Teori Harga Emas untuk Beli Freeport

Saturday, July 14th, 2018 - Opini Publik

Posisi Perubahan Akta Terakhir PT Freeport Indonesia per 7 Juni 2017 (saya unduh 22 Maret 2018) adalah:

Modal dasar: Rp45,27 miliar; Jumlah saham: 227.490 lembar; Jadi: Rp199 ribu/lembar.

FCX (Freeport McMoran Intl)  punya 184.890 lembar/Rp36,79 miliar/81,28%; NKRI punya 21.300 lembar/Rp4,2 miliar/9,36%; PT Indocopper Investama punya 21.300 lembar/Rp4,2 miliar/9,36%. (Catatan: Indocopper sebetulnya dikendalikan FCX juga. Jadi sebenarnya, FCX menguasai 206.190 lembar/Rp41,03 miliar/90,64%).

Dikit amat modalnya? Ya, itu hitungan dulu waktu pertama kali didirikan. Tahun 1967. Waktu harga emas Rp270/gram. Jadi dengan duit Rp45,27 miliar waktu itu, ente bisa dapat 167,7 ton emas.

Bagaimana sekarang?

Saya pakai perbandingan harga emas. Sore ini harga emas Rp664.000/gram. Tapi mungkin setelah perhitungan rumit sana-sini dengan berbagai lobi dan negosiasi, asumsikan saja dapat harga Rp375 ribu/gram (di sini memang kuncinya. Berapa nilai Freeport sesungguhnya. Banyak ahli yang sudah menganalisis. Tapi hitungan saya segitu). Jadi 167,7 ton emas, totalnya: Rp62,8 triliun. Nah, segini berarti nilai modalnya sekarang. Total lembar saham 227.490 lembar. Jadi harga per lembarnya adalah (Rp62,8 triliun/227.490) Rp276,4 juta.

Kita pertegas lagi ya, jadi pemegang saham Freeport Indonesia adalah:

1. Dalam akta perusahaan di Kemenkumham

– FCX: 184.890 lembar/Rp36,79 miliar/81,28% = Rp51,1 triliun (nilai sekarang);

– NKRI: 21.300 lembar/Rp4,2 miliar/9,36% = Rp5,8 triliun;

– PT Indocopper Investama 21.300 lembar/Rp4,2 miliar/9,36% = Rp5,8 triliun.

2. Tidak dalam akta perusahaan

– Hak partisipasi Rio Tinto 40%. Sifatnya Joint Venture. Yang kalau dihitung dengan asumsi nilai sekarang kayak di atas (40% x 227.490 lembar = 90.996 lembar x Rp276,4 juta = Rp25,1 triliun).

Jadi (penting nih) pemerintah membeli hak partisipasi Rio Tinto 40% untuk kemudian dikonversi menjadi saham. Ingat, Rio Tinto tidak tercantum dalam akta perusahaan! Apaan tuh perjanjiannya FCX sama Rio Tinto? Begini saya kutip dari Laporan Keuangan FCX 2017:

After 2022, all production and related revenues and costs are shared 60 percent PT-FI and 40 percent Rio Tinto. Refer to Note 3 for further discussion of our joint venture with Rio Tinto (Setelah 2002 atau SETELAH KONTRAK KARYA BERAKHIR, penerimaan dan biaya produksi dibagi 60%-40% antara PT Freeport Indonesia dan Rio Tinto). “

Bagaimana pemerintah bisa dapat 51% saham Freeport Indonesia?

– Pakai dana US$3,85 miliar/Rp53,9 triliun (kurs 14.000). Dengan asumsi harga per lembar terbaru Rp276,4 juta, berarti ada penerbitan lembar tambahan sebanyak: 194.978 lembar.

– Asal dana: Holding Inalum punya tunai US$1,5 miliar. UTANG dari 11 bank BUMN maupun swasta sisanya, berarti US$2,35 (Rp32,9 triliun).

Posisi terkini berarti:

– Modal perusahaan: Rp62,8 triliun;

– Jumlah saham: 227.490 + 194.978 = 422.468 lembar;

– Harga satuan: Rp148.857.428/lembar,

Terjadilah delusi dengan perhitungan begini:

– FCX awalnya punya 184.890 lembar (81,28%), sekarang jadi pegang 44%;

– NKRI awalnya pegang 21.300 lembar (9,36%), sekarang jadi pegang 5%;

– Indocopper awalnya pegang 21.300 lembar (9,36%) sekarang jadi pegang 5%;

Total: 54% (227.490 lembar)

– Lalu bless. Masuklah Inalum tadi dengan 194.978 lembar saham baru alias 46%.

Jadi komposisi sekarang begini:

– FCX: 44%

– Indocopper: 5%

– NKRI (Inalum): 51%

Sampai saat ini, belum ada yang buka berapa jumlah dan harga per lembarnya saham Freeport Indonesia sebelum dan setelah akuisisi (yang banyak di berita cuma persentase. Tapi teori perbandingan harga emas saya tadi lumayan mendekati keterangan pemerintah).

Tapi?

Masalahnya begini:

1. Enak banget Rio Tinto. Berbekal hanya perjanjian joint venture, kagak ada di akta, “barangnya” laku segitu: Rp25 triliun! Padahal kalau 2022, Kontrak Karya tidak diperpanjang, atau dari sekarang tidak diperpanjang, tamat kawan satu tuh;

2. FCX rada bisa nafas. Kesepakatan dengan RI tentu melambungkan harga sahamnya di bursa luar negeri. Plus, inget, bahwa sekarang utangnya bisa dibagi ke pemerintah RI yang pegang mayoritas. Artinya kalau secara tanggung renteng, kita bakal lebih banyak menanggung utang perusahaan, karena saham pemerintah lebih besar. Jangan dipikir pegang banyak saham pasti banyak dividen. Banyak utang, malah iya;

3. Operasional tambang masih dipegang sono. Manajemen lama. Mereka yang paham teknologinya, mereka yang paham lapangan, karena sudah lama mengelola. Ibarat punya saham di warteg, wartegnya kita serahkan ke orang, kelihatan rame pembeli dari jauh kita pantau, tahu sendiri pas laporan dividen zonk. Ada aja alasannya. Ada tuyul lah, disembur saingan lah, dipalak aparat lah, biaya entertain kegedean lah, dsb. Udahlah, banyak konsultan yang bisa bikin laporan mengada-ada begitu;

4. Itu duit pinjaman 11 bank BUMN dan swasta sampai puluhan triliun begitu, yakin gak ada komisi/rente/kick-back-nya? Siapa yang menikmati? Udahlah, kita bisnis nalangin mata elang aja ada marginnya, apalagi yang begini. Tak usah munafik deh. Dapet utangan Rp32,9 triliun dari bank begitu, 10%-nya aja Rp3,2 triliun bos. Kalah E-KTP;

5. Kalau mau main kayu, tunggu 2022, sampai habis kontrak karya, 100% punya kita. Atau jangan perpanjang sekalian dari sekarang. Kagak keluar uang malah. Perkara, perkara deh di pengadilan. Ribet amat

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Teori Harga Emas untuk Beli Freeport | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: