Mengapa Saya Kurang Sepakat dengan Kover Tempo

Saturday, March 17th, 2018 - Opini Publik

Saya berpikir cetek aja. Maklum bukan tokoh pers. Apa manfaatnya bagi kepentingan publik dengan memuat karikatur “kamu jahat” itu? Jika pesannya adalah kedudukan yang sama di muka hukum, kenapa tidak kupas saja pertimbangan dan kendala penyidik sehingga tidak menjemput paksa tersangka. Buat beritanya berimbang. Pasti FPI tidak demo.

Itu beda pendapat saya dengan teman-teman yang konon mengusung kebebasan pers. Boleh kan. Bagi saya karikatur itu menjurus olok-olok. Humornya kurang sedap. Persoalan demonya rusuh, itu urusan polisi lah kalau ada pelanggaran hukumnya.

Tapi begini deh. Lepas dulu urusan karikatur. Media massa bukan benda mati. Di dalam redaksi ada beragam orang. Setiap orang punya sejarah, pengalaman, keyakinan masing-masing. Saya pernah punya wartawan yang menolak menulis tentang Ahmadiyah karena menurutnya sesat. Ya ndak apa-apa. Tinggal saya yang gantikan ngedit aja, beres. Santai aja.

Apalagi sekarang, polarisasi tajam sekali. Ada yang buenciiiii banget dengan HRS dan FPI, ada yang suayaaaang banget. Sah-sah aja begitu secara pribadi, tapi ketika membuat berita, ya lepas dulu lah emosi pribadinya. Kalau saya tetap arahkan tim untuk menyebut Habib Rizieq (apalagi di judul) karena begitulah yang bersangkutan dan pendukungnya membahasakan diri, di bagian tubuh berita cukup ditulis Rizieq, dengan alasan efisiensi kalimat. Gak usah dibuat ribet.

Masalah kita sekarang bukan kekurangan orang pintar melainkan kekurangan orang yang adil sejak dalam pikiran. Suka atau tidak suka, FPI eksis, bukan ormas terlarang, massanya ada. Jadi ya simpel aja, apresiasi kalau melakukan hal positif, kritik kalau negatif. Begitu juga Ahok. Wartawan jangan berposisi fans atau haters lah.

Keadilan seperti itu semakin langka sekarang. Pemodal/pemilik media cenderung gak peduli. Ada pemilik yang bermain politik, medianya dibikin berpihak dan menyerang lawan. Ada pemodal yang butuh untung dari traffic, dibikin media bombastis asal banyak diklik. Dampaknya sama-sama merusak otak publik. Saya juga pemilik media tapi tidak ada urusan politik, tidak banyak diklik juga sih hahha. Yang penting niat baik aja.

Kepemilikan media itu sekarang sudah terkavling-kavling. Ada yang mengikuti “jalur sutera” seiring masuknya investor digital China, ada yang dari Amerika, pokoknya dari mana-mana. Konglomerasinya cukup dimiliki oleh segelintir tangan saja, yang dari situlah berita bisa mengikuti kehendak pemiliknya.

Ada saja elite dunia wartawan yang menikmati situasi ini. Banyak investor berarti peluang digaji besar. Medianya besar, berarti peluang untuk dekat dengan pejabat dan pengusaha. Ya, sah-sah saja sih. Namanya juga hidup.

Sekian dulu lah. Sudah subuh. Lanjut lagi nanti lain waktu. Tapi ada satu tebakan nih: karikatur macam apa yang akan muncul jika hakim yang dipimpin Artidjo Alkostar menolak PK Ahok dengan alasan putusan Buni Yani belum inkracht?

Piss

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Mengapa Saya Kurang Sepakat dengan Kover Tempo | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: