Copet dan Pribumi vs Non-Pribumi

Wednesday, October 18th, 2017 - Opini Publik, Rumor

Polemik pribumi vs non-pribumi sama sekali tidak ada gunanya buat kemajuan Jakarta. Buang ludah, buang urat saja. Copet-copet kelas atas Jakarta bakal senyam-senyum melihat betapa bodohnya kita diadu domba, sambil sarapan pagi di hotel bintang lima sembari Wasap selingkuhan dan janji belikan Hermes Himalayan.

Tidak ada pribumi vs non-pribumi dalam kamus dunia copet Jakarta. Kita tarik urat soal pribumi vs non-pribumi, mereka berkolaborasi: Pejabatnya, birokratnya WNI, kreditornya bule, pengendali saham perusahaannya campuran WNI dan keturunan, karyawan-karyawannya orang kita, konsultannya campuran, kuasa hukumnya lokal, yang jaga lokasinya jagoan sekitar, supplier barangnya dari beragam suku bangsa, “komisionernya”, pengharap komisinya, dari berbagai penjuru mata angin. Apapun aliran genetiknya, apapun kolom suku dan agamanya, tujuannya satu: uang dan untung. Begitu.

Makanya prediksi saya sulit bagi gubernur baru buat menyetop reklamasi. Kolaborasinya sudah begitu mengakar dan sudah terlalu banyak yang merasakan nikmatnya gula-gula dan jauh lebih banyak lagi yang mengharapkan kecipratan gula-gula juga sambil memandang brosur Lexus terbaru.

Moral status ini adalah jangan karena kita terlalu bersemangat berdebat pribumi vs non-pribumi menjadikan kita lupa bahwa tiap pagi dan sore masih banyak dari kita yang ngotot-ngototan di jalan raya, tindih-tindihan di kereta, pulang ke rumah masih pusing ditagih cicilan oleh “sahabat di kala suka dan duka” yaitu debt collector bank dan leasing, paket kuota buat curhat di medsos sudah menipis; sementara kolaborator-kolaborator tingkat atas yang peduli setan mau pribumi atau non-pribumi, menangguk untung kali banyak kali sering dari kekayaan alam negara ini.

Ah, Jakarta memang ruwet. Aku ingin pindah ke Depok Dua!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Copet dan Pribumi vs Non-Pribumi | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: