Ibu Pertiwi dalam Asian Games 2018

Monday, September 3rd, 2018 - Opini Publik

Asian Games 2018

Dibuka dengan Ratoh Jaroe yang mengagumkan. Pesona dari Serambi Mekah, Aceh. “Assalamualaikum…”

Diselingi narasi tentang Ibu Pertiwi oleh Maria Oentoe, seorang Katolik, tinggal di Depok, lektor senior Gereja ST. Markus, yang filosofinya adalah membahagiakan orang melalui suara.

Konsep Ibu Pertiwi itu sejatinya muncul pertama kali dalam Veda, yang diyakini oleh saudara-saudara Hindu kita sebagai kitab suci. “Bumi adalah ibu dan akulah putranya.” Dr. Mahendra Mittal melukiskan Ibu Pertiwi sebagai sosok yang penuh kasih dan pemaaf.

Pancasila adalah dasar Ibu Pertiwi. Tertulis Bhinneka Tunggal Ika. Tapi bagi saudara-saudara Buddha kita,  bermakna pula lima ajaran moral: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, berkata benar, makan dan minum yang benar.

Lagu “Ibu Pertiwi” (Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati…) seringkali dianggap karya Ismail Marzuki, meskipun banyak yang bilang komposernya anonim. Tapi irama lagu itu persis sama dengan lagu “What A Friend We Have in Jesus” karangan Joseph M. Scriven (1855). “We should never be discouraged, take it to the Lord in prayer.”

Luar biasa Ibu Pertiwi kita. 

Kita bhinneka. Kita Indonesia.

Sampai jumpa lagi di Olimpiade mendatang.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Ibu Pertiwi dalam Asian Games 2018 | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: