuh dari mobil. Dari bobotoh ada, Jakmania ada. 

Rata-rata satu tahun satu nyawa hilang! Semua terjadi di luar lapangan. Artinya gak ada urusan dengan sport. Ini murni kriminal.

Namanya ngeroyok. Kalau pakai pasal ngeroyok sampai maut ancaman penjara 12 tahun; kalau pakai pasal pembunuhan 15 tahun; kalau pembunuhan yang direncanakan ancaman mati. Tapi kadang bocah-bocah ini umurnya belum 18 tahun jadi masih pakai UU Perlindungan Anak, lebih soft.

Inilah susahnya. Binatang-binatang ini telah mengusik rasa keadilan masyarakat. Geram betul kita lihat orang dikeroyok sampai meninggal gara-gara fanatisme bola. Jujur aja. Kalau binatang-binatang ini dipenjara, penjara penuh, dan mereka belajar lebih jago jadi penjahat di dalam; dihukum mati, kena HAM (saya anti hukuman mati). Dikasih pembinaan, ngeselin dan keluarga korban merasa tidak dapat keadilan.

Masalah kayak begini pelik. Jelas tak bisa mengharap bisa selesai dengan cara tampar ala ketua federasi yang jenderal itu. Marah-marah tanpa arah begitu.

Ya, sebagai upaya mencegah, menurut saya, laga Persija vs Persib harus selalu tanpa penonton mulai sekarang. Biar kita fokus nonton bola, bukan lihat fauna berantem.

Kelompok-kelompok/tongkrongan supporter dari kedua belah pihak, harus dicek dan data berkala anggotanya. Sebulan sekali minimal. Bawa BNN buat cek narkoba. Bisa aja binatang ini sadis gara-gara pada pake.

Sebagai fans Persija, saya berharap ini kejadian terakhir. Kalau sampai ada nyawa melayang lagi, ada baiknya dipikirkan kedua klub dibubarkan, basis supporter yang beringas berikut segala atribut dinyatakan terlarang, dan keluarkan aturan bahwa perlindungan anak tidak berlaku dalam perkara pengeroyokan sepakbola yang berujung maut.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mati Karena Persija vs Persib | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: