Revolusi Toilet

Wednesday, May 24th, 2017 - Opini Publik

Baik juga disimak kata Margaretha Sih Setija Utami, dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, peminat psikologi kesehatan, di rubrik Opini Kompas hari ini. Ternyata persoalan bangsa Indonesia saat ini bisa jadi berakar dari masalah pembelajaran toilet semasa kita kecil, yang tidak beres.

Ada landasan teori psikososial dari Erik Erikson. Jadi tidak asal bunyi.

Erik Erikson menyatakan, seorang anak sangat tepat belajar toilet training di usia 1,5-3 tahun. Pada saat itu anak akan belajar kapan dan di mana melepaskan hal-hal yang dianggap kotor oleh lingkungan tetapi harus dilakukan karena tubuh sudah harus membuangnya. Kalau anak berhasil belajar toilet training ia akan punya autonomy yang tinggi dalam kehidupannya. Autonomy di sini diartikan sebagai kemampuan mengendalikan kehendak diri sendiri tanpa menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman lingkungannya. Anak yang tidak berhasil belajar toilet training akan mengalami rasa malu dan ragu-ragu dalam hidupnya.”

“Toilet training mengajari anak untuk menyadari apa yang dirasakan dalam tubuhnya, dan merencanakan kapan hal yang tidak mengenakkan tersebut harus dikeluarkan tanpa merugikan orang lain. Dalam toilet training anak akan belajar bahwa dirinya tahu tentang kondisi sendiri dan kondisi lingkungan, belajar bahwa dirinya bisa mengendalikan diri sendiri, dan dia belajar bagaimana membuat orang lain menjadi bahagia.”

“Toilet training yang tidak berhasil juga memengaruhi perkembangan psikologis dan sosial individu tersebut. Dalam kehidupan orang dewasa saat ini, kita bisa membaca di media sosial banyak orang yang tidak paham kapan mengeluarkan rasa tidak enak dalam dirinya secara tepat. Media sosial menjadi “sungai” tempat primitif kita membuang kotoran tanpa memikirkan bahwa apa yang kita keluarkan dapat “menularkan penyakit” bagi orang lain. Banyak kata kotor yang berasal dari kekesalan dalam diri yang kemudian dikeluarkan sembarang tempat dan waktu. Pelaku merasa benar karena orang lain juga berbuat hal yang sama.”

Tulisan yang sangat segar dan waras! Mengingatkan kita semua bahwa hidup tak sekadar jongkok dan mengejan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Komentar

Revolusi Toilet | Agustinus Edy Kristianto | 4.5
error: