Fiksi Kitab Suci? Apakah Penting Berdebat?

Thursday, April 12th, 2018 - Opini Publik

Apa perlunya memidanakan kalimat “kitab suci itu fiksi”? Lucu-lucuannya begini. Apa kita mau keputusan fiksi-tidaknya kitab suci ditentukan hakim PN Jakpus? Lagipula, pelapornya pun harus pihak yang dirugikan langsung dan datang ke polisi untuk bikin LP. Susahnya di situ. Penulis kitab sucinya susah dihadirkan.

Tapi mungkin begini. Dari semua debat soal fiksi, fiktif, realitas, fakta dsb itu, yang hilang adalah soal MISTERI (mysterium) KITAB SUCI. Lihat KBBI. Misteri itu kenyataan luhur yang secara mendasar melampaui daya tangkap manusia, karena ia menyingkap sesuatu yang sifatnya adikodrati. Melihat misteri kitab suci tidak bisa dari kacamata politik tetapi dari kacamata iman. Menganggap kitab suci adalah sesuatu yang selesai dijelaskan oleh ilmu dan akal, sama dengan mendegradasi makna kitab suci itu sendiri.

Saya Katolik dan melihat kitab suci sebagai suatu narasi yang ditulis oleh berbagai orang dari berbagai zaman selama berabad-abad yang memuat satu benang merah yaitu pemenuhan janji keselamatan Tuhan melalui Yesus. Itu merupakan suatu pendakian spiritual untuk bergerak dari teks yang harafiah menjadi sesuatu yang bermakna rohani, untuk mencapai apa yang disebut sebagai persatuan mistikal dengan Tuhan (Karen Armstrong, Sejarah Alkitab).

Kalau debatnya cuma fiksi-fiksian dan kubu-kubuan, tentunya mubazir, karena sama sekali tidak meningkatkan mutu pendakian spiritual kita semua, apapun agama dan keyakinannya. Kita gak akan jadi manusia yang lebih baik jika pun si penutur itu dihukum penjara sampai mampus.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Fiksi Kitab Suci? Apakah Penting Berdebat? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: