Catatan tentang Carl Icahn-Freeport Setelah ILC TV One

Saturday, July 21st, 2018 - Opini Publik

Sekadar catatan setelah menyimak ILC TvOne tadi, soal divestasi saham Freeport. Sebagian besar materinya persis dengan apa yang saya tulis dalam status-status saya sebelumnya. 

Tapi, begini saja. Kita bahas yang sedikit terluput dari ILC tadi. Prof. Rheinald Kasali dan Bpk. Said Didu adalah dua orang yang amat mengerti soal Freeport ini. Keduanya sepakat bahwa bobot politik lebih tinggi dalam persoalan ini. Bpk. Said menyebut ada benalu-benalu di Jakarta yang mendompleng. Secara selintas juga dipertanyakan mengapa sejak 2015, Freeport gencar meminta perpanjangan kontrak hingga 2041. Menurut Prof. Rheinald, Jokowi melihat ini sebagai peluang karena Freeport sedang “membutuhkan” kita karena mereka sudah berinvestasi tambang bawah tanah US$20 miliar (Rp280 triliun). Dan 3,5 tahun sejak 2015, saat ini, terjadilah kesepakatan HoA Inalum dengan FCX dan Rio Tinto.

Ya, bisa jadi itu benar. Tapi bisa juga kita lihat sudut pandang lain. Saya mengamati isu Freeport ini terutama sejak 2015, dan pernah saya tulis dahulu tentang sosok bernama CARL ICAHN. Dia seorang investor-aktivis yang masuk dalam 50 pebisnis Yahudi paling kaya sedunia versi Forbes, Jerusalem Post, Times of Israel. (akakristianto.com/2015/12/30/halo-trump-icahn-mau-main-apa-di-indonesia). Dia juga bekas penasihat khusus Presiden AS Donald Trump. Banyak media luar negeri menyebut Trump-Icahn adalah The Zionist Dream Team that will be Great for Israel.

Icahn tulen pemburu uang. Aksinya dikenal oleh para pelaku pasar di Wallstreet sebagai CORPORATE RAID. Memborong saham besar-besaran suatu perusahaan yang lagi anjlok dan megap-megap di harga murah, lalu masuk merombak susunan direksi dan komisaris agar bisa memenangkan voting, lantas melakukan aksi pembentukan opini media secara massif, dan menjualnya di harga bagus. Orang seperti Icahn ini gandrung dengan gonjang-ganjing, opini publik yang tidak stabil dan mudah disetir, pemerintah yang korup, masyarakat yang mudah diadu domba. Mengapa? Bisnis dia adalah bisnis persepsi. Dia melakukan apa yang dikenal sebagai “membeli berdasarkan rumor, menjual berdasarkan berita”. Cocok sekali dengan iklim Indonesia bukan? Media massa adalah sekondan setianya untuk menjalankan bisnis bikin opini. Dan ingat: Icahn tahu persis isu perpanjangan kontrak adalah isu yang dari situlah dia bisa memainkan sentimen dan meraup uang dari pasar. Mengapa? Karena izin pemerintah adalah aset Freeport yang paling mahal!

Sama dengan cerita tentang pebisnis Yahudi juga, Rotschild, yang pernah saya dengar dari seorang kawan, pernah bilang: Indonesia negara kaya sumber daya alam, tapi parlemennya diisi pelawak. Itu alasan dia mau bisnis di sini. 

Korban Icahn banyak: Yahoo, Oracle, Netflix, Dell, Apple, eBay, Motorola, Herbalife, Clorox…Situs seekingalpha.com pada 3 Oktober 2016 menulis besar-besar: FREEPORT-MCMORAN: ICAHN’S NEXT VICTIM.

Balik lagi ke soal 2015. Kenapa pada September 2015  FCX agresif ke kita? Karena pada tahun itu pula Icahn masuk dan menjadi pemegang saham FCX yang terbesar. Sampai 8,65% dia pegang. Sejak itu permainan opini gencar. Januari 2016, susunan direksi dan komisaris Freeport Indonesia dirombak. Maroef Sjamsoeddin mundur dari jabatan CEO. James R. Moffet dicopot dari jabatan CEO FCX. Moffet ini juga komisaris di Freeport Indonesia.

Pada 2016, Icahn menjual portofolio saham tambang dan energinya yakni Chesapeake Energy dan Transocean. Orang berspekulasi, langkah yang sama juga bakal dilakukan terhadap saham Freeport miliknya. 

Mulailah permainan opini yang semakin gencar untuk memunculkan rumor. Dia membeli saham FCX murah ketika FCX terombang-ambing dalam rumor ketidakpastian perpanjangan kontrak oleh pemerintah RI. Dan sesuai teori, dia akan menjualnya ketika berita kepastian perpanjangan kontrak itu muncul. Bisnis terbaik adalah bisnis spekulasi opini. Mulailah darah aktivisnya muncul. Agresif, seperti Trump kalau mau akuisisi properti dulu.

Mulailah pikiran kita lewat informasi media dicekoki sehingga kerdil:

– Kalau tidak perpanjang kita kalah di pengadilan arbitrase

– Kalau tidak perpanjang ekonomi kita anjlok dan krisis

– Kalau tidak perpanjang ribuan orang Papua di-PHK

– Kalau tidak diperpanjang siapa yang bisa kelola? Orang Indonesia tidak bisa karena Freeport butuh teknologi khusus dan mahal

– Kalau tidak perpanjang kita justru bayar aset lebih mahal nanti

– Kalau tidak perpanjang tidak ada investasi US$20 miliar (Rp280 triliun) tambang bawah tanah (padahal sebenarnya investasi ini baru janji. Belum ada realisasinya juga)

– Kalau tidak perpanjang, tambang atas tutup. PHK massal

Padahal itu semua adalah opini yang sengaja dibentuk supaya kita kerdil, mereka raksasa. Sedih sekali kita dibuat pesimistis oleh opini itu. Mengapa tidak berpikir sebaliknya bahwa kita mampu mengatasi itu semua dengan jauh lebih baik? Mengapa harus selalu berpikir bahwa kita selalu lebih rendah dari orang asing? Mengapa selalu berpikir kita tidak bisa menyediakan kesejahteraan yang jauh lebih baik buat saudara kita di Papua?

CNN Indonesia, Selasa 28 Februari 2017 menulis judul: “Pemegang Saham Tekan Freeport Lawan Pemerintah Indonesia”. CEO Freeport-McMoran Inc Richard Adkerson dari Florida berkata peraturan-peraturan baru yang dibuat oleh pemerintah Indonesia merupakan bentuk perampasan aset Freeport. “Banyak dari pemegang saham kami merasa kami terlalu baik.” (https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170228181340-85-196830/pemegang-saham-tekan-freeport-lawan-pemerintah-indonesia)

Bulan yang sama pada tahun itu Freeport Indonesia mengirimkan nota resmi kepada pemerintah RI yang intinya mengancam akan membawa ke pengadilan internasional sejumlah peraturan baru yang mereka nilai membatasi perusahaan dan melanggar kontrak karya seperti: kewajiban smelter, divestasi, pajak, royalti, termasuk jika tidak memperpanjang kontrak. Jika pemerintah tidak memperpanjang kontrak 2021, mereka akan melakukan 3 hal: a) ke UNCITRAL; b) menghentikan rencana investasi US$20 miliar untuk tambang bawah tanah; c) berhenti mengucurkan investasi untuk smelter.  (Lihat Annual Report FCX 2017).

Di tempat lain, para eksekutif Rio Tinto lagi berbincang teleconference: CEO J-S Jacques dan CFO Chris Lynch. Transkripnya dipublikasikan di situs Rio Tinto, beberapa bulan lalu. Si CEO ini menganggap Grasberg memang world class asset tapi bukan world class business, karena belum ada kepastian perpanjangan 2021. “Chris, gue ambil tembaganya, lu ambil Grasbergnya.” Begitu kira-kira joke mereka. Catatan: Rio Tinto itu adalah perusahaan yang punya opsi saham yang berlaku 2022 kalau izin Freeport diperpanjang. Dia ada perjanjian joint venture dengan Freeport Indonesia dari 1996, yang kata ILC tadi disetujui oleh Mentamben IB Sudjana. Tapi sampai hari ini belum ada lansiran resmi berapa duit dia udah keluar untuk Freeport Indonesia dari 1996 itu. Apakah sebanyak Rp49 triliun (USD3,5 miliar) seperti yang akan dibayar Inalum nanti, belum tahu juga.

Perundingan berlangsung terus. Inalum menunjuk Morgan Stanley sebagai arranger. Morgan Stanley perusahaan keuangan AS. Caranya Morgan Stanley cari duit bisa dilihat di link ini: https://www.investopedia.com/articles/markets/082515/how-morgan-stanley-makes-its-money-ms.asp

Carl Icahn adalah pemilik Morgan Stanley juga yang sahamnya dibeli pada 2005. USD100 juta untuk 1,5 juta lembar. Beritanya ada di sini: (https://www.telegraph.co.uk/finance/2920762/Icahn-puts-100m-into-Morgan-Stanley.html)

Hubungan Morgan Stanley dan Carl Icahn bisa lihat di Youtube ini: https://youtu.be/h_pOMYwXSBM

Nah, fee arranger Morgan Stanley inilah yang tadi disinggung oleh Mas Dradjad Wibowo di ILC. Kalau mau jual beli rumah fee 2,5%, nah untuk transaksi ini berapa, belum dipublikasikan pemerintah.

HoA terjadilah 12 Juli 2018. Ramai beritanya. Soal binding (mengikat) atau unbinding (tidak mengikat), tidak terlalu penting. Yang penting ini. Soal Rio Tinto yang nanti akan mendapat uang tunai USD3,5 miliar (Rp49 triliun), CEO FCX Richard Adkerson berkata, Rio Tinto akan menerima, “a VERY ATTRACTIVE rate of return over time.” Sedangkan FCX yang menerima uang dari kita USD350 juta (Rp4,9 triliun), dia bilang, “Freeport made the business judgement to sell this small interest at a discount to help kind of break the logjam in the negotiations between the government and Rio Tinto. So WE PUT SOME MONEY ON THE TABLE to help facilitate this happening.” (https://marketrealist.com/2018/07/what-freeport-rio-tinto-and-indonesia-get-from-grasberg-deal)

Sedih sekali negara kita ini: elite di Jakarta menjadi benalu; pebisnis Yahudi menjadikannya spekulasi untuk ambil untung; makelar asingnya juga dapat fee; masyarakat dipecah belah opini pro atau kontra pemerintah; dijadikan bahan ledekan eksekutif perusahaan asing; kekayaannya diambil; pemerintahnya diancam-ancam; orang Papua ditembaki…Ujung semuanya: DUIT!

Semoga menyadarkan kita semua untuk bangkit. Menolak diadu domba dan dibodoh-bodohi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Catatan tentang Carl Icahn-Freeport Setelah ILC TV One | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: