Hari Pendidikan Nasional Zaman Now

Thursday, May 3rd, 2018 - Opini Publik

Lebih dari satu abad sejak kelahiran Ki Hadjar Dewantara, bangsa Indonesia bukannya tidak mencapai kemajuan penalaran sebagai produk sistem pendidikan nasional.

Generasi sekarang, misalnya, sudah mulai meninggalkan anggapan bahwa rautan akan tumpul kalau ditiup; bulu ayam yang ditaruh di tengah buku bersama bekas rautan pensil kelak akan berkembang biak menjadi kemoceng; dan huruf “N” untuk melengkapi YOSAN sulit ditemukan karena disembunyikan setan.

Tantangan sekarang adalah tantangan milenial. Bagaimana membawa generasi muda untuk kritis terhadap tawaran “lulus kuliah langsung kerja” (persoalan kerja apa, gajinya bagaimana, dan anaknya mau tidak, urusan lain. Yang penting kerja) dan bukannya “lulus kuliah langsung kaya”; bisa menguak dasar rasional bahwasannya “beli properti tanpa utang” sama dengan “seni mengolah PPJB”; serta masih menaruh harapan besar bahwa dengan hanya mengandalkan kiriman foto, tanpa kontes maupun akuarium, bisa mendapatkan LC minimal sekelas Via Vallen.

Sistem pendidikan kita selayaknya mampu memberikan paradigma berpikir bahwa satu-satunya cara paling cepat dan murah untuk bersaing dengan para tokoh besar, pengusaha sukses dari berbagai belahan dunia di Forbes adalah dengan membuat PT. Cuma 15 juta, langsung jadi pemilik perusahaan. Mereka pemilik perusahaan, kita juga sama. Masalah berapa asetnya, soal lain.

Begitulah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Hari Pendidikan Nasional Zaman Now | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: