Keprihatinan Saya Terhadap Pemberitaan yang Bias Agama

Friday, August 3rd, 2018 - Dapur Berita, Opini Publik

Lagi selancar, saya lihat-lihat berita tentang Arnita dan beasiswanya di IPB yang terhenti. Satu portal berita menulis: Setop Beasiswa Arnita Karena Mualaf...(Tanpa kata “diduga”).

Model pemberitaan yang menghakimi semacam ini, semakin menjamur. Apa penyebab persisnya, perlu penelitian lebih dalam. Kurangnya wawasan dan daya kritis redaksi, mungkin penyebabnya. Penulisan yang terburu-buru dan dihantui praduga negatif, mungkin menjadikan berita merosot kadarnya jadi propaganda. Pokok kebenaran makin jauh. Apalagi menyangkut agama/keyakinan, potensial disalahpahami oleh pembaca. Tujuan berita untuk mendidik, mencerdaskan, dan meningkatkan kualitas rohani (dalam konteks agama), melenceng jauh.

Kekeliruan mendasar adalah kegagalan menempatkan konteks sebuah peristiwa dan memilih prioritas yang paling penting untuk ditindaklanjuti, serta dalam semangat seperti apa berita seperti ini akan dilihat. Mengangkat secara berlebihan sudut pandang mualaf vs Kristen tanpa verifikasi yang teliti, menyuburkan perpecahan. Pertanyaan kritisnya: apa betul faktor agama penyebabnya, sementara masyarakat Simalungun seimbang antara Kristen (47%) dan Islam (46,6%)? Apa mungkin birokrasi di sana “terkristenisasi”, sementara wakil bupatinya bergelar haji (muslim)? Mengapa harus mempertentangkan soal agama dalam berita. Ini tidak baik dampaknya bagi masyarakat Simalungun yang terkenal rukun dan toleran itu. Mereka membangun Islamic Center yang megah dan hebat di sana. Simbol kedamaian.

Mengapa tidak dilihat sebagai peristiwa birokrasi terlebih dahulu? Disdik Simalungun adalah SKPD yang terbanyak pegawainya (8.000-an orang). Kepala Dinasnya beberapa waktu lalu dikritik kinerjanya karena diduga sering bolos. Pada tahun 2011, Disdik juga diusut masalah korupsinya. Mei lalu, 1.500 guru honorer “ngamuk” karena belum dibayar sejak 2016. Kalau masalah-masalah seperti itu muncul, bukan tidak mungkin alokasi beasiswa dan kontrolnya bagi mahasiswa asal daerah itu juga bisa jadi ada masalah: soal pendataan, seleksi, penganggaran, distribusi, perjanjian hukum, dsb. Coba dicek. Jangan lihat masalah dari satu sudut pandang saja. Jangan apa-apa, menuding agama.

Bertanyalah dua hal yang mendasar: apakah berita akan membuka suatu perubahan dalam pelayanan publik dan keadilan? Apakah berita akan produktif bagi peningkatan kualitas kerohanian, apa pun agama orang?

Soal lainnya adalah membawa-bawa faktor penyebab yang bersangkutan menjadi mualaf: karena menonton video Zakir Naik. Sebagai fakta hasil wawancara boleh saja ditulis, tapi konteks lengkap harus dijelaskan. Tidak semua penonton video Zakir Naik jadi mualaf (hampir semua video Zakir Naik sudah saya tonton); tidak pula semua pemirsa David Wood dan Nabeel Qureshi jadi Kristen; tidak semua yang membaca Ma’alim Fithoriq (Petunjuk Jalan) Sayyid Qutb dan risalah-risalah Hasan al-Banna, Mustafa Masyhur, Muhammad al-Ghazali, dan Yusuf al-Qaradhawi, juga otomatis pro-Tarbiyah, Ikhwanul Muslimin, dsb. Saya baca buku-buku itu dan Alquran juga, tapi tetap Katolik dan tidak mencari-cari kekurangan keyakinan yang lain dari saya.

Dunia ini kaya, berwarna, penuh pelajaran pula. Jangan berpikir sempit dengan mengotak-otakan apa pun. Masalah berpindah keyakinan, sah-sah saja. Itu soal batin orang. Bagi yang non-muslim pun tidak harus kelabakan karena merasa gagal/kehilangan domba. Tertulisnya pun begini di Injil: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.” (Mat 5:16). Jadi yang terutama adalah menunjukkan perbuatan baik itu, menunjukkan terang yang bercahaya. Bukan untuk gontok-gontokan cari jemaat, melainkan supaya kita bisa sama-sama memuliakan Tuhan, sesuai keyakinan terdalam masing-masing orang. Ada juga: “…kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” (2Tim 2:22).

Jika ingin mempublikasikan berita yang berbau agama, hendaknya semangatnya ditata baik. Mengarah pada kerukunan, toleransi, saling menyayangi. Berita semacam itu akan berfaedah untuk meningkatkan kualitas rohani pembaca, apa pun agamanya.

Rasanya, semakin maju zaman dan peradaban, harusnya kita semakin adil dan mulia. Memanas-manasi karena perbedaan SARA harusnya sudah punah seperti dinosaurus. Saya contohkan dan kutipkan dari agama saya, Katekismus Gereja Katolik No. 841 pada bagian tentang Hubungan Gereja dengan Umat Islam:

Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terdapat terutama kaum Muslimin, yang menyatakan, bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat” (LG 16).

Status saya ini mau mengatakan, hidup bersama yang rukun, ramah, dan saling menyayangi, itu indah, dan berita-berita harusnya dibentuk dengan semangat itu.

Indonesia betul-betul membutuhkannya. Apalagi mau pemilu begini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Keprihatinan Saya Terhadap Pemberitaan yang Bias Agama | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: