Sangat Konyol Berantem Karena Isu Medsos

Tuesday, May 1st, 2018 - Opini Publik

Kita harus paham betapa mahal dan berbahayanya perpecahan bangsa akibat isu SARA. Dan pangkal masalahnya adalah politik: politik yang kotor.

Kira-kira begini.

Apa yang dikejar dari politik? Kekuasaan. Untuk apa kekuasaan itu? Menguasai sumber daya negara, terutama ekonomi. Untuk apa ekonomi dikuasai? Untuk memperkuat kekuasaan politik. Begitu seterusnya.

Silakan tengok kanan-kiri. Kata orang sekarang zaman susah. Jualan susah. Bisnis susah. Uang cuma ada di negara. Berapa? Rp2.200-an triliun/tahun belanja negara. 5%-nya saja bocor, sudah Rp110 triliun. Menguasai negara, memenangi pemilu, berarti kekuasaan untuk mengelola duit ribuan triliun itu. Duit kita semua. Duit pajak mayoritasnya.

Selain menguasai pengelolaan uang, berkuasa berarti mengendalikan bisnis. Menguasai pengusaha. Instrumennya adalah regulasi, izin, tata niaga, dsb. Kalau mau “bermain” ya di sini. Impor garam beli 450 ribu jual 1.500.000. Impor daging beli 25.000-40.000 jual sampai 100.000 kalau hari raya. Beras, gula, dsb juga begitu. Dua tahun lalu ada pengusaha yang suap pejabat cuma 300 juta dapat kuota impor garam 220 ribu ton. Untung jelas: 200-an miliar, cuma gitu-gitu doang.

Kita dianjurkan menjadi pengusaha, berwirausaha. Tapi tengok-tengok dulu. Selama birokrasi masih cawe-cawe, pajak masih selangit, dan oknum pejabat berkecenderungan memalak, ampun deh. Sinyal bahaya ekonomi bagi saya bukan cuma nilai tukar dolar-rupiah. Kalau Indomaret saja yang paling liquid sudah mulai minta mundur bayar cicilan bank (saya dengar cerita ini sejak tahun lalu), itu bahaya, bagaimana yang kayak kita-kita ini; jualan batubara konon mulai bagus sekarang meskipun tidak seperti 10 tahun lalu ketika banyak orang tuker-tukeran kardus uang di ruang-ruang karaoke; sinyal bahaya juga ketika media gandrung memberitakan para profesional semacam dokter menjadi driver ojol (apakah ini berarti profesi dokter sudah tak lagi menjanjikan sehingga hanya dokter senior yang bisa main infus-infusan dan main mata dengan produsen obat saja yang makmur? Entahlah)

So, dengan semua potensi ekonomi negara yang menggiurkan untuk “dirampok” itu, sangatlah naif kalau kita terpecah sesama saudara sebangsa hanya karena perbedaan keyakinan.

Konyol pula berkelahi karena gempuran isu media sosial yang sebetulnya sangat mudah algoritma dan ongkosnya: 20 juta untuk trending topics, sekian juta untuk beli akun, sekian juta untuk fee manajemen, sekian juta untuk optimasi search engine, sekian juta untuk beli nomor seluler, sekian juta untuk bayar demo, sekian juta untuk Google Ads, Facebook Ads, dkk, sekian juta bikin infografis dan meme, sekian juta untuk video, sekian juta beli banyak domain, sekian juta endorse influencer, sekian juta menyusup ke grup-grup WA, sekian juta konferensi pers, sekian juta ghostwriter, sekian juta retain wartawan, sekian juta retain konsultan, sekian juta ongkos politisi menyuarakan kenyinyiran…Meskipun tak semua pekerjaan digitalisasi dan media itu buruk.

Semua ada hitungannya. Ada seni dan strategi anggarannya. Misal: ngegas opini saat ini ongkos mahal karena jelang Hari Raya. Tunggu habis itu saja.

Kekerasan di lapangan sekarang ini terjadi karena konsolidasi opini di dunia maya —- yang memancing atensi pers —- sehingga mempengaruhi emosi dan psikologi massa di dunia nyata. Paparan isu yang dipermak sana-sini dan ditelan mentah-mentah itulah yang jadi pemantiknya. Setiap momentum keramaian potensial ditunggangi, apalagi semacam Hari Buruh.

Poinnya begini. Zaman sekarang, haruslah kritis dan cerdas untuk mencari kebenaran. Yang masif belum tentu benar, yang sedikit belum tentu benar juga. Tengok-tengok dan ceklah kanan kiri. Semakin kita terbawa emosi dan berkelahi, semakin tercapai dengan mudah lah tujuan para petualang politik itu: berpesta pora tanpa pernah peduli apa artinya kesucian agama dan kerukunan di antara sesama sebangsa.

Meskipun saya banyak dosa dan tidak taat-taat amat beribadah, kali ini, percaya deh sama saya. Piss.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Sangat Konyol Berantem Karena Isu Medsos | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: