Afi dan Mita: Plagiat?

Friday, June 2nd, 2017 - Opini Publik, Rumor

Niat saya belajar. Pakai akal sehat. Fakta.

Mengenai polemik tulisan Afi dan Mita — mungkin juga dalam hal lain — sebaiknyalah kita menghindari penilaian pribadi yang berbasis pada prasangka dan label. Misalnya, logika seperti ini: tulisan itu tidak sejalan dengan pandangan saya maka tulisan itu salah. Begitu pun sebaliknya. Tulisan itu benar karena sesuai pandangan saya.

Pendeknya: jangan menilai sesuatu berdasarkan selera pribadi semata.

Kembali ke topik. Ada beberapa poin penting:

HAKIKAT INTERNET
Mediumnya adalah internet. Facebook. Apa itu internet? Bagaimana dia bekerja? Untuk masalah ini saya merujuk pada tulisan Awan Puryadi (Lulusan magister program Law and Information Society, University of Turku, Finlandia) di Gresnews.com yang berjudul “Dilema Penegakan Hak Cipta Dunia Internet“. Silakan disimak sendiri, terutama perkembangan kultur RO (Read-Only) dan RW (Read and Write). Ada masalah penting mengenai hukum kekayaan intelektual di sana.

“Modifikasi” adalah kata penting dalam praktik berinternet ria. Dalam dunia jurnalistik media daring misalnya, kerap ada istilah “nyuntik“, “nyetting“. Konten saat ini bisa ditampilkan mundur secara waktu (nyuntik). Konten ke depan, bisa di-setting dari sekarang (nyetting). Dalam tradisi media cetak hal ini tidak ada. Media cetak “sebatas” praktik “nyetok” berita.

Kenyataannya, Facebook menyediakan fasilitas “modifikasi” waktu. Meskipun sudah diantisipasi potensi penyalahgunaannya dengan fitur riwayat perubahan.

Perlu kecermatan melihat mana yang lebih dahulu dari yang lain dari kacamata pemuatan: “Agama Kasih“-nya Mita atau “Belas Kasih dalam Agama Kita”-nya Afi?

Adakah potensi kegiatan modifikasi di situ?

KEDUDUKAN PELAKU
Akun harus merujuk pada subjek hukum yang jelas di dunia nyata yang dibuktikan secara faktual. Keberadaan suatu akun tidak serta merta menunjukkan subjek hukum di dunia nyata. Banyak kita lihat fenomena akun palsu, akun anonim, akun dll yang pada intinya tidak merujuk pada identitas subjek yang jelas.

Saya punya pengalaman ketika diminta membuktikan oleh penyidik bahwa sayalah pemilik Gresnews.com, dalam penyidikan kasus ITE di Polda Metro Jaya. Membuktikan juga bahwa akun Facebook dan Twitter Gresnews adalah “kepunyaan” saya. Pembuktian harus jelas, tidak bisa katanya-katanya saja. Maka saya bawa bukti akta perusahaan, pendaftaran HAKI ke Kemenkumham, pendaftaran domain PANDI, NPWP, dan bukti elektronik lainnya, dsb.

Polisi memiliki cara dan teknologi sendiri untuk pembuktian bahwa suatu akun merujuk pada subjek hukum tertentu. So, identitas Afi dan Mita harus jelas dulu dalam kenyataan, bagus lagi di mata hukum. Jangan kita memperbincangkan sesuatu yang hulu subjeknya tidak jelas. Siapa Afi? Siapa Mita? Adakah rujukannya di dunia nyata? Cakapkah untuk berkedudukan sebagai subjek hukum?

PLAGIAT VS HAK CIPTA
Teliti pada istilah. Saya merujuk sumber bebas Wikipedia yang membedakan istilah “Plagiarism” dan “Copyright Infringement” pada sub yang membahas Legal Aspects. Plagiarisme merujuk pada aspek moral, semacam serangan moral terhadap para pemirsa karya. Pelanggaran Hak Cipta merujuk pada hukum positif tentang Hak Cipta (hak eksklusif yang diberikan kepada pencipta…). Konsekuensi sanksi/hukumannya berbeda.

Untuk memahami dalam konteks hukum Indonesia, baik disantap artikel di Hukumonline.com berikut ini, termasuk untuk memahami hal-hal apa saja yang dikecualikan: Menghindari Pelanggaran Hak Cipta dalam Menulis.

Pemahaman ini penting supaya kita semua tidak pandir melihat persoalan sebagaimana kutub yang berhadap-hadapan. Afi=liberal vs non-Afi=tidak liberal.

ESENSI BERKARYA
Apa itu mencipta? Bagaimana itu proses kreatif? (Dalam hal ini saya tidak membahas argumen bahwa manusia tidak mencipta, Tuhan Maha Pencipta, tak ada diskusi kalau begitu).

Miliaran lagu di dunia ini tercipta hanya dari 7 nada (C-D-E-F-G-A-B) atau 12 nada (C-C#/Db-D-D#/Eb-E-F-F#/Gb-G-G#/Ab-A-A#/Bb-B) dengan segala variannya. Mayor, minor, minor harmonik, minor melodik, dsb. Ada oktaf, interval, kord, arppeggio, riff, lick, dan istilah lainnya yang “disepakati” sebagai bagian dari pembentukan musik.

Sampai saat ini pun polemik masih mengemuka mengenai dalam kondisi apa suatu lagu disebut plagiat? 8 bar? 2 bar? Atau teori “Substantial Part“.

Tahun lalu juri pengadilan di AS memenangkan Led Zeppelin dalam perkara pelanggaran hak cipta intro lagu “Stairway to Heaven” yang diajukan oleh Randy Wolfe dari grup Spirit. Argumennya bisa disimak di sini:

Berkarya adalah proses kreatif, termasuk menulis. Sumber/inspirasi bisa dari mana saja. Adakah yang murni orisinil? Dalam arti mencipta dari sesuatu yang tidak ada sama sekali? Saya dalam posisi: tidak.

Dalam konteks tulisan Afi dan Mita yang ramai beredar sebetulnya tudingan copy-paste (karena sama kata-kata dan susunannya dan hanya berbeda tiga paragraf akhir). Beberapa screenshot-nya saya lihat terpampang di situs-situs informasi Islam. Apakah Afi copas plus? Saya merekomendasikan cek-ricek poin “Modifikasi“, “Plagiat vs Hak Cipta”, dan “Kedudukan Pelaku” seperti disebut di atas.

MASALAH KASIH
Agak melenceng sedikit. Tulisan Afi menjadi perhatian juga salah satunya karena, menurut saya, penggunaan terminologi “kasih“, suatu hal yang selama ini lekat diasosiasikan dengan tradisi dan ajaran Kristiani. Afi — jika terbukti memang dia menulis itu —menggunakan terminologi “kasih” untuk memberikan konteks terhadap agama Islam yang mengajarkan esensi dari “kasih” itu, terutama dalam hubungannya dengan konteks sosial kemasyarakatan.

Jika kita berpikiran terbuka dan tanpa prasangka, sebetulnya itu adalah semacam tantangan bagi para pemikir/intelektual, tokoh agama Islam untuk mengkaji lebih jauh masalah apakah esensi dari kasih itu juga termaktub dalam ajaran Islam. Ini sekadar pendapat saya saja. Mungkin tradisi Islam juga mengenal hal dengan esensi yang sama tetapi dalam istilah yang berbeda.

Dalam konteks kekristenan sejauh yang saya cerna, hukum kasih itu juga berkembang sesuai zaman. Hukum tentang kasihilah sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (berkembang pada masa awal kekristenan dan masih kental dengan aspek kedirisendirian) dan menaik derajatnya menjadi kasihilah sesama seperti Allah mengasihi kita semua (menjadi lebih sakral karena menjadikan hukum mengasihi sebagai wujud dari manusia sebagai citra Allah yang memantulkan sifat kasih Allah juga).

Pendeknya, dari polemik Afi ini seharusnya kita semua dari tradisi agama apapun sama-sama belajar bagaimana menetapkan tujuan kemanusiaan untuk membangun peradaban hidup bersama yang lebih baik.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Afi dan Mita: Plagiat? | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: