Tempat Aman Setelah Tutup Alexis

Thursday, November 2nd, 2017 - Opini Publik

Semua juga berharap yang baik-baik. Menikah dengan pasangan baik-baik, berumah tangga baik-baik, mendidik anak dalam suasana yang baik-baik, hidup sejahtera, tanpa utang, utuh, mati, masuk surga.

Duit yang diperoleh halal semua: bukan korupsi, bukan potongan bagi hasil voucher PL (Pemandu Lagu), bukan hasil setoran perizinan yang mencongmencong, bukan hasil kickback proyek APBN, bukan hasil riba, bukan hasil potong jatah mesin jahit atau sapi orang miskin, bukan hasil utak-atik bukti perjalanan dinas, bukan hasil ngentit komisi kawan, bukan hasil goreng-goreng spek bahan bangunan, bukan hasil ngolah perkara, bukan hasil rebutan warisan, dsb.

Hidup lurus, jauh dari Martell, PL, dan selingkuhan. Kulit steril, tak pernah disentuh terapis. Hanya melihat helikopter di langit, bukan di dalam kamar. Benar-benar berpegang teguh pada imbauan yang ditempel di griya pijat: dilarang berbuat asusila. Zina mata, zina pikiran, no way! Apalagi berfantasi tentang Cungkok dan Uzbek.

Tapi, ya, cuaca orang beda-beda. Ada yang 4 musim, ada yang 2 musim. Hidup orang bermacam-macam. Ada hitam, ada putih, ada belang, ada abu-abu. Tiap orang punya masalahnya sendiri. Itulah hidup. Gagal dan sukses relatif. Apalagi kebahagiaan.

PL kerja sore pulang subuh. Mungkin di-grepe-grepe. Tidur pagi. Minum air kelapa ijo, susu beruang. Cek ginjal. Cek rekening apa tip betul-betul ditransfer tamu apa cuma tipu-tipu. Sore kerja lagi. Absen. Lihat perolehan voucher. Bayar cicilan baju. Pasang wig dan extension bulu mata plus rapikan alis. Kontes. Minum lagi. Begitu lagi. Kasak-kusuk berharap: kapan tiba waktunya ada koko yang mau nyimpen.

Saya paham, mungkin saja Alexis dkk salah secara aturan. Buktikan saja secara hukum. Mungkin saja PL, terapis, dkk tidak bermoral. Mungkin saja pelanggan/pengunjung adalah hidung belang. Tapi itulah hidup. Ada belang-belangnya juga. Permukaan bumi saja bopeng-bopeng. Tidak mulus-putih seluruh. Apa kita semua pasti jauh lebih bersih dan suci dari mereka semua? Jangan munafik.

Solusi masalah ini tidak sesederhana mengangkat karyawan sebagai supir eks mobil dinas DPRD. Karyawan Alexis 1000 orang, eks mobil dinas 56 biji. Tak semudah pula mengalihkan mereka menjadi karyawan hotel baik-baik yang belum dipastikan jumlahnya berapa. Situasinya sulit.

Ada pimpinan DPR meminta dibuka CCTV dan data pelanggan/pengunjung Alexis (Hal yang bagi saya oke saja, tak masalah, karena istri saya pun tahu saya bertamu juga ke situ. Alasan jelas: entertain klien). Apa hubungannya dengan inti masalah? Kenapa tidak meminta dibuka juga siapa saja pejabat yang terima setoran dari Alexis selama ini dan masih minta ditemenin PL gratisan.

Bagi saya, kalau ingin Jakarta bermoral yang hakiki, sederhana saja: larang semua aktivitas malam Jakarta setelah ganjil-genap berakhir, pastikan pintu semua kamar hotel di Jakarta terbuka sepanjang malam, dan pastikan semua suami-istri di Jakarta tidak ada masalah rumah tangga, masalah tekanan ekonomi, masalah stress sama sekali; pastikan juga tidak ada sedikit pun terbersit di pikiran untuk mencari “variasi” karena yang di rumah sudah tidak seperti 2-3 dekade lalu karena terlalu banyak terpapar asap minyak goreng. Pokoknya tutup semua celah yang memungkinkan laki-laki ke Alexis dan tempat-tempat sejenis.

Yang terpenting sekarang adalah mari semua lari ke Bigo. Dan Camfrog. AMAN.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Tempat Aman Setelah Tutup Alexis | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: