Soal Orang Indonesia dan Negara di Piala Dunia

Monday, July 2nd, 2018 - Opini Publik

Begitulah orang Indonesia. Lucu-lucu juga komentarnya soal negara-bangsa di Piala Dunia 2018. Dibilanglah Jerman kalah karena “karma” Nazi, dsb. Pandir betul.

Mesir, Arab Saudi, Iran kalah, dianggapnya sama dengan kekalahan Islam. Dipikirnya semua orang di wilayah Arab itu Islam. Kurang mengerti sejarah. Padahal sedari awal-awal Masehi sudah ada orang Yahudi dan Kristen di sana. Ada yang namanya Gereja Asia Lama (ada yang menjalankan salat 7 kali sehari) (Gereja Timur) yang meliputi Timur Tengah, Mesopotamia, Persia, dsb. Di Mesir pusatnya Koptik. Ada juga Gereja Syria. Aliran macam Nestorian, Yakobit, ada dari dulu di Arab. Zaman kalifah Al-Mahdi dan Harun Al Rasyid bahkan orang Kristen macam Timotius 1 dan Yohanes Damaskus sudah dialog santai-santai saja soal teologi dengan orang Islam.

Dipikirnya pula orang Jepang gak ada agama. Yang ada Shintoisme. Enak aja. Pernah ada yang namanya gunboat diplomacy (1853) yang membuat Jepang terbuka terhadap luar. Fransiskus Xaverius dari Serikat Jesuit pernah misi ke Jepang juga. Ada juga gerakan kristen Kingdom of God dari Toyohiko Kagawa (1920). Sampai 90-an adalah 2% orang Jepang menjadi Kristen.

Dipikirnya juga orang Jerman Nazi semua. Tahun 1828 ada namanya RMG (lembaga pekabaran injil Jerman). RMG ini pernah kirim utusan zending ke Kalimantan (1857). Sezaman dengan Perang Hidayat. Jadi bukan cuma Portugis (Katolik) dan Belanda (Protestan) doang yang ke Indonesia. 

Zaman sekarang dunia sudah berbeda. Orang-orang semakin beradab dan jauh dari kebencian SARA. Uruguay adalah negara yang terkenal zero dalam hal kekerasan agama dalam berbagai bentuk menurut PBB. 40,4% orang di sana gak beragama tapi percaya Tuhan (2006). 

Kroasia meskipun mayoritas Katolik tapi sejak 1969 sudah ada masjid di Gunja. Islam masuk ke Kroasia bersamaan dengan perang Kroasia-Ottoman abad 15-19. Di sana damai-damai saja. 

Pemain bola Kroasia intelek-intelek. Pernah sebelum main lawan Italia, beberapa tahun lalu, Zvonimir Boban diwawancarai oleh La Gazetta Dello Sport dia berkata buku pertama yang dia baca adalah Little Prince karangan penulis Perancis Antoine de Saint Exupery. Lalu dia tumbuh bersama bacaan dari penulis Rusia seperti Anton Chekhov dan Fyodor Dostoevsky; penulis Argentina Jorge Luis Borges dan penulis Kolombia Gabriel Garcia Marquez. Kepada Roberto Baggio, Boban menyarankan bacaan Siddharta karya Hermann Hesse, penulis Jerman. Kepada petinggi sepakbola Italia dia menyarankan baca karya Nietzsche, penulis Jerman.

Begitulah orang-orang hidup seharusnya. Sudah tidak zaman lagi berkelahi karena suku, agama, dsb, apalagi gara-gara ingin mencapai tujuan jabatan.

Nikmatilah Piala Dunia. Bacalah buku dan berkarya.

(Informasi di atas saya kutip dari tulisan-tulisan sejarah gereja, sejarah Islam, umum: Van der End, Berkhof, Tabari, Ibn Ishaq, Ibn Hisyam, Muir, Culver, Ricklefs, Bambang Noorsena. Soal sepakbola dari ESPN, dan buku Simon Kuper).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Soal Orang Indonesia dan Negara di Piala Dunia | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: