Tips Mencegah Cuci Otak: Lawan Teror!

Friday, May 26th, 2017 - Dapur Berita, Opini Publik, Rumor

Corat-coret saya sebagai tips untuk mencegah cuci otak:

(I)

1. Berdoa kepada Tuhan. Mohon perlindungan, kasih, dan iman

2. Betul. Jangan sebarkan lewat apapun juga foto/video/etc yang menimbulkan efek psikologis negatif. Ingat, penyebaran info sesat, gambar vulgar, video penuh darah dan kematian, adalah bagian dari skenario pelaku yang sudah direncanakan

3. Perbanyak posting yang positif, tentang solidaritas, bahu membahu antar sesama, persaudaraan, dan perlawanan terhadap teror

4. Baca informasi dari media-media yang jelas, kredibel. Gak berguna banyak baca dari mana-mana, karena itulah tujuan diciptakannya kekacauan sosial pasca teror. Apalagi cuma berita “katanya-katanya”

5. Jika diperlukan, bersihkan pertemanan di medsos. Buang akun-akun penebar kebencian, blok kuat-kuat. Laporkan ke Facebook, Google, dsb agar dihapus akun dimaksud. Gak usah terpancing broadcast  WA, chat, dsb. Lebih bermanfaat follow akun tips cara memelihara ikan gapi ketimbang akun sok cerdas tapi beringas. Blok, matikan kehidupan website-website penebar benci dan teror dengan melaporkannya ke asosiasi domain, OTT (Google, FB, dsb), asosiasi ISP, pemasang iklannya, etc

6. Jangan dengarkan, abaikan analisa pengamat dan politisi atau makhluk-makhluk sejenisnya yang menggambarkan konspirasi. Percayalah, tiada guna buat hidup anda selain itu merupakan pintu masuk pencucian otak. Memviralkan kebodohan. Memenjarakan kehidupan anda yang seharusnya bahagia itu sebatas urusan politik bin pilkada

7. Jika ada media tertentu yang terlihat/cenderung mengipas opini, melakukan framing tertentu, stop seumur hidup mengkonsumsi informasi dari media dimaksud. Laporkan ke Dewan Pers jika memungkinkan

8. Terserah agama anda apa, suku anda apa, golongan anda apa. Yang jelas satu prinsipnya: jangan pernah terpancing diadu domba gara-gara menelan informasi dan “fakta” sesat

(II)

Bagaimana cara mengidentifikasi media sampah atau bukan di internet?

1. Lihat laman about us/tentang kami, cari nama badan hukumnya (PT apa, dsb). Jika tidak ada, jelas bukan pers atau minimal meragukan

2. Jika tercantum, cek pemilik perusahaannya di website Ditjen AHU. Jika ingin meminta salinan aktanya, ada panduannya di situ

So, tak usah pusing debat soal konspirasi politik, analisis sok tahu, halusinasi elite, dsb. Yang sederhana saja: apa badan hukumnya.

Jadi terang. Website yang cuma mengandalkan judul bombastis, foto edit-an; bumbu-bumbu rasis dan sejenisnya, tanpa mencantumkan identitas pengelola, copas sana-sini dan bermasai-masai dengan sentimen primordialisme, adalah sangat layak dimasukkan ke tong sampah dan jangan pernah dikonsumsi.

Ingatkan teman, keluarga, sahabat yang kerap membagikan tautan dari situs-situs sampah tersebut.

Mulailah mencatat, mengingat-ingat narasumber-narasumber yang pandangan/pendapatnya belepetan, konspiratif, memanas-manasi, meneror pikiran, dsb. Jauhkan makhluk semacam itu dari kehidupan anda.

Otak kita cuma satu. Jaga baik-baik.

(III)

Bagaimana sebenarnya pembangunan (pengarahan?) opini, kebangkitan sentimen, penyesatan informasi melalui medsos dan pers berlangsung sebagai bagian dari sebuah gerakan politik?

Kata kuncinya adalah: percakapan!

1. Sudut pandang (angle) dibangun. Acuannya adalah ideologi, kepentingan macam-macam, etc. Sudut pandang dipegang sebagai panduan untuk menilai peristiwa/fakta. Biasanya, fakta dipendam, opini (yang sesuai ideologi/kepentingan) yang ditonjolkan. Deretan narasumber dan bahan “berita” sudah disiapkan.

2. Percakapan dibangun. Topik di medsos bisa menjadi berita. Berita bisa diviralkan via medsos. Hubungan timbal balik. Percakapan awal dibangun di “internal” pelaku, sebelum direspons masyarakat luas lewat share, like, rewrite, dsb.

3. Percakapan luas menghasilkan atensi luas yang serta merta diarahkan sebagai “fakta”. “Fakta” yang jelas diarahkan sesuai kepentingan.

4. “Fakta” tadi dibubuhi dengan sentimen psikis (bisa ideologi, bisa primordialisme, bisa apa saja yang mudah menyentuh batin sasaran). “Fakta” menjadi kepercayaan. Kepercayaan menjadi way of life. Menjadi bahan ajar untuk keturunan.

Begitulah rekrutmen gerakan dan proses cuci otak berlangsung.

So, selektiflah bercakap-cakap tentang suatu topik di media massa. Selektiflah membagikan tautan apapun di akun anda.

Jangan mudah terperdaya dan percaya tampilan luar, ujaran manis, dan segala macam janji yang melenceng dari akal sehat. Pakai akal, jangan cuma emosi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Tips Mencegah Cuci Otak: Lawan Teror! | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: