Strategi Propaganda Media ISIS

Thursday, May 24th, 2018 - Opini Publik

Amatlah sedih kalau masih ada saja kawan yang menganggap bahwa saat ini, di Indonesia, tengah terjadi perang antaragama. Dampak dari anggapan seperti itu sangat parah: hidup jadi terbelah antara kawan dan musuh. Kafir dan non-kafir. Alhasil, orang seperti itu begitu “permisif” menyikapi peristiwa semacam bom di Surabaya dan Riau beberapa waktu lalu.

Padahal, jika saja mau sedikit membuka pikiran dan merujuk sumber-sumber yang kredibel, situasinya tidak seperti itu. Apa yang sedang terjadi di Irak, Syria, Afganistan, dsb tidaklah bisa disamakan dengan situasi di Indonesia. Pun, berbeda jauh juga dengan apa yang terjadi pada waktu Perang Salib dahulu. Jauh berbeda!

Per malam ini saya baca di sejumlah media internasional, kekuatan Islamic State (dulu ISIS/ISIL, DAESH) di Irak-Syria melemah. Pasukan Syrian Democratic Forces/SDF, yang didukung AS dan sekutu, mengklaim kemenangan. Bahkan pemimpin IS Abu Bakr al-Baghdadi sejak pekan lalu diisukan tewas. Amerika Serikat dan sekutunya kini tengah bersiap memusatkan perhatian ke Afganistan. Balasannya: Gereja Ortodoks di Chechnya dibom, Sabtu lalu. IS mengklaim bertanggung jawab. Perintah bagi pengikut/simpatisan IS untuk melakukan Lone Wolf Attack di seluruh dunia juga dikabarkan beredar via internet.

Hipotesisnya begini: tidak ada perang agama saat ini di Indonesia. Perang memang terjadi di Timur Tengah dan belahan dunia lain, tapi dasarnya adalah politik: penguasaan sumber daya (ekonomi, politik, sosial), wilayah/teritori, untuk mendapatkan pengakuan global. Kelompok semacam IS menggunakan narasi agama hanya sebagai alat propaganda untuk meraih dukungan, dan tidak mewakili keseluruhan pandangan Islam di dunia ini.

Saya bicara dari sudut pandang media. Propaganda itu nyata sampai ke Indonesia melalui saluran paling favorit yaitu internet. Dimakan mentah-mentah oleh sebagian kalangan yang pada akhirnya rela menjadi bomber. IS sangat mahir dan profesional memainkan instrumen media. Mereka gunakan browser TOR, menerbitkan majalah Dabiq yang secara lay-out dan konten sangat bagus, menggunakan Just Paste It untuk menyebarkan paham (yang hingga sekarang belum diblokir oleh pemerintah Indonesia), menggunakan Twitter yang meskipun akunnya sudah di-suspend tapi masih bisa diakali lewat fitur search suspended share untuk rekrutmen, menyebarkan video via Youtube. Mengenai video, Anda ingat ketika pertama kali IS memproklamirkan sebagai negara? Yang tampil adalah seorang jihadis Chili, Bastian Vazquez/Abu Safiyya, host Al Hayat Network (jaringan media IS), dengan video berjudul: The End of Sykes-Picot. Bukankah itu merupakan strategi “public relation” yang terukur untuk memberikan pesan bahwa IS menyasar ekspansi tidak hanya di kawasan Arab tapi ke seluruh dunia, dengan memakai orang non-Arab dengan lafal yang terbata-bata. Pemilihan ayat dalam Alquran dan Hadits pun disesuaikan dengan kepentingan mereka sendiri.

Narasi apokaliptik, sektarian, dan prinsip kemartiran yang digunakan sebagai propaganda sangat kental rujukannya pada sejumlah buku yang sepertinya menjadi manifesto IS. The Management of Savagery (tulisan Abu Bakr Naji), Fiqh al-Dima/The Jurisprudence of Blood (Abu Abdullah al-Muhajir). Buku pertama sudah saya baca dan isinya tentang tahap-tahap perkembangan pembentukan Negara Islam, buku yang disusun serius dengan logika yang runut. Buku kedua, saya baca petikan-petikannya dari berbagai laporan. Buku Mujahid Guide (2015) secara detail menjelaskan tentang bagaimana mujahid harus berlaku di negara Barat, salah satunya ada bab yang mengajarkan bagaimana mengakali Imigrasi dan berlaku “normal” dengan busana berwarna cerah (jangan hitam) ketika bepergian. Latihan fisik juga diwajibkan berstandar pelatihan Al Qaeda: push up 70 kali satu setnya, sit up 100 kali satu setnya. Latihannya mulai dengan 10 kali dan ditambah tiga kali setiap hari. Termasuk cara memegang pisau dan gunting sebagai senjata (cara memegang senjata lebih penting dari senjata itu sendiri, begitu doktrinnya). Dan tentu saja menguasai beladiri orang Israel: krav maga.

Sebagian besar konten propaganda IS dasar rujukannya adalah dari buku-buku karangan ideolog jebolan Al Qaeda itu (IS awalnya adalah Al Qaeda cabang Irak/AQI). Misalnya pada 2015 muncul video Message of A Mujahid yang menampilkan jihadis dari Inggris, Abu Sa’eed Al-Britani. Di Just Paste It artikelnya berjudul: Kill The Kuffar in Their Own Land. Di situ diterangkan beberapa landasan “spiritual” salah satunya tentang “Killing women and children”, “Killing method”, dan “Doing Jihad without an Amir”, serta “Surrendering to the police”.

The best of all people to kill are those who work with the government, the politicians, those who have worked in the army, the police officers, or anyone else who has any links or ties to the government…” === Sasaran mereka adalah pemerintah dan aparatusnya yang mereka sebut thaghut. Toge dalam bahasa sandinya. Ketika pemerintah lemah, negara dikuasai. Mereka bisa membentuk sistem pemerintahan dan tata negara, termasuk memungut jizyah (semacam pajak).

Jadi jelas, ini semua dasarnya adalah kekuasaan politik untuk menguasai sumber daya. Penguasaan IS atas kota-kota di Irak dan Syria, misalnya, menjadikan IS berpenghasilan US$1 juta per hari dari perdagangan minyak sehingga mampu menggaji kombatannya US$300 per bulan.

Apakah “tetangga sebelah” tidak berpropaganda? Sama. Amerika Serikat dan sekutu juga berpropaganda. Dulu ada kisah bahwa pasukan-pasukan IS mendengarkan siaran BBC untuk memantau perkembangan berita, dan BBC pun pernah “digunakan” oleh AS dan sekutu untuk mengecoh lawan. Sama juga IS pernah menggunakan Al Jazeera sebagai alat untuk mengecoh lawan. Wikipedia juga dipakai oleh IS, yang beberapa hari ini pemerintah Turki menutup akses Wikipedia di negara itu karena ada naskah yang menyatakan Turki mendukung IS.

Perang memang menyebalkan. Darah menjijikkan. US Air Force (Foxnews) menyatakan per April 2017, 3.000 bom dijatuhkan untuk menghancurkan IS di Irak dan Syria, menyebabkan IS kehilangan wilayah di Irak, hanya menguasai wilayah kecil di timur Syria. April 2018, berkurang menjadi 254 bom. Bulan lalu, 562 bom dijatuhkan ke Afganistan. Ini adalah kekerasan yang tak pernah dijustifikasi oleh lembaga keagamaan mana pun.

Lagi-lagi ujung pangkalnya adalah perang. Perang terjadi karena manusia serakah berebut sumber daya yang terbatas. Kekerasan, teror, pembunuhan, kebencian adalah anak kandungnya. Sistem pendidikan nasional dan tatanan terkecil yakni keluarga, harus ditata ulang agar bisa menangkal dan mencegah efek “anak kandung” itu.

Semoga kita semua, apapun agama dan keyakinannya, bisa bersepakat: PERANG HARUS DIHENTIKAN!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Strategi Propaganda Media ISIS | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: