Jangan Menyuap Tuhan

Thursday, July 26th, 2018 - Opini Publik
Setelah ikut sidak ke sel no 29 Blok Timur Sukamiskin, tempat Papa Setnov, Najwa Shihab menulis adanya kejanggalan begini: “Ketika petugas membuka sel SN, saya mendapat kesan Papa sudah sangat “siap” menyambut kami. Duduk di kursi dengan pakaian rapi sembari membawa buku “Kosa Kata Alquran”. Belakangan soal itu heboh. Sel palsu yang diduga ditempati Papa Setnov.
 
Tembak langsung saja: Papa diduga pencitraan. Agar terlihat religius. Dekat Tuhan.
 
Soal pencitraan membawa-bawa Tuhan dalam hal korupsi juga pernah dilakukan orang Katolik: mantan Dirjen Hubla Antonius Tonny Budiono, yang Mei lalu divonis 5 tahun penjara. Waktu awal tertangkap dia sempat bilang duit yang dituduhkan hasil suap/korupsi, dia pakai untuk menyumbang gereja. Setelah divonis dia berkata, hukuman 5 tahun adalah bentuk pengakuan dosanya kepada pastor, suatu hal yang sering dia lakukan semasa kecilnya menjadi misdinar (putera altar).
 
Ada-ada saja kejadian di negara ini. Hal yang suci dibawa-bawa dalam urusan korupsi.
 
Tapi sejarahnya begini. Dalam Perjanjian Lama, yang bahasa aslinya adalah Ibrani, ada empat istilah yang merujuk pada pengertian ‘suap’: “syokhad”, “syalmonim”, “koper”, dan “mattanah”. Soal akar kata-kata itu dan sebagainya, bisa ditanya saja kepada yang ahli Bahasa Ibrani. Perjanjian Lama lekat dengan Yahudi dan Kristen. Karena “terlarang” melafalkan YHWH, orang Yahudi menyebut Tuhan dengan istilah “Adonai”.
 
Saya baca itu dari Jurnal Forum Biblika No. 18 Tahun 2005.
 
Tapi, soal “menyuap Tuhan”, dari sekujur isi Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), cuma ada di Kitab Yesus bin Sirakh (35:11). “Jangan mencoba menyuap Tuhan, sebab tidak diterimaNya, dan janganlah percaya pada korban kelaliman!”
 
Sirakh termasuk dalam Deuterokanonika, di Perjanjian Lama, yang diakui oleh Katolik tapi tidak ada dalam Protestan. Yesus bin Sirakh ini hidup pada zaman ketika Palestina berada di bawah kekuasaan raja Siria dinasti Seleukus. Suap di sini sejajar artinya dengan “persembahan yang tidak adil”. Dilakukan oleh orang kaya dan pejabat yang memeras orang miskin lalu hasilnya dipakai untuk persembahan kepada Tuhan. Tujuannya agar Tuhan tidak memperhitungkan dosa dan kesalahan pejabat dan orang kaya pemeras itu. Membuat Tuhan senang dan menutup mata terhadap kejahatan mereka.
 
Begitu. Jadi sudahlah. Jangan libatkan Tuhan dalam urusan hukum model begini.Jangan biasakan Senin-Jumat menyuap/disuap orang; Sabtu/Minggu menyuap Tuhan.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Jangan Menyuap Tuhan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: