Nenek Minah Lebih Ksatria Dibanding Papa

Friday, November 17th, 2017 - Opini Publik

Foto: Kompas

Namanya Nenek Minah. WNI asli, orang Banyumas. Dipanggil polisi dari POLSEK Ajibarang untuk disidik kasus pencurian kakao, datang. Tanpa pengacara. Dituntut jaksa, datang. Disidang di pengadilan, datang. Divonis 1 tahun 15 hari percobaan 3 bulan, datang. Jadilah terpidana. Tidak ada lari, ikhlas, dan — meminjam istilah PH (penasihat hukum) sang ketua — tidak merasa “diperkosa”.

Semua WNI sama di mata hukum. Bedanya, nenek ini jauh lebih ksatria dan berani dibandingkan bapak yang satu itu, yang tersangka korupsi E-KTP dengan predikat tahanan KPK.

Soal papa — sebutan kondangnya — saya punya kekhawatiran sendiri. Jika dia lolos lagi, hukum bisa dikelabui dengan drama dan rekayasa, itu adalah contoh paling sempurna untuk ditiru oleh masyarakat. Bayangkan. Polsek-polsek, Polres-Polres, akan kewalahan. Tersangka dipanggil, bisa lari, bisa melawan, bisa hilang.

Yang punya duit pakai kekuatan duit, yang punya ilmu kebal pakai ilmu kebal, yang punya massa pakai massa, yang punya celurit pakai celurit, yang punya senpi pakai senpi, yang ngerti hukum pakai pengacara. Apa saja bisa dipakai, yang penting tidak diperiksa, tidak ditahan.

Makanya sekarang adalah kesempatan besar buat Bapak Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk meletakkan catatan berlian sejarah penting negara ini, dengan profesional dan sungguh-sungguh mendukung upaya KPK terhadap bapak itu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Nenek Minah Lebih Ksatria Dibanding Papa | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: