Munculnya Pemimpin Gila

Friday, February 23rd, 2018 - Opini Publik

Ada 400 ribuan orang dengan skizofrenia (ODS) di Indonesia, menurut riset Kemenkes 2013. Jumlah itu hampir sama dengan jumlah polisi di Indonesia. ODS kerap secara serampangan disebut orang gila. Mereka ada di jalan raya, toko, taman, dsb. Mereka mengalami gangguan psikologis berat: halusinasi, paranoid, dsb. Banyak riset menunjukkan ODS cenderung mengarah ke perilaku kekerasan.

Di negara beradab, ODS akan ditangani secara profesional dengan terapi kognitif maupun obat antipsikotik atas biaya negara. Keluarga dan lingkungan sekitar ODS akan dididik agar bisa menguatkan hati dan memberikan dukungan demi kepulihan mereka. Doa dan cinta kasih adalah cara orang beradab mencintai sesama yang ODS sekalipun.

Tapi di sini ODS jadi komoditas isu politik dan berita viral di media-media butut. Kasihan sekali. Mereka dicap sebagai PKI dan, karena mereka PKI berarti ateis, lantas karena ateis, maka lihat saja itu mereka menyerang ulama, seperti zaman Muso maupun Aidit.

ODS-ODS ini menjadi intro yang akan memunculkan seorang/kelompok yang nanti akan dinobatkan sebagai pahlawan dan karena mereka pahlawan, layaklah dipilih dalam pemilu dan akan membawa “kejayaan” seperti orde lalu: bensin 700 perak, layangan 25 perak, kacang Ginza 150 perak.

ODS menjadi bagian dari skenario besar yang memanfaatkan trauma sejarah bangsa ini. ODS adalah orang yang tidak cakap secara hukum untuk dimintai pertanggungjawaban. PKI adalah organisasi terlarang dan secara badan hukum tidak eksis, karenanya juga sulit mencari siapa yang bisa dimintai pertanggungjawaban hukum secara organisatoris. Ya masak tukang sablon palu arit disidik dan disidang. Cuma orang tolol yang akan mendirikan dan mendaftarkan partai berideologi komunis ke Kemenkumham saat ini. Dengan logika seperti ini, siapapun bisa dicap sebagai komunis dan membenci ulama dan karenanya layak digebuki.

Wahai wartawan, stop menulis mereka sebagai “orang gila”. Traffic, iklan, dan subscriber gak akan dibawa mati dan ditanya malaikat di akhirat. Berita viral gak serta merta bikin gaji sampeyan setara Gubernur BI. Janganlah berperan sebagai kru yang akan membuka layar bagi tampilnya “tokoh pahlawan” yang sukses menciptakan narasi fiksi tentang petualangan membasmi para penjahat. Kita jaga saja ulama supaya bisa mengajar kebaikan di mana-mana. Supaya negara ini teduh. Kita perlakukan ODS dengan cara seperti orang beradab merawatnya.

Lihat saja. Jika 400 ribu ODS itu dipolitisir oleh segelintir elite yang rakus kekuasaan, niscaya 400 ribu polisi kita juga bisa “mati gila” sia-sia melawan mereka. 400 ribu tentara kita juga bisa “mati gila”.

Dalam situasi kacau semacam itu, bisa jadi negara ini bakal dipimpin oleh orang gila. Dan ingat, orang gila ini yang membuatkan kita peraturan, menguasai tentara dan senjata, duduk di Istana, dan yang paling menyakitkan adalah mengatur jam berapa anak kita harus sekolah, buku apa yang harus dibaca, jam berapa tidur malam, berteman dengan siapa, media mana yang layak dibaca, membatasi jam operasional karaoke dan executive spa, dan sebagainya.

Ya, namanya juga pemimpin gila. Suka-suka dia lah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Munculnya Pemimpin Gila | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: