Khayalan Rio Tinto yang Kita Beli

Monday, July 16th, 2018 - Opini Publik
Ada teman di Facebook yang minta soal Rio Tinto dibahas. Siap! Mumpung masih segar-bugar nih. Lihat bagan.
 
Begini analisis saya.
 
Rio Tinto itu ibarat orang yang mengkhayal, lantas khayalannya dibeli oleh orang lain, dengan harga puluhan triliun. Kok bisa? Ya, dalam market (pasar), banyak orang yang terlatih mengaturnya. Dalam dunia jual-beli khayalan, terdapat underwriter-underwriter kelas wahid.
 
Pada mulanya adalah smelter. FCX tidak punya duit untuk bangun smelter. Dia gandeng Rio Tinto. Bentuknya Joint Venture (JV). Hanya JV. Dia tidak tercantum dalam akta perusahaan sebagai pemegang saham!
 
So, Rio Tinto muncul karena FCX tidak punya duit bangun smelter. Lalu kepada Rio Tinto diberikan OPSI saham 40%. Opsi adalah hak untuk membeli saham yang akan direalisasikan pada 2022. KALAU kontrak karya diperpanjang (IUPK). Sekarang fakta saja: sudahkah smelter terbangun tuntas? Belum. Berapa duit Rio Tinto sudah keluar? Tidak tahu, tapi kemungkinan besar sedikit.
 
Ilustrasinya begini:
Perusahaan teman saya kesulitan uang. Tapi dia tahu bahwa ada orang yang ngebet mau beli perusahaannya itu. Dia bilang ke saya. “Gus, lu gue kasih opsi ya. Nanti orang yang mau beli lewat lu. Lu dapat segini, gue bagi segini. Oke?” Ya, pasti saya jawab, “Oke.”
 
Jadi, sekarang ini, Rio Tinto cuma pegang kertas, khayalan. Baru efektifnya 2022. Itu juga kalau kontrak diperpanjang oleh pemerintah Garuda. Rio Tinto ibarat burung yang nyawanya baru ada nanti tahun 2022, kalau pemerintah mengizinkan.
 
Datanglah Garuda kita. Punya duit tunai US$1,5 miliar (SPV Inalum). Plus, US$2,35 miliar, dari utang 11 bank BUMN dan swasta. Total dalam rupiah Rp53,9 triliun. Duit ini dipakai untuk 2 hal: 1) membeli khayalan (opsi) Rio Tinto; dan 2) membeli 5% saham FCX. Jadilah cantik untuk konsumsi pers nasional dan internasional: Garuda Rebut 51% Freeport!
 
Lihat sendiri. Akibatnya adalah:
1. FCX yang tadinya tidak punya uang jadi punya uang. Dari hasil pembelian 5% oleh Garuda. Belum lagi bagi-bagi dari Rio Tinto, tadi.
2. Rio Tinto jadi punya duit juga. Smelter belum selesai, duit baru keluar sedikit, dapat duit triliunan sekarang.
3. Garuda punya utang berikut bunga dan administrasinya.
 
Rio Tinto kan seharusnya urusannya sama FCX (yang saat ini masih kuasai 90,64% PT FI). Lah, kenapa dia sekarang jadi urusannya sama Garuda? Dapat duit pula.
 
Wajarnya kan begini. Freeport Indonesia (FI) menghitung seluruh kebutuhan untuk pengembangan bisnisnya ke depan. Termasuk kebutuhan untuk membangun smelter, bahkan tambang bawah tanah (yang kabarnya membutuhkan biaya US$20 miliar). Setelah itu diteliti, dikaji, dicek-ricek. Lalu FI terbitkan saja saham baru. Dan Garuda masuk sebagai mayoritas. Mendelusi FCX. Konsekuensinya: Duit akan masuk ke perusahaan. Duit akan digunakan untuk pengembangan perusahaan. Bukan untuk Rio Tinto!
 
Silakan kita renungkan. Masuk nalar tidak kita harus beli khayalan orang?
 
Oke, kita lanjut dengan logika kemenangan Garuda 51%. Sekarang Garuda mayoritas. Tapi Garuda punya utang Rp53,9 triliun. Dimulailah perbincangan tentang proyeksi bisnis perusahaan dan struktur biaya. Pertama-tama diajukanlah kebutuhan biaya untuk pengembangan bisnis termasuk membangun smelter, dsb itu. Mampuslah kita. Sebagai mayoritas, harus cari duit lagi. FCX dkk (bisa jadi Rio Tinto) bisa masuk lagi dengan dana baru dan mendelusi Garuda. Kan mereka pegang duit dari kita dan bisa dipakai lagi untuk mendelusi Garuda. Kita kan cuma pegang kertas dan utang.
 
Ini semua akal-akalan tingkat tinggi. Lihat kasus BUMI. Bedakan antara pemegang saham mayoritas dan pengendali operasional. Pemegang saham mayoritas biasanya cuma tahu ujungnya: laporan dividen. Ini pun laporan keuangan bisa diada-adakan, dibuat rugi terus. Kan pengalaman selama ini juga begitu. Sebaliknya pengendali operasional adalah yang tahu sehari-hari kondisinya. Kan sudah ada kabar-kabar tuh bahwa FCX minta komposisi 2/3 direksi. Dan pemisahan antara pengendali operasional dan pemegang saham terbesar ada dasarnya menurut peraturan standar audit internasional. Berdasarkan kesepakatan pihak-pihak. Lihat deh nanti prediksi saya ini betul atau tidak: FCX pengendali operasional; Garuda tahu di ujungnya aja. Tahu beres.
 
Sudahlah. Hentikan semua ini. Pada keterlaluan mainnya. Anak-cucu kita bakal menanggung “dosa” yang kita buat sekarang, sama seperti kita tersandera dengan perjanjian yang dibuat pemerintah kita dahulu tahun 1991.
 
Asli. Yang kita beli ini cuma khayalan orang, dengan duit utang bank. Jangan biarkan mereka-mereka yang fee-based income (makelar, arranger, lobbyist, pejabat yang bisa disuap, pembentuk opini, dll) mendapatkan manisnya gula-gula dari semua transaksi berbalut nasionalisme ini.
 
Semoga Pak Jokowi mendengar.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Khayalan Rio Tinto yang Kita Beli | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: