Mental Sepakbola Negara Lain

Saturday, July 7th, 2018 - Opini Publik

Kumparan.com tulis kisah di balik sukses generasi emas Belgia. Ada sosok Michel Sablon, sang direktur teknis asosiasi, yang merevolusi sepakbola Belgia, sejak 2000 awal. Yang terpenting adalah kesenangan dan kebebasan bereksplorasi sejak pemain berlatih dini (umur 4 tahun). Kalau Anda berpikir bagaimana cara menang, lebih baik jangan main bola. Pergi saja mancing! Sekarang hasilnya 433-nya Belgia ngeri banget kan. Belgia tidak panik, tulis New York Times.

Karakter dan cara berpikir adalah kunci. Dari situ kebudayaan bola dibentuk. Kacaunya timnas adalah cermin kekacauan karakter bangsa. Negara-negara yang bolanya maju hari ini, melatih keras disiplin dan karakter itu. Sembari mengubah pola pikir dan perilaku, pun budaya bangsa, yang menghambat kemajuan timnas. 

Inggris sampai meneliti sejauhmana pekerjaan sang ayah berpengaruh terhadap mental dan cara main pesepakbola. 

Ketika Philippe Troussier jadi pelatih Jepang, dia bilang tugasnya bukan melatih pemain tapi mendidik 126 juta orang Jepang tentang apa itu sepakbola. 

Saat Hiddink jadi pelatih Korsel, dia ubah model susunan meja makan pemain supaya lebih menyatukan pemain muda dan pemain tua. 

Masalah Jepang dan Korsel mirip: budaya hirarkis yang terlalu kuat sehingga menyulitkan komunikasi pemain muda dan tua. Pun, bangsa itu dididik supaya menganggap sepakbola bukan sebagai fashion show semata melainkan adalah sesuatu yang harus keluar dari dalam hati. 

Tahun lalu Swedia juga benahi pola pikir dan budaya. Ada masalah ketika terlalu sering orang tua/dewasa berteriak-teriak dan memaki-maki di pinggir lapangan ketika anak-anak sedang berlatih. Itu mengarah pada pembentukan budaya yang buruk dan mengancam pembinaan bola di situ. Dibuatlah kode etik bagi setiap orang tua: “I, as a parent, will do everything I can to support my child, other children, club staff, referees and parents in training and at games – through a positive involvement.”

Swedia juga bangkit untuk memperbaiki masalah hubungan warga asli dan imigran. Ibrahimovic adalah keturunan Bosnia-Kroasia tapi warga negara Swedia. Bola mengikis masalah etnis semacam itu. Demi kejayaan timnas.

Jadi jangan dipikir urusan bola cuma urusan teknis pertandingan. Timnas Indonesia jalan di tempat ya salah satunya karena tidak ada pendidikan budaya yang bagus untuk 250 juta orang di sini. 

Ngenyek, cepat puas, tricky, feodal, korup, nir-jujur, dengki, sirik, malas, haus dipuji, berani karena bergerombol, gaya kodok (merayap ke atas dengan menendang/sodok kanan-kiri)…adalah beberapa hama paling menjijikkan dalam sepakbola kita. Atau mungkin dalam hidup kita secara umum di negara ini?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mental Sepakbola Negara Lain | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: