Raffles dan Siapa Kita

Friday, August 17th, 2018 - Opini Publik

Coba kita simak baik-baik apa kata orang Inggris sekelas Thomas Stamford Raffles dalam “The History of Java” (1817), tentang siapa kita (Bisa dibilang “History of Indonesia” juga sih…). Terjemahan Bahasa Indonesia diterbitkan Narasi pada tahun 2008.

  • “…tidak ada bangsa yang begitu penurut meskipun penampilan luar mereka terlihat tidak bergairah dan kadang bodoh, tidak ada yang lebih cepat mengerti dari apa yang dijelaskan kepada mereka.”
  • “Mereka juga mudah menjadi korban dari fanatisme agama, dan memuja tanpa keberatan sama sekali kepada yang mereka anggap kekuatan supranatural.”
  • “Meskipun pada banyak hal penduduk Jawa lesu dan tidak bergairah, namun antusiasime agama mereka begitu tinggi, kemudian mereka menjadi tekun dan pemberani dalam sekali waktu, memperkirakan tidak ada pekerjaan yang sulit, tidak ada hasil yang mustahil, dan tidak ada kemelaratan yang menyakitkan.”
  • “Prasangka yang dimiliki penduduk Jawa tidak banyak dan tidak keras kepala. Umumnya memperlihatkan perasaan terpuji dan ramah. Nasionalisme mereka sangat kuat meskipun sangat menyanjung cerita tradisional tentang hal-hal luar biasa yang terjadi pada masyarakat Jawa kuno, dan mendorong harapan masa depan yang merdeka, yang tidak mereka sembunyikan, tidak membuat mereka memandang rendah dan tidak menghargai bangsa asing.”
  • “…penduduk yang dermawan dan ramah jika tidak diganggu dan ditindas…mereka baik, lembut, kasih sayang dan penuh perhatian…mereka orang yang patuh, jujur, dan beriman, memperlihatkan sikap yang bijaksana, jujur, jelas dalam berdagang dan berterus terang. Keterusterangan mereka terlihat pada pengakuan yang jelas saat disidang sebagai tahanan, tanpa berpura-pura atau berdalih tentang semua hal yang berkaitan dengan kejahatan yang dilakukan, dan bahkan menambahkan informasi tentang beberapa hal yang tidak terdapat dalam bukti.”
  • “…pada umumnya bebas dan royal jika dilihat dari barang-barang yang dimilikinya. Mereka jarang menimbun kekayaan dan memperlihatkan watak yang pelit. Senang pada kemewahan dan kemegahan, mereka membelanjakan uang secepat mereka mendapatkan, untuk membeli pakaian beserta pelengkapnya, membeli kuda, barang-barang untuk hiasan dan sebagainya.”
  • “…kebahagiaan, kepuasan, dan humor yang tinggi pada diri mereka…”
  • “…ketika mereka diliputi perasaan dendam yang disebabkan perang berkepanjangan, mereka sering melakukan kesalahan dengan tindakan-tindakan barbar, seperti memenggal kepala musuh yang dianggap bersalah dan menendang kepalanya seperti bermain sepakbola.”
  • “Dalam perang dan politik, penggunaan tipu daya dan intrik-intrik lebih dipilih daripada dengan ketertiban, keberanian, dan keyakinan.”

Terus Raffles mengutip catatan orang Belanda tentang kita: Laporan dari Distrik Japara oleh Residen Dornick tahun 1812. Laporan ini disebut sebagai penyebab kita ditindas dan merosot.

Begini:

  • “…mereka terlihat sebagai orang yang percaya takhayul, sombong, pencemburu, suka membalas dendam, kejam, dan bertindak seperti budak pada atasannya, keras dan kejam pada para bawahannya, dan pada orang-orang yang tidak beruntung yang tunduk dalam wewenang mereka, mereka juga malas dan lambat.”
  • “Masyarakat kelas bawah malas dan tidak dapat berpikir…mereka hanya bisa dipekerjakan dengan adanya ketakutan terhadap majikannya, terhadap ancaman hukuman, atau ketika dalam keadaan susah atau membutuhkan…”
  • “Pengkhianat, senang membalas dendam, berbahaya, lebih cenderung untuk merampok dan membunuh daripada untuk bekerja, licik dalam berbuat jahat…”

Kemarin, 16 Agustus 2018, saya mendengarkan penjelasan Ahli Hukum Pidana Prof. Andi Hamzah, dalam keterangannya sebagai ahli dalam sebuah kasus di PN Jakpus. 

Begini:

  • (Beliau juga mengutip Raffles) tentang karakter kita sebagai pendendam. Bandingkan dengan Malaysia. Najib Razak korupsi Rp9 triliun, tahanan luar. Di sini mencuri bebek seekor, masuk penjara. Penjara penuh. 
  • Di Belanda, sekarang, 60% perkara yang ancaman di bawah 6 tahun penjara, tidak dibawa ke pengadilan tetapi diselesaikan di tingkat jaksa. Entah dengan ganti rugi dan sejenisnya.

Begitulah kita, kata orang. Sebagai kaca untuk menengok diri. Jangan marah. Jangan nyinyir. 

Dirgahayu Indonesia. Gue cinta banget negara ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Raffles dan Siapa Kita | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: