Izin, Saya Mau Muntah

Monday, November 20th, 2017 - Opini Publik

Lelaki yang baru saja ditahan KPK dalam keadaan tanpa benjolan di kepala sebesar bakpao itu adalah ketua lembaga perwakilan rakyat yang seharusnya gaji pokoknya cuma Rp5 juta (selain tunjangan dll yang jumlahnya 60-an juta) dan dikasih rakyat fasilitas kredit mobil per periode cuma Rp70 juta.

Malam ini wajahnya kelihatan memelas. Taruhlah itu tidak dibuat-buat. Tapi ingat, lelaki ini punya harta kekayaan Rp114 miliar (menurut LHKPN 2015), tinggal di salah satu rumah mewahnya di Wijaya Jaksel seharga Rp200-an miliar, punya empat rumah di Kartika Utama Pondok Indah yang jarang ditempati (menurut DetikX), punya mobil yang banyak dan genjreng harganya.

Dia ditahan untuk 20 hari ke depan (dan bisa diperpanjang lagi hingga pengadilan) sebagai tersangka kasus proyek KTP Elektronik yang bahkan sebelum tendernya dimulai sudah di-mark up Rp2,5 triliun dengan spesifikasi teknis amburadul dan duitnya dibagi-bagi kemana-mana (menurut Muhammad Nazaruddin); Rp2.000 per lembar dicatut untuk sejumlah pejabat dll yang jumlahnya sekira Rp500 miliar alias 11% dari nilai proyek (menurut dokumen FBI).

Negara sedang berhadapan dengan orang kuat yang telah menanam banyak “investasi” di segala lini pemerintahan, dengan menebar “hadiah” yang merata bak sinterklas.

Segala KEMUNGKINAN bisa saja terjadi: vonis pengadilan yang meleyot-leyot, berita media yang dikikir rapi, cara komunikasi polesan konsultan, fasilitas mewah di Rutan/LP, potongan hukuman yang bisa diatur, bukti-bukti yang “di-tip ex”, saksi yang dibuat-buat, ahli yang mengaburkan kebenaran, komposisi hakim yang diskenario — menunggu pensiun Mr. Artidjo pada Mei 2018 nanti untuk pengaturan tingkat pengadilan tertinggi, hingga keputusan lembaga politik yang mengada-ada, yang dibikin atas dasar halusinasi dan kebencian yang tak tertahankan.

Jadi, simpan dalam-dalam rasa iba Anda, salurkan untuk yang lebih tepat dan berhak. Jangan pernah mengasihani sesuatu yang sia-sia. Sayangilah hati dan ginjal Anda. Jika pun tidak kuat menyaksikan, tak ada larangan untuk muntah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Izin, Saya Mau Muntah | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: