Grace Natalie PSI, Freeport, Pembodohan

Monday, July 16th, 2018 - Opini Publik
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie lewat akun FB-nya menyatakan mereka yang menyebut penjelasan pemerintah tentang divestasi saham Freeport sebagai “bohong”, “pembodohan”, “berlebihan”, “dungu”, dan seterusnya adalah pembodohan yang sesungguhnya. Mereka melakukan itu untuk mendelegitimasi pemerintahan Jokowi.
 
Meskipun saya tidak pernah menggunakan lema-lema tersebut untuk menuding pemerintah, tapi saya merasa perlu menanggapi ujaran teman saya semasa jadi wartawan tersebut. Grace — disadari atau tidak — berpotensi menyamaratakan semua pihak yang mengkritik divestasi Freeport sebagai delegitimator Jokowi. Grace bisa tersesat jauh dari semangatnya membangun partai muda yang ingin menawarkan pola sikap dan perilaku politik baru yang berbeda dari “generasi lama”.
 
Tidak semua pengkritik Jokowi sama dengan delegitimator Jokowi. Banyak yang mengkritik berdasarkan pertimbangan yang rasional dan faktual. Para pengkritik itu adalah orang yang ingin memenangkan akal sehat dan menguarkan nurani di tengah-tengah iklim politik kita yang kering ganas bin kerontang macam sekarang. Mentalitas fans yang membela secara membabi-buta pujaan hati, bertentangan dengan jiwa politik baru yang mau dia bangun.
 
Fakta bahwa Grasberg adalah tambang kelas dunia yang merupakan kekayaan bangsa kita, adalah tidak bisa dibantah. Tidak dipungkiri juga semangat kita semua untuk melawan kapitalisme yang merusak, yang merugikan bangsa kita. Tidak dibantah pula niat kita semua untuk memberikan kesejahteraan — terutama untuk Papua. Yang kita hujat adalah mereka-mereka yang memanfaatkan sentimen nasionalisme untuk meraup keuntungan pribadi/kelompok. Mereka yang munafik. Mereka yang berburu rente tapi berlagak bak pembela rakyat. Bisa jadi Jokowi tidak terlibat dalam detail permainan ini. Potensial pula beliau dimanfaatkan sebagai alat untuk para munafikun yang ingin mengail keuntungan sebesar-besarnya dengan cara secepat-cepat dan segampang-gampangnya. Mereka yang berkolaborasi dengan pebisnis-pebisnis asing, bankir-bankir, ekonom-ekonom, lembaga-lembaga keuangan, yang tampak memukau dari luar tapi berhati bengis untuk menyedot apa yang negara ini punya.
 
Masalah saya sederhana. Patutkah Negara ini via SPV Inalum berutang US$3,85 miliar (Rp53,9 triliun) dari bank untuk diberikan kepada: 1) Rio Tinto US$3,5 miliar; 2) Freeport McMoran Int’l US$350 juta? Apakah tidak ada pilihan yang lebih baik dari sisi politik maupun bisnis? Saya menduga ada pihak-pihak yang mau ambil untung dari “fee-based income”: makelar, lobbyist, bankir, petualang asuransi, lembaga penjamin, perekayasa angka keuangan, politisi…berbungkus jargon nasionalisme.
 
Saya mencium hawa kurang baik, niat buruk yang dibungkus rapi, dalam segenap proses yang menyertai munculnya kesepakatan terbaru (HoA) antara pemerintah dan Freeport (+Rio Tinto):
 
– Meskipun mengakui bahwa Grasberg adalah aset tambang kelas dunia, CEO Rio Tinto J-S Jacques dalam publikasi yang dirilis Februari lalu, menganggap Grasberg bukanlah “World-Class Business”. Dia membedakan secara fundamental antara World-Class Resources dan World-Business. Grasberg/Indonesia tidak seksi secara bisnis, karena tahun 2021 masih harus bergantung pada keputusan perpanjangan kontrak dari pemerintah. Dia membandingkan betapa tidak seksinya Grasberg dibanding aset Rio Tinto di Kanada yang dia sebut “World-Class” yang berbasis hidroenergi. “I will pick up the alumunium and you pick up Grasberg, Chris. If that’s okay.” Chris yang dimaksud adalah Chris Lynch, CFO Rio Tinto;
 
– Pemerintah membeli di harga persis yang ditawarkan Rio Tinto. US$3,5 miliar untuk 40% Hak Partisipasi atau sebut saja OPSI saham Freeport Indonesia. Pemerintah pernah memelas untuk meminta diskon 20% tapi ditolak. Padahal duit itu hanya untuk membeli OPSI beli yang baru efektif 2022, jika pemerintah menerbitkan IUPK baru buat Freeport. Yang mencengangkan lagi, meskipun sudah sejak 1996 ber-Joint Venture dengan FCX, tapi per 2017, nilai semua aset Rio Tinto di Indonesia (tidak hanya Grasberg), cuma US$1,45 miliar (Laporan Tahunan Rio Tinto, 2017)! Mereka belum melakukan produksi, baru berinvestasi pada hal-hal “kecil”: “the Operating, Technical, Exploration and Sustainable Development committees, and the Tailings Management board.”
 
– Pertengahan Februari 2017, Freeport mengirim peringatan resmi kepada pemerintah yang berisi daftar pelanggaran-pelanggaran pemerintah terhadap kontrak karya yang berpotensi dibawa ke pengadilan. Daftar itu mencantumkan kewajiban divestasi, smelter, pajak, royalti, termasuk jika tidak memperpanjang kontrak pada 2021, sebagai pelanggaran serius yang bisa dibawa ke pengadilan. Selain itu Freeport mengancam akan menarik rencana mengucurkan Rp280 triliun (US$20 miliar) untuk investasi tambang bawah tanah;
 
– Semua keputusan harus mendapatkan persetujuan pihak FCX-Rio Tinto. Plus, mereka sudah mendesak agar kendali operasional berada di tangan FCX pascarestrukturisasi saham. Saya dengar 2/3 posisi direksi sudah mereka minta. Artinya, meskipun sebagai pemegang saham mayoritas, sepanjang kendali operasional harian di tangan pihak lain, sangat berpotensi terjadi rekayasa laporan yang ujungnya merugikan kita. Silakan cek preseden buruk masa lalu tentang pembagian dividen dan divestasi yang tersendat-sendat.
 
Kesimpulannya terang. Bahwa duit Rp53,9 triliun yang diperoleh dari utang itu akan masuk ke kantong pribadi Rio Tinto dan FCX. Tidak masuk ke dalam kas perusahaan sebagai modal untuk pengembangan bisnis perusahaan (praktik yang wajar seharusnya begini). Untuk pengembangan bisnis perusahaan, bisa jadi akan dibebankan dan dihitung lagi nantinya, dan pemerintah/Inalum juga yang akan kebagian tugas menyediakan dana lagi dalam komposisi sesuai jumlah saham terbaru dimana kita sebagai mayoritas.
 
Jadi, jika para pengkritik Jokowi semakin keras berteriak meminta pembatalan HoA dengan Rio Tinto dan FCX, itu wajar. Mereka adalah nasionalis yang sesungguhnya. Mereka yang tidak ingin duit puluhan triliun yang bunga dan pokoknya akan membebani anak-cucu kita di masa depan itu, dimakan oleh para pencoleng-pencoleng munafik. Akal sehat dan hati nurani akan menang.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Grace Natalie PSI, Freeport, Pembodohan | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: