Catatan Saya tentang Bisnis Cina

Friday, March 2nd, 2018 - Opini Publik

Saya punya teman, teman sepermainan, eh salah. Teman bisnis, seorang eksekutif perusahaan besar nasional. Dia cerita tentang perubahan paradigma di kalangan konglomerat (WNI keturunan) yang intinya mereka semakin mendorong dan berpikir untuk berbagi kepada sesama rakyat Indonesia, karena bahkan katanya konglomerat itu bilang, “Harta tidak dibawa mati.”

Berbagi atau memberi itu, katanya, berasal dari kelebihan. Bukan kekurangan. Dapat 1000 perak, berbagi 200 perak. Begitu ilustrasinya.

Ada juga eksekutif perusahaan besar lainnya yang bilang, bagaimana pun, suka atau tidak suka, mereka ingin Indonesia yang damai, tenteram, stabil, tidak rusuh. Alasannya: hampir 100% bisnis mereka ada di Indonesia. Untuk itulah mereka merasa berkepentingan untuk Indonesia yang kondusif, masyarakatnya sejahtera supaya punya daya beli.

Saya pikir ini suara yang menggembirakan dan teduh. Saya sih meyakini bahwa ucapan itu tulus. Yang saya khawatir justru oknum pejabat yang memanfaatkan momentum ini dengan prinsip berbagi dan masuk kantong sendiri. Faktanya berita korupsi masih banyak aja.

Dari yang saya dengar dan alami sehari-hari, harus diakui, kecurigaan masihlah ada. Buktinya isu banjir pekerja Cina masih laku dimakan, isu penguasaan sumber daya nasional oleh Cina juga masih ada yang doyan. Bisa jadi memang ada persoalan akses keuangan yang tidak bisa dijangkau oleh sebagian besar masyarakat, yang hanya bisa dijangkau oleh orang dari kalangan tertentu. Ini tentu kritik yang harus diperbaiki juga.

Tapi begini saja. Niat baik itu modal berharga. Dan jika kita semua ingin ekonomi negara dan keluarga maju, sebaiknya curiga mulai dikikis pelan-pelan, komunikasi diperbaiki. Masyarakat yang hangat dan tulus adalah habitat kejayaan suatu bangsa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Catatan Saya tentang Bisnis Cina | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: