“Cerita Rakyat” tentang Korupsi Ibu-Anak

Sunday, October 8th, 2017 - Opini Publik

Aditya Moha, politisi Golkar yang ditangkap KPK karena diduga menyuap hakim yang menyidangkan perkara korupsi sang ibu (Kompas)

Anak ditangkap karena diduga menyuap hakim yang akan memutus perkara korupsi sang ibu. Anak merasa dia telah berbakti kepada ibu.

Ibunya, yang pejabat itu, diduga korupsi dan menggunakan uangnya untuk mendidik dan membesarkan anak hingga mencapai jabatan “yang terhormat”. Ibu merasa dia telah bertanggung jawab terhadap anak, pun mengantar sang anak ke gerbang “sukses”.

Kelak, jika itu semua diceritakan turun temurun ke anak cucu cicit, dalam cara pandang yang korup dan picik, anak-anak Indonesia akan mempelajarinya sebagai cerita rakyat. “Kearifan lokal”.

***

Pilihan untuk main di banding memang logis. Masih bisa utak-atik bukti, sidangnya kagak terbuka, berkas gampang dikawal – apalagi terdakwanya jagoan di daerah, wartawannya sudah lupa, LSM sibuk sama kasus lain lagi; tahu-tahu putus aja. Kalau jaksanya mau bekerjasama, ya sudah sampai di banding aja; tinggal main di remisi, asimilasi dsb di Pemasyarakatan.

Cost terukur. Bisa bebas cepat. Kalau mau korupsi lagi juga masih terbuka lebar kesempatan.

Kalau gak sering-sering lihat Youtube bahwa di atas tanah kerak bumi yang kita pijak ini, yang tebalnya cuma 100 km, dan ternyata ke bawahnya lagi masih ada lagi lapisan tanah yang lebih dalam lagi sampai ke inti bumi; yang artinya kita manusia itu kecil banget, saya juga mau tuh korupsi kayak gitu biar kaya raya. Tapi untungnya gak.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

“Cerita Rakyat” tentang Korupsi Ibu-Anak | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: