Manuver Tanah Amien Rais

Thursday, March 22nd, 2018 - Opini Publik

Sebenarnya bisa juga begini.

Prof. Amien Rais (AR) itu kan selain politisi juga pengusaha, kepemilikan lahannya luas di Yogya, tahu juga seluk beluk bisnis tanah. Sangat paham. Tapi kita asumsikan saja semua niatnya baik buat menata keadilan agraria di Indonesia. Program Jokowi bagi-bagi sertifikat tentu juga baik untuk masyarakat karena memberikan alas hak kepemilikan yang kuat.

Pikiran sederhananya begini. Nilai tanah girik, AJB tentu beda dengan SHM. Program bagi-bagi SHM tentu mendongkrak harga pasar. Siapa untung? Masyarakat? Belum tentu. Pengalaman saya di Sleman dan mungkin juga terjadi di daerah lain, makelar dan elite kecil-kecil di desa yang menang banyak. Ada satu janda jual tanah 600 ribu/meter, dipasarkan calo yang juga dukuh di sana di harga 1,3 juta/meter. Pajak dll ditanggung janda, masih kasih komisi pula 2,5%. Makelar dkk menang banyak. Dari nitip harga dan komisi. Banyak yang begitu.

Di Indonesia, calo adalah raja. Makanya rajin impor.

Orang kecil terdesak pemodal kuat. Kepepet sakit, utang bank, bayar sekolah anak, nebus keluarga di tahanan (jujur saja, urusan hukum pasti keluar duit lah), dsb, alhasil sertifikat melayang. Begitu kenyataannya. Belum lagi sengketa warisan. Itu semua masalah yang lebih riil selain terjerat rentenir.

Jadi program bagi-bagi sertifikat baru satu langkah. Masih banyak tantangan lain di lapangan. Bagi pengusaha seperti Prof AR, minimal sekarang jadi agak mahal kalau mau akuisisi lahan.

Dari sisi politik, Jokowi menang banyak. Lihat potensi pemilih dari kalangan petani. BPS 2013 menghitung 26 juta petani. Saat ini saya dengar ada tim yang menghitung jumlah petani 45 juta. Ini 23% dari DPT Pilpres 2014. Salah satu faktor kekalahan Prabowo disinyalir kegagalan memobilisasi pemilih petani, padahal beliau kawakan di HKTI.

Oleh Jokowi, masyarakat/petani diberi sertifikat, diberi benih dan pupuk pula. Enak. Lihat sekarang banyak orang mendadak kaya dalam 3 bulanan dari tanam jagung. Banyak masyarakat senang. Makanya lempar sekop kemarin jangan dianggap becandaan. Ada politik ekonominya juga itu.

Soal penguasaan lahan oleh konglomerat, perusahaan, dan asing? Siapa juga tahu bahwa perusahaan gak bisa pegang SHM, orang asing juga. Jadi agak janggal kalau dibilang perusahaan dan asing kuasai lahan. Yang punya bank lahan paling banyak di Indonesia itu Sentul City, besutan Swie Teng, yang belakangan keluarga Tahir (Mayapada) masuk jadi pemilik juga. Totalnya 14 ribu hektare. Kedua, Sinar Mas, 6500 hektare. Lippo Cikarang yang punya Meikarta urutan 11 dengan 800 hektare. Ini fakta terbuka yang bisa dicek di bursa. 14 ribu hektare itu setara 140 juta meter persegi. Jumlah yang cukup, misalnya, untuk memastikan ketersediaan lahan makam bagi anggota parlemen pusat hingga daerah yang jumlahnya 20 ribuan orang/5 tahun, sampai 2000 tahun ke depan, alias setara umur Yesus.

Manusia dari tanah akan kembali ke tanah. Naturalnya begitu. Jangan coba-coba berniat buruk dan jahat dengan instrumen tanah. Kualat!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Manuver Tanah Amien Rais | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: