Sekelumit Refleksi tentang Kurban

Wednesday, August 22nd, 2018 - Opini Publik

Tinggal di Depok (waktu masih bujangan) atau Jakarta (saya tinggal di daerah Cipedak, yang saya amati Ahok tidak pernah menang di TPS-TPS) sama aja: sama-sama rutin diberi daging kurban oleh pengelola masjid. Padahal saya Katolik. Mantap kan? Bahkan waktu kos di Jatinangor, saya juga dikasih daging kurban. Teman-teman suka meledek, itu karena saya masuk golongan Katolik-NU. Se aje…

Soal keyakinan dan perbedaan tafsir dengan saudara Muslim, saya tidak pernah ambil pusing. Apalagi sampai berdebat yang tidak perlu. Bukannya saya tidak tahu polemik antara Ishak atau Ismail yang dikurbankan Abraham/Ibrahim. Tapi bagi saya, mengetahui sedikit latar belakang kisah tersebut, membuat saya bukan justru merasa versi agama saya yang paling benar melainkan cobalah menarik apa makna yang paling penting buat pendakian rohani kita masing-masing. 

Kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama berkata begini tentang Ismail: “…Engkau (Hagar) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamakannya Ismail, sebab Tuhan telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.” Hagar menyebut Tuhan dengan sebutan El-Roi. Artinya di sini kulihat Dia yang telah melihat aku. 

Umur Abraham 86 tahun ketika Ismail lahir. Tuhan berjanji kepada Abraham tentang Ismail itu. “Ia akan Ku-berkati. Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan 12 raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.” Nama anak-anak Ismael: Nebayot (sulung), Kedar, Adbeel, Mibsam, Misyma, Duma, Masa, Hadad, Tema, Yetur, Nafish, dan Kedma. 

Bagi Yahudi dan Kristen, Ishak-lah yang sebenarnya dikorbankan. Umur Abraham 100 tahun ketika Ishak lahir dari Sara. “…pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran…” Saat Ishak hendak disembelih, Malaikat berkata, “Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang bahwa engkau takut akan Allah dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Lalu Ishak “digantikan” seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar, yang akhirnya menjadi korban bakaran. Tempat itu dinamai oleh Abraham: Jehovah Jireh dalam Bahasa Ibrani. Artinya: Tuhan menyediakan…

Ishak dan Ismail pada akhir kisah sama-sama menguburkan Abraham. “Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismail, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre…”

Mengapa kisah-kisah itu harus ada? Siapa yang menulisnya? Tahulah dulu beda pandangan ini. Muslim meyakini Alquran tercatat dan turun dari surga langsung. Istilah Lauh Mahfuzh disebut 13 kali dalam Alquran. Yahudi dan Kristen tidak begitu. Alkitab adalah karangan manusia namun diinspirasi oleh Roh Allah. Allah menyatakan diri kepada manusia lewat sejarah yang hidup. Yang disebut iman adalah tanggapan manusia atas janji dan karya keselamatan Allah itu. Meskipun Yahudi tidak percaya Yesus adalah Allah yang hidup itu, sebagaimana Kristen meyakini. Yahudi adalah umat dalam penantian akan mesias. Kristen yakin Yesus-lah mesias. Simpel kan.

Siapa yang menulis Kejadian (termasuk dalam Pentateukh/Taurat), ya tidak tahu persisnya siapa. Darimana sumbernya? Kata Romo Groenen, OFM dalam buku Pengantar ke Dalam Perjanjian Lama, bisa dari cerita-cerita yang beredar pada masa itu di sekitaran bangsa Israel. Ribuan tahun sebelum Masehi (Abraham hidup kira-kira 5.000 SM). Bahkan Romo itu menyebut Alkitab adalah KITAB YANG TIDAK KERUAN. Kurang teratur dan kurang berurutan susunannya. Sebabnya adalah cara Alkitab itu terbentuk. “Kitab-kitab dan bagian-bagiannya tidak ditulis sekali jadi. Sebaliknya kerapkali penyusun hanya mengumpulkan apa yang tersedia baginya.” (Mengapa orang Kristen/Katolik tidak marah kitabnya disebut tidak keruan, karena bagi mereka fisik kitab itu berupa buku/teks tidaklah yang terutama, yang terutama adalah menerima Yesus sebagai sabda Allah yang hidup, yang berarti Dia adalah Allah itu sendiri, yang memberikan keselamatan…)

Sebagai suatu bangsa, orang Israel itu memerlukan kisah tentang jati diri mereka yang percaya sebagai bangsa pilihan Tuhan, untuk diteruskan turun temurun berdasarkan pengalaman umat Israel sendiri dalam sejarah. Rencana Tuhan nampak di situ. Polanya begini: Ishak yang lahir dari istri yang mandul lebih diutamakan dari Ismail. Dari anak-anak Ishak, Yakub diutamakan dari Esau, kendati Yakub ini pernah mencoba memperdayakan ayahnya sendiri. Dari 12 anak Yakub, Yusuf yang lahir dari istri yang mandul juga, lebih diutamakan dari 11 anak lainnya. Asal tahu saja, Yakub itu artinya “penipu”. Kiasan dari “memegang tumit orang”. Nama lain Yakub adalah Israel, di alkitab tertulis artinya kira-kira (pejuang) yang menang. 

Itu semua adalah, suka atau tidak suka, kisah yang hidup dan tertulis dalam tradisi Israel. Termasuk kurban. Kira-kira 622 SM, hanya dalam Bait Allah di Yerusalem orang mempersembahkan kurban. Kurban binatang adalah inti seluruh ibadat umat Israel. Kurban orang kaya bisa ratusan sapi dan domba/kambing. Tapi orang tidak mampu bisa cukup berkurban seekor merpati, segenggam tepung gandum, dan sedikit minyak zaitun. Tapi setelah Bait Allah dihancurkan Roma pada 70 M, berdirilah sinagoga dan sejak itulah dilakukan ibadat tanpa kurban. 

Begitulah sekelumit ceritanya, sehingga saya tidak perlu direpotkan dengan fanatisme-fanatisme yang merusak dada gara-gara ribut Ishak atau Ismail yang (mau) disembelih. Cukup saya nikmati daging dari masjid ini dengan penuh rasa syukur atas kebersamaan dalam perbedaan di masyarakat tempat saya hidup ini. Sambil saya juga menyesapkan dalam hati bahwa takut akan Tuhan adalah yang terutama, di dalamnya tidak ada kekhawatiran karena Tuhan menyediakan semuanya bagi saya dan kita semua, karena di sini kulihat Dia yang selalu melihat aku. 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Sekelumit Refleksi tentang Kurban | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: