Alasan Pemaaf buat Meiliana

Thursday, August 23rd, 2018 - Opini Publik

Tentang perkara Ibu Meiliana, tetap kepala dingin. Jaga kedamaian. Karena ini masuk wilayah hukum, tarik nafas dulu dan teliti. Pokok perkaranya sensitif.

Lihat dulu dakwaan perkara nomor 1612/Pid.B/2018/PN Mdn itu. Soal penghinaan. Pasal 156a (primair), Pasal 156 (subsidair). Tapi sisi non-hukumnya juga kental. Menarik perhatian masyarakat luas. Tiap sidang ada demonstrasi. Terjadi perusakan rumah ibadah (yang pelakunya sudah divonis).

Dalam dakwaan tertulis begini: “…terdakwa mendatangi kios untuk membeli rokok lalu terdakwa berkata kepada saksi KASINI Alias KAK UO “kak tolong bilang sama uak itu, kecilkan suara mesjid itu kak, sakit kupingku, ribut” sambil menggerakkan tangan kanannya ke kuping kanan terdakwa lalu saksi KASINI Alias KAK UO menjawab “iyalah nanti kubilangkan”.”

Lalu: “…KASINI Alias KAK UO menyampaikan perkataan terdakwa tersebut kepada adik kandung saksi KASINI Alias KAK UO bernama HERMAYANTI dengan mengatakan “ooo HERI orang cina muka itu minta kecilkan volume mesjid” lalu saksi HERMAYANTI bertanya “yang mano, siapo”.”

Kemudian ada Laporan Polisi. “Saksi HARIS TUA MARPAUNG,                 Saksi Drs. DAILAMI, M. Pd. dan Saksi RIFAI membuat Surat Pernyataan tertanggal 02 Desember 2016 perihal meminta kepada Pihak Kepolisian agar melakukan penyidikan terhadap Saudari MELIANA.”

Ada juga Fatwa MUI Sumut Nomor Nomor     : 001/KF/MUI-SU/I/2017 tanggal 24 Januari 2017, tentang PENISTAAN AGAMA ISLAM OLEH SAUDARI MELIANA DI KOTA TANJUNGBALAI.

Formalnya, alat bukti minimal 2 biji terpenuhi: saksi (minimal pelapor), Fatwa MUI (surat), ahli (biasanya dari MUI juga).

Ancaman hukuman 5 tahun penjara. Vonis hakim 1,5 tahun. Kurang dari 2/3, mungkin jaksa banding. Terdakwa jelas banding.

Soal Pasal 156 sebaiknya dihapus, sudah lama diupayakan. Tapi MK menolak terus. Soal kebebasan beragama, akur. Ini amanat konstitusi.

Namun kasus Meiliana ini kental nuansa sosial-politiknya juga. Bagaimana pun ada kelompok masyarakat yang marah (dalam berkas ada nama Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Independent Bersatu/A M M I B). Tekanan ke pengadilan, kemungkinan kuat, ada.

Lantas? Mendesak presiden bebaskan Meiliana tentu salah jalur. Pengadilan yudikatif, presiden eksekutif. Gaduh-gaduhan di media, malah bisa bikin kita berantem sendiri.

Menurut saya, jika pun alasan PEMBENAR tidak ada, setidaknya nanti hakim banding mau mempertimbangkan alasan PEMAAF. 1) Terdakwa dan suami sudah meminta maaf; 2) Pelaku pembakar juga sudah divonis dan meminta maaf; 3; Terdakwa lahir tahun 1974 dan sudah bertahun-tahun tinggal di situ tanpa pernah protes dan bermasalah dengan penduduk sekitar, jadi alasan tengah menderita sakit di bagian telinga atau sakit lainnya bisa diajukan dengan bukti medis, sebagai alasan mengapa ia mengeluhkan tentang suara bising itu. Bukan karena ingin bermusuhan melainkan semata “spontan” karena sakit.

Sekadar urun pendapat saya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Alasan Pemaaf buat Meiliana | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: